Hayhayyyyy...
Ini cerita baru author yang kebetulan sedikit menyerempet dengan kisah nyata😂.
Semoga kalian suka yaa sama cerita baru author ini.
Semoga kalian suka sama cerita ini sama seperti kalian suka sama BDP😘😘😘
Tapi sebelumnya aku mau bilang makasih banget buat kalian yang masih mau baca cerita aku ini. Ya walaupun masih banyak kesalahan tapi aku bakal berusaha buat memperbaikinya ko😍😍😍
Semangat kalian tuh semangatnya authorr loh ya 😄😄😄
Yawdah deh langsung ajaa ya...
Cekidottttzzzz...
Vivi berjalan menelusuri setiap tangga demi tangga untuk menuju lantai tiga.
Air matanya perlahan-lahan berjatuhan di kedua pipinya, ia tak bisa membendung lagi, hatinya terasa di remas begitu menyakitkan. Ucapan Rava tadi mampu membuat pertahanannya runtuh.
Semua mata memandang kepada vivi yang melangkah menuju lantai tiga. Ia tak peduli, benar-benar tak peduli.
Sesampainya ia di lantai tiga dimana tempat biasanya ia bersama alvaro saat membolos pelajaran. Ya, di loteng sekolah ini yang terletak di lantai tiga. Lantai tiga hanya di huni oleh gudang saja, tak ada kelas sama sekali. Tempatnya pun cukup tertutup untuk seseorang melakukan aksi bolos mereka.
Tangis vivi pecah, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benci dengan hari ini, ia kira dengan melihat Rava hari ini moodnya akan baik. Tapi ternyata salah, Rava malah membuat dirinya semakin tak berarti dan tidak diinginkan hari ini.
" seseorang yang tepat ga selalu datang tepat waktu. Kadang dia datang di saat lo lelah disakiti oleh seseorang, yang ga tau cara ngehargain perjuangan lo." suara itu tak asing bagi vivi. Ia tau itu Alvaro, pria itu pasti akan mencarinya seperti saat ini.
Vivi mangusap air matanya dengan cepat. Hidung dan wajahnya yang berubah menjadi merah pun sama sekali takkan membuat alvaro yakin kalau vivi saat ini baik-baik saja.
" dia nyakitin lo lagi?" Tanya Alvaro dengan tatapan lembutnya dan mencoba menatap vivi yang kini tengah menatap hamparan rumah-rumah di belakang sekolahnya.
Vivi menggeleng pelan " ngga, dia ga nyakitin sama sekali."
Memang nyatanya ia menangis bukan sepenuhnya salah Rava, sang ibu Nancy juga sempat tadi pagi membuat dirinya sakit hati seperti saat ini.
Alvaro menghela nafasnya dengan berat, ia tau vivi akan selalu menutupi sikap Rava yang sering menyakiti dirinya itu.
" sini"ucap Alvaro yang menarik tangan vivi agar wanita itu bersedekap dengan dada bidangnya.
" Tyo bilang semuanya ke gue tadi. Pas gue nyari lo di tangga. Dia bilang lo baru aja di tolak sama Rava" ucap Alvaro saat vivi telah memeluk tubuh alvaro dengan tangis yang sebentar lagi akan pecah.
" apa gue salah suka sama dia? Padahal gue sama sekali ga pernah nyakitin dia Al, tapi kenapa dia udah benci sama gue?" Tanya Vivi dengan air mata yang menetes mengenai seragam putih alvaro.
" lo ga salah, sama sekali ga salah. Orang yang jatuh cinta itu ga salah, cuma mungkin lo belum waktunya buat dapet balasannya saat ini" ucap Alvaro yang mencoba menenangkan vivi yang kini tengah menangis di dalam pelukannya.
Vivi terdiam, ia menyerapi ucapan alvaro barusan. Ia tau semua resikonya jika ia jatuh cinta kepada Rava, pria itu memang sulit sekali di dapatkan. Bahkan, saat ini pria itu memang bukan lah pria yang vivi kenal lagi. Ia berbeda sejak Aprillia mantan kekasihnya itu pergi meninggalkannya untuk selamanya.
" berjuanglah sama orang yang sama-sama mau berjuang, ga cape apa ngarepin orang yang ga pasti" lanjut Alvaro yang menyadari akan kediaman vivi membuat dirinya sedikit cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
PURPOSE (Completed)
Romance"niat lo emang baik. Lebih dari kata baik. Tapi asal lo tau, sampe kapan pun lo berjuang demi gue, itu sama sekali gaakan ngerubah perasaan gue ke lo" -Rava Tristianidas. "kalau lo emang udah tau rasanya di kecewain, seharusnya lo lebih tahu caranya...
