Apa ada yang rinduu sama cerita ini? Coba yang rinduuu serindu apa kalian sama ceritaaa ini? 😂😂
Maaf ya aga lama kaaya gini, Biarin ya kita temu kangen aja disini. Udah lama ga post ni cerita. Semoga kalian ga lupa sama alur rava sama vivinya yaa😄😄
Dan satu lagi, aku mau bilang makasih ya buat kalian yang udah /masih/mau ngevoteee cerita ini bahkan komen juga. Dukungan kalian jadi motivasi buat akuu😄😄😄 thankyouu all, ich liebe dich😘
Dan satu lagi yang terakhir. Buat kalian yang mau sharing purpose atau mau nanya apapun kalian bisa lewat kontak yang ada di bio aku ya.
Kalau lewat branda atau inbox aku ga bisa bales😧 maaf banget bukan sombong atau apapun itu beneran deh gada niatan buat ga bales chat kalian. Mendingan lewat akun sosmed pribadi aku aja ya. Cek bio okeeyy👌
Maaf ya kalau ceritanya gini-gini terus. Tapi semua aku lakuin buat ceritanya semakin kalian sukaiin lagi😄😄
Yawdah langsung aja yaaa.......
Budayakan vote terlebih dahulu😄😄
Cek BDP juga yaa👉 Deril
dan vivi menunggu di cerita sampingg hehe😄😄
Cekidottt
Sesampainya mereka di belakang sekolah, rava pun segera mendudukkan vivi di bangku depan gudang belakang sekolah.
" apa?" Tanya Vivi saat menatap rava yang kini tengah menatap matanya secara seksama.
" besok gue tanding basket. Lawan sekolah lain, gue pengen lo dateng vi. Acaranya jam 3 sampe jam 5 sore di sekolah ini" ucap Rava mengatakan hal penting tentang pertandingan basketnya kepada vivi. Rava berharap vivi akan datang menonton pertandingannya rabu nanti.
Vivi terdiam, ia mencerna ucapan rava barusan.
Besok? Rava tanding? Dia harus datang?.
Mana bisa, gue kan kerja. Masa iya gue izin? Baru juga beberapa hari kerja masa iya gue minta izin? batin vivi mengeluh kesal di dalam sana.
" gue... gue ga bisa rav" ucap vivi memasang wajah kecewanya. Nyatanya, dia memang tidak bisa hadir karena ia harus bekerja.
Rava terdiam, raut wajahnya menunjukkan sercecah kekecewaan saat mendengar jawaban vivi barusan.
" kenapa?" Tanya rava.
" ada urusan keluarga " ucap vivi lagi-lagi harus membohongi rava.
Rava tersenyum kecut.
" oh, yawdah. Gue gabakal maksa lo ko"
" tapi, nanti gue usahain datang deh. Buat support elo disamping lapangan, sambil teriak-teriak kaya biasanya " ucap vivi terkekeh manis mencoba menyemangati rava yang terlihat sedikit kecewa dengan jawaban vivi barusan.
Apa salahnya jika vivi mencoba izin kepada atasannya nanti. Siapa tau dia diizinkan dan boleh datang menonton rava.
"Lah? Ka rava?" Tanya Seseorang membuat rava dan vivi segera menoleh cepat kearah sumber suara tersebut.
" dea?" Tanya rava dengan kerutan di dahinya, kebingungan mengapa dea bisa berada disana. Dea tak sendirian, ia bersama satu teman wanitanya yang entah siapa namanya.
Jangankan rava, vivi pun terlihat kebingungan bagaimana bisa dea adik kelasnya itu berada di sana pada jam pembelajaraan sedang berlangsung?.
"Aku, disuruh buat naruh barang-barang ini di gudang belakang" ucap Dea tersenyum manis kepada rava. Menunjukkan kardus yang berisikan barang-barang tak layak pakai dengan mengangkatnya.
" ka vivi kan?" Tanya wanita teman sekelas dea, menatap vivi yang sedari tadi hanya diam menatap dea dan rava secara bergantian.
Vivi mengangkat kedua alisnya " iyah" jawabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PURPOSE (Completed)
Romance"niat lo emang baik. Lebih dari kata baik. Tapi asal lo tau, sampe kapan pun lo berjuang demi gue, itu sama sekali gaakan ngerubah perasaan gue ke lo" -Rava Tristianidas. "kalau lo emang udah tau rasanya di kecewain, seharusnya lo lebih tahu caranya...
