Am Offenen Herzen

10.4K 514 34
                                        

Hey heyyy ketemu lagiiiiii...

Apa ada yang rinduu sama cerita ini? Coba yang rinduuu serindu apa kalian sama ceritaaa ini? 😂😂
Maaf ya aga lama kaaya gini, ga kerasa aku ga ngelanjutin hampir 1 taun ya ckck😂 ehh ko gaje ya gue? Biarin ya kita temu kangen aja disini. Udah lama ga post ni cerita. Semoga kalian ga lupa sama alur rava sama vivinya yaa😄😄

Dan satu lagi, aku mau bilang makasih ya buat kalian yang udah /masih/mau ngevoteee cerita ini bahkan komen juga. Dukungan kalian jadi motivasi buat akuu😄😄😄 thankyouu all, ich liebe dich😘

Dan satu lagi yang terakhir. Buat kalian yang mau sharing purpose atau mau nanya apapun kalian bisa lewat kontak yang ada di bio aku ya.
Kalau lewat branda atau inbox aku ga bisa bales😧 maaf banget bukan sombong atau apapun itu beneran deh gada niatan buat ga bales chat kalian. Mendingan lewat akun sosmed pribadi aku aja ya. Cek bio okeeyy👌

Maaf ya kalau ceritanya gini-gini terus. Tapi semua aku lakuin buat ceritanya semakin kalian sukaiin lagi😄😄
Yawdah langsung aja yaaa.......

Budayakan vote terlebih dahulu😄😄
Cek BDP juga yaa👉 Deril
dan vivi menunggu di cerita sampingg hehe😄😄

Cekidottt





































06.40 wib.

Dengan terburu-buru vivi mengeluarkan kotak makan miliknya di dalam tas saat melihat Tyo tengah berjalan menelusuri koridor bersama dimas.

" tyo, dimas tunggu!" Vivi sedikit berteriak agar dua makhluk itu menghentikan langkahnya sejenak.

Tyo dan dimas yang merasa namanya begitu jelas di panggil pun menghentikan langkahnya, ia segera menoleh kearah belakang dimana mendapati vivi yang tengah berdiri ter-engah-engah di hadapannya saat ini.

" nitip ke Rava dong please" ucap vivi dengan nafas tersengal-sengal dan menyodorkan kotak makan pinknya kearah tyo.

Tyo menatap dimas dengan ragu, ia meminta pendapat melewati tatapannya.
" vi, sorry nih ya bukan gue nolak. Tapi lo tau sendiri kan kemarin rava bilangnya gimana?" Tanya Tyo yang tak merasa enak dengan ucapan yang baru saja ia sampaikan

Vivi membenarkan jaket putihnya yang sempat merosot berantakan karena aksi larinya barusan.
" ah gpp, kasiin aja. Kalau dia nolak lo abisin aja" ucap Vivi yang tersenyum manis. Wanita ini sudah menerima segala resikonya jika ia memberi makanan lagi kepada Rava. Pasti pria itu takkan pernah memakan makanannya seperti biasanya. Dan akhirnya makanannya akan di makan oleh gerombolannya tanpa tersisa sedikitpun.

" bener nih? Asik, thanks ya vi. Tapi nanti gue usahain deh biar Rava makan" ucap Dimas dengan penuh semangat dan meraih kotak makan vivi dengan cepat.

" i-iya itu si yang gue harapin" ucap vivi dengan ragu-ragu. Ya, karena memang nyatanya rava tak pernah menyicipi sedikit pun makanan yang ia bawa. Eh ralat, rava pernah menyicipi sekali saja makanan vivi kemarin-kemarin, tapi itu pun hanya sedikit saja. Tapi tetap saja vivi merasa di hargai oleh rava karena makanannya akhirnya di sentuh rava.
" yawdah deh gue ke kelas ya. Bye~"lanjut vivi yang segera membalikkan badannya, meninggalkan tyo dan dimas yang masih mematung menatapnya.

Dengan langkahnya yang cepat vivi pun menaiki anak tangga dengan perasaan yang penuh harap agar Rava bisa menyicipi masakannya kali ini, ya walaupun dapet sedikit paksaan dari kedua sahabatnya tadi yang terpenting Rava menghargai perjuangannya. Tatapannya menatap rava yang kini tengah memainkan ponsel di bawah ring basket, pria itu terlihat tampan sekali setiap harinya. Bahkan coba saja ia tersenyum seperti semalam, itu akan bisa membuatnya lebih terlihat sempurna.

PURPOSE (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang