XIV. g l i m p se

120 21 23
                                    

Glimpse; memandang sebelah mata itu hanya kamu kepadaku, sebaliknya aku memandangmu dengan mata dan juga hatiku.
-

• • •

   Disini sekarang Aileen berdiri, menunggu kak Sasil yang kemarin sempat menelfonnya. Karena ia tak ingin penasaran terus-menerus akhirnya kemauan untuk datang pun terlaksana, urusan apa yang nantinya akan dilalukan Aileen terlintas belakangan. Ruangan hanya sepetak kamar kos dan juga hanya berwarna putih saja, dengan bau khas papermint membuat ini semakin mencekam bagi seluruh murid Palace. Inilah ruangan kedisiplinan, dan ini baru pertama kalinya Aileen menginjakan kaki disini. Suara pintu terbuka membuat Aileen langsung berdiri, perempuan parubaya yang dikenal sebagai guru kedisiplinan berdiri berdampingan dengan kak Sasil.

Aileen membungkuk sekilas, "Selamat pagi."

"Pagi, duduk."

   Udara di dalam ruangan ini semakin membuatnya kepanasan, mungkin hanya dirinya saja karena bu Hanna dan juga kak Sasil tenang-tenang tanpa kepanasan. Melihat bu Hanna mengutak-atik laptop membuat Aileen berfikir, akankah ia dikeluarkan?

"Maaf atas kesalahan pahaman bu Tara bersama pihak sekolah, mulai hari ini kamu bisa mengikuti pelajaran kembali." terah bu Hanna dan Aileen hanya mengangguk bingung.

   Bu Hanna meletakkan laptop di meja depan Aileen, terlihat sebuah rekaman CCTV yang berada di lapangan basket beserta terterah waktu penempatan. Tak lama bu Hanna mengganti dengan CCTV di depan kelasnya, saat istirahat hanya ada Debora dan Eun ji saja yang menuju kelas.

"Kesaksian Dano dan miss Luna menjelaskan semuanya, sekali lagi maafkan pihak sekolah."

   Otaknya mendadak lemot, apa karena sudah dua hari dirinya tidak menyentuh buku-buku ilmu? Aileen hanya diam mematung, sebagian hatinya kesal ingin memaki-maki penyebab hal ini terjadi. Dan Debora merusak barang paling berharganya, Eun ji sekongkol dengan Debora hingga tidak menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Terlebih Aileen menangis dan akhirnya pingsan di depan teman sekelasnya. Sungguh itu bukan Aileen, memalukan!!

"Aileen, apa bisa dimengerti?" tanya bu Hanna tegas.

"Iya bu, terima kasih."

   Bu Hanna berdiri berbarengan dengan kak Sasil, lalu pergi duluan meninggalkan Aileen yang masih saja diam tanpa respon. Ruangan ini semakin membuat jengah, bisa-bisanya ia menginjakkan kaki disini padahal tidak menjadi biang masalah. Ingin menyalahkan siapa bila nasi sudah menjadi bubur, ah sudahlah! Diam lebih baik.

   Aileen berdiri, membenarkan kerah seragam dan juga roknya. Waktunya berperang dengan situasi bukan? Ayolah ini bertahan hingga hari esok saja karena masalah sepele tidak akan bertahan lama untuk bahan gosip. Dengan lihainya ia keluar, tiba-tiba muncullah Jason.

"Akhh.. bikin kaget saja!!" geram Aileen dan Jason hanya tersenyum miring.

Aileen melangkah beberapa, lalu berbalik menatap Jason. "Ngapain lo disini?"

"Eh- hm cari,"

"Cari?" tanya Aileen sambil menautkan alisnya bingung.

Jason memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri seolah mencari jawaban. "Angin. Cari angin."

Aileen mengangguk pelan tanda paham, lalu melangkah lagi kedepan menuju kelasnya. "Tidak mungkin kan bila Jason membelanya di ruang kedisiplinan? Memberikan sesuatu sebagai bukti misal?"

HeartacheTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang