XVIII. w o u nd

72 4 0
                                    

Wound; Setiap luka pasti memiliki alasan, yang tidak pernah tau kapan ia datang dan akan sembuh.

• • •

   Pagi ini seperti rencana Aileen semalam, ia izin untuk tidak masuk sekolah. Aileen sudah siap dengan dress pendek berwarna hitam yang kontras dengan coat kream, tidak lupa syal hitam melilit di lehernya. Ia menggandeng Kaitlyn memasuki bilik dengan etalase besar berisi guci-guci abu orang yang sudah meninggal—krematorium.

   Hingga Aileen berhenti di depan guci biru tua bertuliskan 'Katty Jung'. Hari ini tepat empat tahun Katty meninggalkannya, dan juga hari ini ulang tahun peri kecil kesayangannya—Kaitlyn. Aileen menggendong Kaitlyn, lalu tersenyum dengan buliran air mata di pipinya.

"Salam dulu ke mama." titah Aileen, lalu menempelkan bunga kecil pada ujung kaca.

"Halo mama." ucap Kaitlyn.

   Aileen menahan air matanya agar tidak menetes lagi, namun melihat Kaitlyn tersenyum meruntuhkan pertahannya. "Ini Lili Kat, maaf baru bisa nemuin lo sama Lili sekarang."

"Aaa-yeenn, jangan nangis." ucap Kaitlyn lalu memeluk erat Aileen.

"Lihat Lili udah besar kan? Cantik kaya lo, hmm bandel nggak ya Lili?"

"Enggak, Lili baik."

"Bilang ke mama kalo Lili bakal jadi anak yang baik."

"Mama, Lili anak baik. Lili juga sayang Ayeen." kata Kaitlyn dengan gaya khas anak kecil yang memohon.

"Mama? Anak baik?"

   Tiba-tiba suara seseorang yang sangat familiar di telingannya terdengar. Aileen spontan membalikkan tubuhnya, jantungnya seperti jatuh ke tanah.

"Ja-sonn."

"Lo kenal sama Katty?" tanya Jason dengan tatapan tidak percaya.

"AILEEN!" Jason berjalan lebih mendekat, "Gue tanya, lo kenal sama Katty? Dan Lili bilang mama?"

   Mulut Aileen mendadak bungkam, matanya sedikit buram. Linangan cairan bening yang ia tahan tadi, kini luruh di hadapan Jason. Rasanya banyak sekali hantaman yang menerpanya, ia merasakan lelah selelahnya. Lalu sekarang ia harus menerima takdir bahwa memang benar, cinta pertama ibu dari Kaitlyn adalah Jason—yang juga cinta pertamanya.

"Aileen, please say something." mohon Jason.

"Kaitlyn anak dari Katty Jung." jelas Aileen dengan satu tarikan nafas.

"Kenapa baru cerita hari ini?"

Aileen mendongak, menatap lekat mata Jason, "Mengatakan kebenaran membutuhkan keberanian tinggi Jason, kalo lo bisa nerima itu kalo enggak? What should i do?"

"Lalu berapa lama lo bakal nyimpen bangkai ini Aileen?" tanya seseorang di belakang Jason—Kim tan.

Aileen terpaku, ia merasa di ujung bukit yang dibawahnya ada jurang. "Selamanya, jika bangkai itu tidak mengganggu orang."

"Biar gue yang ngurus Kaitlyn." minta Kim tan.

"Enggak." Aileen memeluk erat Kaitlyn, "Lili akan terus sama gue."

"Gue lebih mengenal Katty, dan pasti dia akan merasa lebih baik jika Kaitlyn gue yang jaga." ucap Kim tan, "Gue bisa menuhin semua kebutuhan Kaitlyn."

"Lili tidak butuh apapun, dia hanya butuh gue dan Kara." tolak Aileen dengan mata yang berkaca-kaca.

   Kim tan mendekati Aileen, menggendong paksa Kaitlyn hingga suara tangisnya pecah. Aileen berusaha mempertahankan Kaitlyn, namun sekarang Kaitlyn sudah berpindah gendongan pada Kim tan. Jason yang melihat hal itu hanya bisa diam, lalu pergi meninggalkan Aileen yang luruh jatuh terduduk di lantai sambil menangis.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 21, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HeartacheTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang