Dumps; bersedih hati hanya ketika mengucap namamu, menahan rindu, dan melihat matamu.
-• • •
Seperti pagi yang kemarin-kemarin, Aileen terjaga sebelum matahari menyapa. Melihat sisi kiri yang biasanya kosong kini tlah terlihat wajah polos seseorang yang ia sayangi tenga terlelap, membuat hal baru ia rasakan. Aileen berdiri lalu menuju kamar mandi, keluar dengan training putih dengan kaos polos merah maroon. Tanpa membangunkan Kaitlyn, ia mengambil hp dan earphone lalu lekas meninggalkan kamar. Aileen sudah menitipkan pesan pada Bi Uti agar menjaga Kaitlyn sebentar ketika ia berolahraga, agar saat Kaitlyn bangun ada yang menemani. Kaitlyn masih balita bila dibiarkan sendiri.
Setelah membuka gerbang, Aileen menaiki sepeda menuju taman yang biasanya digunakan untuk olahraga pagi. Kebiasaannya masih sama, namun hanya perasaannya yang kian membaik. Datangnya Kaitlyn dan Kara yang nanti akan menghidupkan suasana rumah, memberi kesan tersendiri baginya.
"Cewe, minta id line dong."
Suara itu lagi. Aileen hafal, tolong jangan berbuat ulah di pagi indahnya.
"Kok kaga jawab sih, bisu ya?"
Aileen mencebik kesal, "Diem deh lo!"
"Lah udah kaga bisu dianya, id line dong mbak."
"Mbak palalo! Kim tan. Diem deh!"
"Napasih lo sensi amat." ucap Kim tan yang akhirnya menyerah untuk menggodah Aileen.
"Sorry kemaren gue pulang duluan, biasalah tugas negara. Eh, kemaren itu siapa? Adek lo?"
Aileen lupa, masih ada Kim tan yang membutuhkan penjelasan. Harus memakai alasan apalagi? Sepupu? Yakinkah bila Kim tan akan percaya?
"Kaga nanya, iya sepupu gue -tuhan maafin Aileen besok enggak lagi deh."
"SEPUPU LO!?"
Duar. Suara guntur menggelegar di langit yang berawan hitam, burung-burung berhamburan terbang dan angin menerpa pohon-pohon dengan kencangnya. Kim tan membulatkan matanya, menatap kosong kedepan. Padahal bulan ini bukan menunjukkan musim hujan, lalu di rumah ada ..
"Katty," lirih Kim tan.
Dengan segera Kim tan berlari sambil menuntun sepedanya tergesa-gesa, menghiraukan Aileen yang memanggil namanya. Kim tan seperti orang kebingungan dan kehilangan jiwanya. Sebuah pikiran terlintas, lalu Kim tan mengambil hp untuk menghubungi orang rumah. Dan Aileen berada tepat di belakang Kim tan.
"Halo. Tolong tutup seluruh jendela dan pintu rumah, nyalahkan mode kedap sekarang juga!"
"..."
"SEKARANG JUGA!!"
"..."
Hp yang Kim tan pegang jatuh ke tanah, hujan telah mengguyur jalanan membuat seluruh tubuh Kim tan dan Aileen basah kuyup. Sepeda Kim tan jatuh, tidak lama tubuhnya pun ikut luruh ke tanah. Aileen panik langsung menjatuhkan sepedanya, lalu berjongkok tepat di depan Kim tan. Menangkup wajahnya, terlihat gurat mata yang sendu dan kekecewaan. Tiba-tiba Kim tan memeluk Aileen, menelusupkan wajahnya pada pundak Aileen. Terdengar sesegukan tangis membuat Aileen semakin berpikir khawatir akan Kim tan, hingga sebuah suara terdengar.
"Katty Jung, takut." lirihnya, "Katty Jung, takut hujan."
Bak tersambar guntur, jantungnya serasa berhenti berfungsi sebentar. Aileen merasa indra pendengarannya mulai rusak, atau karena hujan telinganya menjadi bermasalah. Nama itu. Fakta bahwa yang barusan ia dengar memang seratus persen benar, tapi bagaimana Kim tan tau?

KAMU SEDANG MEMBACA
Heartache
Teen FictionSebenarnya, kita tak pernah benar-benar saling meninggalkan. selalu ada satu, yang kembali tetap tinggal, dan yang menunggu. -