Setibanya di paviliun, Sungmin nampak kian resah. Debaran jantung yang mengentak keras, seolah ingin meloncat keluar menitahkan dirinya untuk kembali menjumpai Kyuhyun; mengoreksi setiap bait kata yang terlontar. Sungmin menghela napas panjang, beralih menatap api lilin yang bergoyang terhempas angin dari jendela yang terbuka.
Sisa hujan siang tadi senantiasa merebak terbawa angin, nuansa segar bau permukaan tanah basah menyelimuti kebimbangan Sungmin. Ujung jeogori putih yang tersulam dari sutera, terlihat kusut sebab remasan tangan yang tidak berhenti barang sejenak.
"Maaf," Sungmin berbisik, alunan nada penuh penyesalan terbungkam linang air mata yang tanpa sadar melintasi pipi, "Maaf." Kelopak mata terpejam, menyembunyikan sinar penyesalan yang teramat dalam.
"Aku tahu, aku telah menyakiti hatimu. Maaf, seharusnya aku berterima kasih. Maaf, aku memang bodoh. Tidak pantas kau berteman denganku." Sorot mata Sungmin merajam api lilin yang menjilat tubuh lilin, membuat batang putih yang semula terbentuk kukuh, mencair menjadi genangan air tak berarti.
Seulas senyum perih terpahat di sudut bibir, rupanya Sungmin tengah menertawakan kebodohannya. "Bukankah hatiku seperti lilin. Tegap diawal, mencair kemudian berkat tindakanmu yang mampu merobohkan segala prinsip yang aku pegang dengan teguh."
"Aku sungguh naif."
Sungmin merebahkan tubuh di atas permadani dengan posisi miring, masih menyibukkan diri menatap lilin. Seolah sebuah pemandangan terindah yang sangat disayangkan bila terlewat sedetikpun.
"Apa yang akan terjadi besok?"
Ulasan peristiwa siang tadi menyapa warna gelap yang merajam penglihatan begitu kelopak mata tertutup.
"Aku mencemaskanmu, Kyuhyun."
Malam ini Sungmin terlelap disela seribu perasaan gundah di hati. Tidak mengizinkan dirinya untuk tenang barang sejenak, meski dalam balutan mimpi ia terus bergerak gusar.
*Rose*
Jenderal Kim merundukkan kepala sekilas ketika mendapati punggung Yunho di balik remang-remang sinar lampu tiang di pelataran taman Kerajaan Goguryeo. Dia menjaga jarak, berdiri tegap di belakang dengan jarak lima tapak dari posisi Yunho.
Yunho membuang napas, uap putih akibat rendahnya cuaca malam terlempar keluar dari celah bibir. "Aku tidak ingin berbasa-basi, Jenderal Kim." Yunho berbalik menatap Jenderal Kim dengan sorot tajam. "Aku dengar tadi pagi Putra Mahkota menyelinap keluar."
Jenderal Kim tersentak, genggaman pada tubuh pedang yang bersarang di dalam wadah menguat. Terdengar suara gertakan samar dari balutan kayu tersebut. Yunho melangkah mendekat, sepasang tangan saling menaut dibalik punggung.
"Sesungguhnya aku tidak begitu peduli jika Putra Mahkota tidak berulah. Kau tahu Jenderal Kim, siang tadi dia sudah melenyapkan lima prajurit dari Kerajaan aliansi."
Iris kelam Jenderal Kim beralih ke sisi kanan, berupaya menenggelamkan sinar risau yang membaluti bola mata serta menghindari tatapan intimidasi dari junjungannya.
Yunho menghentikan tepakan langkahnya, berdiri tepat di hadapan Jenderal Kim. "Meskipun kau dalam kuasa Putra Mahkota. Namun, aku tetap Rajamu. Dan kau diharuskan mematuhi setiap petuah yang aku lontarkan. Katakan, siapa yang tengah bersama Putra Mahkota siang tadi di hutan Jacheon, Jenderal Kim Jisoo?"
Jenderal Kim mengatupkan gigi dengan erat, terus menahan diri untuk tidak gentar pada percikan emosi yang berusaha Yunho tekan. Lelaki tampan itu kemudian memberanikan diri mengangkat wajah, menatap Yunho tanpa unsur menentang sang junjungan.
"Maaf, Wanggeonim. Saya tidak bermaksud menentang anda, saya hanya sedang berusaha menjalankan petuah yang Kyuhyun Wang berikan kepada saya." Jenderal Kim menunduk rendah, mencoba meredam amarah Yunho barangkali berhasil.
KAMU SEDANG MEMBACA
ROSE
Ficción históricaKetika sebuah permusuhan mengombak kacau di antara mereka. Keraguan hati mendominasi perasaan lain, tapi semakin mereka menekan perasaan tersebut, semakin kuat perasaan itu mengobrak-abrik pertahanan mereka. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan un...
