Pulang dari rumah sakit, aku langsung tinggal di rumah mertuaku. Sebenarnya aku ingin pulang ke rumah orang tuaku, tapi mertuaku tidak mengizinkan dan keadaan pun tidak mendukung. Mertuaku membujukku untuk tetap tinggal karena mereka tak mau terpisah dari cucu mereka.
Selain itu, perjalanan delapan jam yang harus aku tempuh untuk sampai ke rumah orang tuaku, tidak memungkinkan bisa ditempuh oleh bayi kecilku. Dengan mempertimbangkan kesehatan bayiku, akhirnya aku setuju tinggal di rumah mertuaku.
Allan sempat membujukku untuk kembali tinggal di rumahnya, tapi aku mengabaikannya. Rasa sakit yang dia tinggalkan terlalu besar dan sangat sulit untukku bisa bersamanya lagi apalagi masih ada wanita itu di antara kami. Ibu mertuaku mengerti keadaanku dan mencegah Allan untuk menggangguku. Aku memang mengutarakan ketidaksukaanku pada Allan dan Nada pada mertuaku. Beruntungnya ibu mau mengerti dan setuju menjauhkan Allan dan Nada dari bayiku, biar kapok katanya.
Terdengar egois memang, aku melarang Allan untuk menemui putrinya sendiri. Aku seperti orang jahat yang memisahkan seorang anak dari ayahnya. Namun, sekali ini saja aku ingin bersikap egois, aku tak ingin berbagi anakku dengan siapa pun termasuk ayahnya. Cukup bagiku berbagi suami dengan wanita lain, aku tidak akan sanggup melihat anakku mengenal ibu lain selain aku.
Sejak dalam kandunganku, Allan tak pernah memperhatikan bayi kami. Aku simpulkan jika Allan tidak peduli dengan putriku. Allan melewatkan perkembangan putriku bahkan dia tak pernah bertanya apa pun masalah kandunganku. Dia juga tak sekalipun peduli apa aku sudah menyiapkan perlengkapan untuk menyambut bayiku atau belum.
Bagiku lebih baik putriku tidak mengenal ayahnya sekalian, daripada dia mengenalnya, tapi dia merasa disia-siakan. Aku juga tidak ingin putriku tumbuh dalam keadaan keluarga yang tidak normal seperti rumah tanggaku. Bagiku lebih baik aku membesarkan putriku sendirian sebagai single mother, daripada dia harus tahu jika dia hidup memiliki ibu tiri.
Aku menarik napas berat, memandangi wajah tenang putriku yang tertidur. Aku merasa segala beban yang bergelayutan dalam otakku hilang hanya dengan menatap wajah tenang Hasya-ku. Aku bertekad, aku akan menjadi ibu yang kuat untuk putriku, akan aku lakukan apa pun agar putriku bahagia.
"Makan dulu, Ra. Sayur katuk ini baik buat produksi ASI-mu," ucap ibu mertuaku mengalihkan perhatianku.
Aku berbalik dan tersenyum padanya, aku bersyukur memilikinya sebagai mertuaku. Jika kebanyakan orang sulit akur dengan mertua, maka itu tak berlaku pada hubungan kami. Ibu mertuaku sudah baik sejak awal dan kami sudah dekat sejak pertama kali kami bertemu.
"Terima kasih, Bu. Saya jadi merepotkan, Ibu," ucapku sungkan.
Ibu mertuaku menggenggam tanganku, dapat aku lihat kasih sayang yang tulus darinya juga rasa bersalah yang amat besar dari matanya ketika menatapku.
"Kamu anak ibu, Ra. Selamanya akan begitu, jadi jangan merasa sungkan pada Ibu. Karena Ibu, ibumu juga."
Aku membalas genggamannya dan mengangguk. Dalam hati aku sangat bersyukur meskipun kehidupanku tak seindah yang pernah kubayangkan, aku memiliki ibu yang sangat baik padaku.
**********
Tujuh harinya Hasya, ibu mertuaku mengadakan pengajian sekaligus akikah untuk Hasya. Aku tak banyak terlibat pada acara itu, selain karena keadaan fisikku yang masih lemah, aku juga malas berinteraksi dengan yang lain karena aku tak suka melihat tatapan mengasihani yang ditujukan padaku. Ditambah lagi ada Nada yang ikut beramah tamah di dapur.
"Ra, ada cowok ganteng nyariin kamu," ucap Angga melongok dari pintu.
Aku mengerutkan kening tak mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang tak dirindukan
Chick-LitKisah bermula ketika Kaira mengetahui jika suami yang telah menikahinya, tidak pernah mencintainya. Lalu dengan teganya Allan memberikan hatinya pada wanita lain. *** Kaira, seorang gadis yang berasal dari sebuah desa dinikahkan oleh orangtuanya den...
Wattpad Original
Ada 3 bab gratis lagi
