Chasing Heart - 7

23 3 0
                                        

"Sakit!"

"Aduh, demi gue yang cantik jelita ini, gue udah kelaparan banget Vi. Lo tega ya biarin gue kelaparan, terus nanti siapa yang akan setia dengerin curhatan lo kalau bukan gue." Vina menampilkan wajah melasnya agar Viola luluh dengan aksinya. Sedari tadi dua sahabat itu saling berebut membuka kotak makan milik Viola yang katanya akan diberikan pada lelaki masa depannya itu.

"Gak! Ini buat Davin. Buat D a v i n," ucapnya menekan nama pemilik patten makanan sekaligus hatinya.

"Lo pelit banget sih, bagi dikit lah."

"Gak, nanti kalau Davin keracunan karena tangan lo gimana? kalau dia sakit perut bolak balik ke kamar mandi gimana?"

Oke pemirsah, ada yang punya telur busuk gak? Vina akan dengan senang hati melempari wajah yang tengah menatapnya sengit di depannya ini. Hello! Apa dia bilang? Keracunan? Sekalian saja tadi dia campurkan sianida di dalam makanan itu. Sudah tidak mau membagi, di katakan pembawa racun pula.

"Yaudah, terserah lo..." Vina membalas ucapan Viola dengan tatapan bengisnya,"gue bisa beli makanan sendiri." Lanjutnya berniat meninggalkan Viola. Namun belum genap 3 langkah, Vina merasa ada yang mencekal lengannya.

"Pasti gak tega kan lo?" Vina menahan senyum kemenangannya. Kemudian ia berbalik badan menatap Viola dengan tatapan sedatar datarnya.

"Yaudah, hati-hati ya. Nanti gue nyusul deh. Kalau bisa lo pesenin gue juga ya."

Vina menganga lebar. Untungnya Vina cepat menguasai dirinya, dan Viola yang kembali mengusap-usap kotak makanannya. Hei! Kenapa Viola sungguh berlebihan. Yang akan di beri makanan adalah seorang Davin, bukan presiden Indonesia Joko Widodo. Vina semakin kesal, dengan cepat ia meninggalkan Viola menuju kantin. Ia masih mendengar teriakan sahabatnya yang menyuruhnya untuk menunggu.

Persetan dengan Viola !

***

Viola memasukkan sedikit kepalanya di pintu kelas Davin untuk melihat keberadaannya. Itu dia! Batinnya bersorak saat melihat Davin bersama kedua sahabatnya tengah bergurau ria. Tidak! Hanya Kevin dan Galang. Davin hanya menatap malas kedua sahabatnya itu yang meledeknya habis-habisan perihal dirinya.

Gadis itu merasakan wajahnya memanas ketika namanya di sebut-sebut didalam perbincangan hangat yang tertangkap di telinganya itu.

"Udah Dav, lo sebenernya suka kan? Lo nya aja yang gengsi. Ya kan? Ya kan?" Galang menaik turunkan alisnya menggoda Davin.

"Gak!" Jawabnya tegas menyiratkan keyakinannya.

"Alah, sekarang aja bilang enggak-- eh itu Viola ya?" Ucapan Galang terhenti ketika mendapati kepala Viola yang menyembul di pintu kelasnya. Davin dan Kevin membalikkan badannya mencari sosok Viola. Dan benar saja, ia melihat gadis itu seperti maling yang tertangkap basah ketika sedang mencuri jemuran. Viola menggeser badannya sehingga tubuhnya terpampang di tengah pintu.

"Eh, neng Vio. Eneng tau aja kalau abang udah nunggu."

Viola melirik Davin kemudian tersenyum sendiri mendengar perkataan Galang. Sepertinya Davin benar-benar sudah mempengaruhi kewarasannya.

"Sini-sini, abang Davin udah nunggu loh." Davin yang sedari tadi diam kini menaikkan alisnya merespon ucapan Galang.
Menunggu apanya? Lihat aja udah gak sudi! Begitulah pikirnya. Galang menginterupsikan Viola untuk mendekat ke arahnya.

"Itu makanan ya?" Galang menunjuk kotak makan yang berada di tangan Viola. Sebuah anggukan membenarkan pertanyaan, lebih tepatnya pernyataan Galang.

"Pasti buat abang Davin kan?" Goda galang dengan menaik turunkan alisnya.

"Eh,emh...iya," jawab Viola malu-malu.

Chasing HeartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang