Wattpad Original
Ada 4 bab gratis lagi

Bab 9 (Allan POV)

129K 7.4K 526
                                        

Maki aku sepuas kalian, aku memang berengsek dan aku sadar bahwa tingkat keberengsekanku sudah pada tahap luar biasa. Hari ini aku menyadari bahwa apa yang telah aku lakukan membuatku kehilangan sesuatu yang berharga. Hari ini, hari yang paling membahagiakan bagiku, anakku terlahir ke dunia. Meskipun aku juga merasa bersalah karena aku tidak bisa menemani istriku dalam prosesi melahirkan bayi kami.

Aku merasa bersalah karena aku bahkan tak memenuhi keinginan Aira, agar dia tidak melahirkan sendirian. Harusnya aku mengangkat panggilan telepon dari Aira dan menyampingkan kekesalanku karena Aira yang menangisi kepergian Angga. Seandainya, ya, seandainya aku mengangkat teleponnya mungkin aku akan menjadi orang pertama melihat kelahiran bayi kecilku. Namun, dibandingkan rasa kecewa, rasa bahagia lebih mendominasi hatiku. Bagaimana tidak, aku resmi jadi ayah sekarang, aku merasa sempurna saat ini.

Aku terlalu bersemangat tahu tentang kabar kelahiran putriku, sampai tidak menghiraukan Nada istriku yang lain. Tak usah dibahas, semua tahu aku beristri dua dan aku mencintai keduanya. Jangan protes karena aku rasa bukan hanya aku laki-laki yang mencintai lebih dari satu wanita.

"Al ... aku, tuh, belum selesai ngeringin rambut. Kenapa, sih, buru-buru amat," cerocos Nada ketika aku memintanya untuk bergegas.

Aku tak menghiaraukan cerocosnya dan buru-buru memanaskan mobil. Aku terlalu bersemangat untuk menemui istri dan anakku, bahkan aku menebalkan telinga mendengar omelan Nada karena dandannya yang belum beres. Sampai di rumah sakit aku berjalan agak cepat sambil menggandeng Nada yang terus-terusan tertinggal di belakangku. Aku membuka pintu perawatan Aira dengan semangat dan menatap wanita yang sudah melahirkan putriku dengan wajah sumringah.

Aku mendekat ke arah istri dan anakku, tapi aku tak menyangka Kaira Fazila istriku yang baik hati dan murah senyum bisa menolakku terang-terangan. Dia menolak untuk aku sentuh bahkan dia menjauhkan bayiku dariku, agar aku tidak menyentuhnya.

Syok itulah yang aku rasakan, ada perasaan sakit yang tiba-tiba menghujam jantungku. Belum selesai kekagetanku atas penolakan Aira, hatiku semakin sakit saat tahu ada pria lain di ruangan ini. Meskipun pria itu seorang dokter yang katanya menolong Aira, aku tak bisa menghilangkan rasa kesalku pada laki-laki itu. Laki-laki itu, dengan mudahnya menggendong bayiku bahkan dia yang mengadzani bayiku padahal harusnya aku yang melakukannya.

Aku menatap ke arah Aira, tapi dia tidak balas menatapku bahkan dia memalingkan muka dariku. Aku mendekat hendak menyentuh tangannya, tapi kembali dia menjauhkan tangannya dariku.

"Aku ingin istirahat," ucapnya sebelum aku sempat membuka mulutku untuk berbicara padanya.

Kalimat itu seperti sebuah usiran halus untukku. Orang tuaku yang ada di kamar rawat ini juga mengerti dengan keinginan Aira. Dengan isyarat matanya, ibu menyuruhku untuk keluar. Beginilah hubunganku dengan orang tuaku setelah aku memutuskan untuk menikahi Nada.

"Ibu kecewa padamu, Ibu menyesal pernah membawamu masuk ke kehidupan Kaira."Itulah kalimat yang terakhir kali ibu ucapkan sehari sebelum aku menikahi Nada. Sejak saat itu ibu belum lagi mau bicara padaku. Jika kami bertemu, dia bersikap seolah aku bukan putranya, dia bersikap seolah aku hanya karyawan ayahku yang tak penting dan sedang berkunjung ke rumah. Beruntung ayah lebih bijak dan masih mau menerima keputusanku, kalau tidak darimana aku mendapatkan sumber kehidupanku.

Seakan belum cukup kejutan yang diberikan Aira padaku, saat dia pulang dari rumah sakit dia menolak untuk pulang ke rumah kami. Aira memilih tinggal di rumah orang tuaku, bahkan dia tak mau aku papah saat berjalan dan memilih dipapah Angga.

Aku berusaha membujuknya untuk pulang, tapi jangankan untuk bicara, melihatku pun dia enggan. Bahkan ibuku sendiri menghalang-halangiku untuk bertemu dengannya. Aku hanya bisa menatap Aira dan bayiku dari jauh. Melihat dia tersenyum dan tertawa bersama orang lain membuat hatiku sakit. Seharusnya akulah yang ada di sampingnya dan memangku putri kecil kami yang hingga sekarang belum pernah kusentuh apalagi aku gendong.

Kehilangan Aira membuat hidupku kacau, bahkan hadirnya Nada yang selalu ada di sampingku tak mengisi kekosongan hatiku yang ditinggalkan Aira. Aira berada tak jauh dariku, tapi kehadirannya tak lagi bisa kugapai. Aku merasa lumpuh tanpa kehadirannya, tapi dari jauh aku bisa melihat kalau dia baik-baik saja.

Aku yang tak dirindukanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang