Sesungguhnya masih terlalu dini untuk memulai perdebatan di pagi yang sedikit mendung. Terlebih hilir angin di balik dinding bangunan berlomba mengarak, menghempas apapun yang menghalangi gelombang amuknya. Seakan badai tengah menerjang meski kenyataan bangunan tersebut tidak terletak di ambang bibir pantai.
Beberapa pengawal yang berjaga di sepanjang Kerajaan serta para dayang yang hilir mudik menunaikan tugasnya, acap kali merunduk. Bergidik ngeri dengan amukan angin. Berdoa dalam hati untuk tidak menyentuh diri mereka, terlebih menerbangkan tubuh mereka ke angkasa.
Tidak bermaksud berlebihan, tetapi bila melihat bagaimana gugusan angin menghempas serasah daun dan menghempas beberapa ranting pohon. Cukup ampuh untuk menghentak logika mereka, menginstruksi langkah kaki kemudian berlari ke dalam bangunan demi melindungi diri. Jika tugas tidak mengharuskan mereka tetap beraktivitas sebagaimana mestinya.
Berbeda dengan kekalutan yang mereka hadapi di luar. Sementara di dalam, tepatnya di Balai Istana, perdebatan sengit antara para petinggi berbusana gwanbok merah, biru dan hijau nampak begitu bergairah. Saling menuding dan membentak, kerap kali tangan ikut andil dalam menggebrak meja.
Mereka seolah menciptakan dunia sendiri, menghiraukan kekacauan di luar serta mengacuhkan dua pasang penguasa Kerajaan Goguryeo. Sang Raja serta Putra Mahkota hanya terdiam membisu menatap malas perdebatan tersebut.
Jemari telunjuk Kyuhyun menekan lengan singgasana, hela napas panjang berulang terlempar dari celah bibir. Dia mengalihkan pandang, menatap Yunho yang sedang menyibukkan diri dengan gulungan kertas di sepasang tangan.
"Wanggeonim," panggil Kyuhyun mencoba meraih fokus ayahnya. Yunho menoleh, menilik wajah Kyuhyun dengan alis saling bertaut, "Izinkan saya untuk undur diri dari pertemuan ini, Wanggeonim."
Yunho menegakkan bahu, menghela napas sebelum menggelengkan kepala. "Tidak bisa Jeoha. Keputusanmu cukup berpengaruh dalam rapat kali ini." Yunho mengalihkan pandang, kembali fokus pada gulungan kertasnya.
Kyuhyun berdecak pelan, nyaris mengumpat bila tidak menyadari posisinya.
"Wanggeonim –"
"Cukup duduk dan berikan keputusanmu. Kau sama sekali tidak diperkenankan untuk meninggalkan ruangan sebelum rapat usai. Paham?" tegas Yunho sambil menatap tajam putranya.
Kyuhyun mengangguk satu kali, tentu saja dia akan mematuhi ultimatum Yunho jika tidak ingin beradu pedang dengan sang ayah. Ayahnya sosok yang cukup diktator meski tidak sebengis dirinya. Cukup tangguh dalam memimpin perang, namun tidak dengan sisi kemanusiaannya.
Yunho masih dapat berpikir dua kali dalam mengambil keputusan membunuh atau membiarkannya lari. Berbeda dengan Kyuhyun yang tidak peduli dengan keadaan sekitar.
Tidak ingin membuang waktu untuk berpikir dua kali, begitu bertemu musuh. Pedang yang tergenggam tangan merangsek melukai tubuh tersebut. Mengambil paksa detak kehidupan dari si musuh.
Tidak heran bila mereka menyebut Kyuhyun sebagai dewa kematian. Pembunuh berdarah dingin. Barisan lawan sontak bergidik ngeri ketika mendengar nama Kyuhyun disuarakan sebagai pemimpin perang. Mimpi buruk untuk mereka serta awal kehancuran bagi Kerajaan mereka.
"Wanggeonim."
Salah seorang petinggi berbusana gwanbok biru bangkit dari kursi, menatap tegas junjungannya. Yunho menatap Kyuhyun sekilas kemudian beralih pada petinggi tersebut.
"Dalam sudut pandang kami, Menteri Chang memang bersalah. Beliau harus segera di adili, Wanggeonim."
"Tidak Wanggeonim. Kami tidak sependapat. Bukti yang tertera tidaklah memadai. Sebaiknya kembali melakukan investigasi."
KAMU SEDANG MEMBACA
ROSE
أدب تاريخيKetika sebuah permusuhan mengombak kacau di antara mereka. Keraguan hati mendominasi perasaan lain, tapi semakin mereka menekan perasaan tersebut, semakin kuat perasaan itu mengobrak-abrik pertahanan mereka. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan un...
