Hey heyyy ketemu lagiiiiii...
Apa ada yang rinduu sama cerita ini? Coba yang rinduuu serindu apa kalian sama ceritaaa ini? 😂😂 Semoga kalian ga lupa sama alur rava sama vivinya yaa😄😄
Dan satu lagi, aku mau bilang makasih ya buat kalian yang udah /masih/mau ngevoteee cerita ini bahkan komen juga. Dukungan kalian jadi motivasi buat akuu😄😄😄 thankyouu all, ich liebe dich😘
Dan satu lagi yang terakhir. Buat kalian yang mau sharing purpose atau mau nanya apapun kalian bisa lewat kontak yang ada di bio aku ya.
Kalau lewat branda atau inbox aku ga bisa bales😧 maaf banget bukan sombong atau apapun itu beneran deh gada niatan buat ga bales chat kalian. Mendingan lewat akun sosmed pribadi aku aja ya. Cek bio okeeyy👌
Maaf ya kalau ceritanya gini-gini terus. Tapi semua aku lakuin buat ceritanya semakin kalian sukaiin lagi😄😄
Yawdah langsung aja yaaa.......
Budayakan vote terlebih dahulu😄😄
Cek BDP juga yaa👉 Deril
dan vivi menunggu di cerita sampingg hehe😄😄
Cekidottt
Rava dengan setia memberikan bahunya agar vivi bisa menangis sepuasnya. Membiarkan vivi meluapkan semuanya dengan isak tangisnya.
Isak tangis vivi mulai mereda, matanya yang sembab yang bisa rava liat dari samping dimana vivi kini barada di sampingnya.
" makasi ya rav" ucap Vivi dengan suara seraknya.
Rava menghela nafasnya sejenak.
" iya, udah lo jangan nangis lagi. Mau sebesar apapun masalahnya lo harus hadapin, gue tau lo kan pacar gue yang kuat" ucap rava tersenyum hangat dan mengusap pelan rambut vivi.
Vivi mengerjapkan matanya beberapa kali. Rava kembali mengatakan pernyataan yang mampu membuat perasaannya bergejolak di dalam sana. Pria ini selalu membuat vivi terus menyukainya setiap detik, menit maupun jamnya.
" jangan nyebelin deh rav" elak vivi menahan senyuman manisnya karena tergoda dengan ucapan rava barusan.
Rava terkekeh pelan " lo masih punya orang-orang di sekeliling lo yang sayang sama lo. Jadi biarin aja masalah ini berjalan dengan sendirinya, mungkin ini skenario tuhan yang akan berakhir dengan indah nantinya" ucap rava tersenyum hangat dan memamerkan lesung pipitnya yang begitu menggemaskan.
Vivi menoleh kearah rava, saran dari rava sedikit membantu dirinya lebih tenang dari sebelumnya.
" thank's rav" ucap Vivi merebahkan kepalanya di bahu rava.
Rava terdiam, tubuh nya lagi-lagi tidak menolak akan tindakan vivi kepadanya. Hatinya merutuki kediaman dirinya yang merespon semua tindakan vivi.
Rava memejamkan matanya, menepis bayangan aprillia yang mendesakkan dadanya. Sekarang bukan aprillia-lah yang mampu membuat dirinya terus terpuruk. Kini gadis yang ada di hadapannya lah yang mampu merubah dirinya kembali seperti dulu.
- - - -
06.30 wib.
Pagi hari telah tiba, mood vivi pagi ini sudah sedikit membaik. Pagi ini vivi kembali membuatkan sarapan pagi untuk rava, menu nya adalah nasi goreng ala-alanya itu.
Dengan senyuman manisnya vivi pun segera melangkah keluar dari kamarnya dengan membawa tas ransel abunya. Menuruni anak tangga dengan cepat.
Tatapannya jatuh menatap nancy yang tengah menikmati teh hangatnya di ruang tengah seperti biasanya.
Vivi menghela nafasnya, mencoba menenangkan dirinya agar ia bisa menahan dirinya jika terjadi adu jontos kembali dengan sang mamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PURPOSE (Completed)
Dragoste"niat lo emang baik. Lebih dari kata baik. Tapi asal lo tau, sampe kapan pun lo berjuang demi gue, itu sama sekali gaakan ngerubah perasaan gue ke lo" -Rava Tristianidas. "kalau lo emang udah tau rasanya di kecewain, seharusnya lo lebih tahu caranya...
