Kilauan bilah besi memantul mengiritasi setiap mata yang memandang. Gurat tegas yang terpahat di setiap tubuh menampakkan kekuasaannya dalam menebas berbagai hal yang menurutnya mengganggu. Jemarinya bergerak, menyusuri bilah pedang tanpa kata.
Terdiam mematung dengan iris berbahaya menatap halusnya kilauan besi yang baru saja dia usap dengan kain sutera. Kabar yang tersalurkan dari seorang pria dibalik pakaian hitam dengan cadar hitam pula membuat emosinya melonjak meski tak nampak di wajah datarnya.
"Pergilah."
Suara berat itu melempar si pria hitam dari simpuhnya. Bergegas ia bangkit lantas melenyapkan diri dari pandangan junjungannya. Selang beberapa menit usai kepergian si pria hitam, pintu geser terbuka menampakkan seorang pria tampan diselubungi pakaian militer dengan rambut hitam terkuncir tinggi.
"Ye, Wangseja."
"Apakah Kerajaan Joseon sudah mengirimkan jawabannya?"
Kyuhyun menanggalkan bilah pedang di pangkuan, beralih menatap Jenderal Kim yang terdiam sekilas.
"Menurut pihak sekretariatan Kerajaan, mereka sama sekali tidak mendapati gulungan kertas dari Kerajaan Joseon, jeoha."
Kyuhyun menganggukkan kepala. Jemarinya kembali ke peraduan, mengusap bilah besi yang berkilauan menantang emosinya. "Kau sudah mendapat kabar tentang aliansi yang bekerja sama dengan Kerajaan musuh?"
Jenderal Kim memberanikan diri mengangkat wajah, memperhatikan sang Putra Mahkota yang terlihat enggan memindahkan jemari tangannya ke tempat lain, misal ke meja.
"Maaf, Seja jeoha. Saya sama sekali belum mendengar berita tersebut," jawab Jenderal Kim sopan.
Kekehan ringan meluncur dari belah bibir Kyuhyun, menembus keheningan di antara mereka. Jemarinya kini berpindah ke meja, mengetuk-ngetuk pelan dengan gerakan tetap.
"Ya, seharusnya berita ini memang tidak tersebar terlebih mendarat ke peraduanku."
Kyuhyun menyipitkan mata, seringai terulas di sudut bibir. "Kerajaan Joseon berniat bekerja sama dengan Kerajaan Silla." Kelopak mata terpejam begitu geraman tertahan mulai menampakkan kuasanya.
Jenderal Kim terkesiap, terkejut atas lontaran kalimat yang Kyuhyun lemparkan ke udara hingga menyelusup masuk ke gendang telinganya.
"Kerajaan Silla." Jendral Kim menggelengkan kepala, rupanya Kerajaan Joseon hendak kembali menebar sifat asli mereka.
"Mereka sudah mengetahui kedekatanku dengan Pangeran Bungsu Silla."
Kyuhyun melesakkan bilah pedang ke sarangnya, sebuah kayu berhiaskan ukiran menyembunyikan kilauan tegas pedang tajam yang sudah terbiasa menjilat darah musuh.
"Saya pikir Kerajaan Silla tidak akan semudah itu menerima kehadiran Kerajaan Joseon, jeoha. Bagaimanapun juga mereka adalah bekas aliansi Kerajaan Goryeo."
Kyuhyun mengerutkan kening usai mendengar celotehan Jenderal Kim. Pendapat Jenderal Kim memang dapat dipastikan kebenarannya. Dia cukup paham bagaimana ketatnya Kerajaan Silla dalam memilah setiap Kerajaan yang datang berkunjung, mengingat Kerajaan aliansi milik Goguryeo cukup menyebar keberadaannya hampir di seluruh wilayah Semenanjung Korea dan Kerajaan seberang.
Ditakutkan kedatangan mereka demi konspirasi terselubung dari pihak Goguryeo, maka dari itu Silla begitu ketat dalam menyeleksi tamu yang datang. Dan Tidak akan semudah itu bagi Kerajaan Joseon masuk ke dalam wilayah Silla meski dengan beribu macam iming-iming.
"Tidak akan semudah itu jika Jungmo sanggam tidak turut membongkar kedekatanku dengan Sungmin," geram Kyuhyun pelan.
Jenderal Kim menggigit ujung lidah, melupakan sebuah kenyataan besar yang fatal akibatnya bila terungkap. Pria tampan itu seketika bersimpuh di hadapan Kyuhyun dengan satu lutut menumpu lantai.
KAMU SEDANG MEMBACA
ROSE
Fiksi SejarahKetika sebuah permusuhan mengombak kacau di antara mereka. Keraguan hati mendominasi perasaan lain, tapi semakin mereka menekan perasaan tersebut, semakin kuat perasaan itu mengobrak-abrik pertahanan mereka. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan un...
