Fluster; kalian itu sesuatu yang membingungkan, tidak dapat ditebak layaknya misteri.
• • •
Karena guru mata pelajaran bahasa Korea tidak datang ke kelas, Aileen memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Sekarang ia menjajaki setiap rak buku sambil mencari daftar buku yang ia butuhkan, sekitar lima buku sudah ada ditangannya. Mulai dari buku pelajaran hingga novel-novel karya penulis terkenal.
Aileen membaca sinopsis yang ada di sampul belakang buku sambil berjalan pelan menyusuri rak, ia hendak keluar dan menuju meja yang nantinya akan ia gunakan untuk membaca. Namun, suara bisik-bisik seorang perempuan di seberang lorong rak membuatnya terusik dan terpaksa ikut mendengarkan.
"Elo tau anak kepala sekolah itu, siapa? Jason Filemoon? Anak kelas sebelas tiga?"
"Ah iya, yang ganteng itu? Kenapa?" sahut perempuan satunya.
"Ribut lagi sama si berandal Kim tan itu!! Di lapangan."
"Gila tuh Kim tan, gak takut ada rapat siswa lagi." Perempuan itu berdecak kesal, "Punya pikiran kaga tuh anak!"
Aileen tersentak.
Tanpa babibubebo. Aileen meletakkan buku-bukunya secara sembarangan disalah satu rak kosong, lalu berlari ke arah lapangan yang disebutkan perempuan tadi. Tidak peduli dengan penglihatan siswa lainnya, tidak peduli tentang penyakitnya yang kadang datang, apalagi tidak peduli apapun itu. Yang terpenting ia tak mau ada pertengkaran diantara orang yang bisa dibilang penting dihidupnya. Ia takut. Takut tentang pertengkaran, dulu pernah terjadi dan tidak ingin terulang lagi sekarang.
Di lapangan sudah ramai oleh beberapa siswa yang bergerumbul melihat suatu aksi yang meributkan, dan tiada lain pertengkaran itu memang terjadi. Wajah memar-memar sudah terlihat, Aileen menggeleng pelan. Dadanya sudah sesak, namun ia bersikukuh menahan sakitnya. Ia berlari menyerobot, ketika dekat ia langsung menarik tangan Kim tan tapi terhempas.
"KIM TAN! JASON! BERHENTI."
Suara Aileen tak bisa menandingi riuh suara-suara yang ada di lapangan. Aileen menghadang pertengahan antara Jason dan Kim tan. Tiba-tiba suara hantaman keras terdengar. Para siswa yang melihat langsung berhamburan menghampiri suara itu.
Buk. Duk. Prangg.
Pandangan Aileen perlahan kabur, ia hanya melihat segerombol siswa menghampirinya yang sedang tergeletak, Kim tan dan Jason menghampiri dengan wajah panik. Wajah mereka sudah tidak bisa dibilang baik-baik saja.
"AILEEN!? AILEEN SALVIA!?"
"PLEASE SADAR. MAAFIN GUE."
"AILEEN. PANGGIL 911 SEKARANG CEPETAN!!!"
"TAHAN AILEEN, LO KUAT."
Jason memangku kepala Aileen, tangannya penuh dengan darah yang keluar dari belakang kepala Aileen. Kim tan menggenggam tangan Aileen sambil menggeleng pelan. Mata mereka tak hentinya menatap Aileen dengan penuh penyesalan, air mata dari keduanya pun menetes berjatuhan hingga ke tanah.
• • •
Suara alat electrocardiography mendominasi ruangan serba putih yang sekarang ditempati oleh Aileen. Kim tan dan Jason duduk saling berhadapan, di samping kiri dan kanan Aileen. Pandangan mereka kosong, yang hanya tertuju pada Aileen. Kenangan demi kenangan yang sama berputar di otak mereka, suara serak dan air mata kesakitan perempuan sebayanya di masa lalu mereka terbayang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Heartache
Teen FictionSebenarnya, kita tak pernah benar-benar saling meninggalkan. selalu ada satu, yang kembali tetap tinggal, dan yang menunggu. -