Mangle; bisakah kamu berhenti! Berhenti untuk menggoyakkan hati ini, bisa saja kamu diam hingga hati ini tenang tanpa tergoyak lagi.
• • •
Rembulan dan bintang-bintang terpancar indah menyinari kota Seoul malam ini, ditambah kerlipan lampu di sepanjang jalan rumah Aileen. Setelah melambaikan tangan pada Jason, Aileen segera membuka gerbang rumahnya. Deringan telfon mengehentikan tangannya untuk membuka pagar.
"Hallo.. Leen-Aileen halo."
Yang semula hpnya berada ditelinga, kini Aileen memandang hpnya heran. "Iya, lo kenapa sih hah?"
"Gue butuh bantuan lo, pembuangan sampah persimpangan sekolah. Eh- cepet leen to-tolong."
"Kim tan.. Kim tan.. Haloo.. Hal-"
Dengan terburu-buru Aileen berlari menuju sekolahnya, dipikirannya hanya Kim tan saja. Sahabat satu-satunya, yang mengerti, memahami dirinya walaupun tidak keseluruhan. Berbagai macam permohonan dalam hatinya diutarakan, tidak peduli bagaimana sampai ia hampir tertabrak berbagai macam kendaraan saat menyebrang. Yang terpenting hanya bertemu dan memastikan Kim tan baik-baik saja.
"Kim tan." bisik Aileen setelah sampai di persembunyian Kim tan.
Kim tan langsung memeluk Aileen dengan erat. "Makasih. Makasih."
"Semuanya baik-baik aja. Udah."
Kim tan mengangguk pelan dipundak Aileen. "Lo apa kabar?"
Duar!
Layaknya baku hantam mengenai jantunganya. Aileen bungkam, matanya tak berhenti menatap seseorang yang baru beberapa jam yang lalu bersamanya berada diseberangnya. Tubuhnya melemas, hatinya tergoyak melihat pemandangan yang kini berhasil membuat hatinya hancur.
"Jason.. Apa yang lo lakuin ke gue barusan? Huh!?"
"Aileen? Lo apa kabar?" tanya Kim tan sambil melepas pelukannya, "Masih sakit?"
"Gue gak baik-baik aja."
"Gue baik-baik aja."
"Maafin gue, gue belum jengukin lo lagi waktu itu." Kim tan terlihat menyesal, "Gue jahat banget ya sama lo? Kok lo nangis? Gue jahat kan?"
"Apaan sih, gue terharu aja. Lo kenapa bisa disini?"
Kim tan menunduk lesu. "Gue punya sodara."
Aileen menatap Kim tan heran. "Ya bagus dong, lo jadi punya temen."
"Masalahnya sodara gue, sodara dari beda ibu. Gue barusan ngerti kalo selama ini, papi gue punya istri lain." jelas Kim tan dingin.
Aileen langsung memeluk Kim tan lagi. "Seharusnya lo bisa ngertiin papi lo, mungkin ada alasan lain dia gitu."
"Seharusnya lo seneng, gue aja gak ngerti anaknya siapa. Lo masih punya keluarga yang jelas, sedangkan gue?"
Aileen melepas pelukan itu. "Trus sekarang lo mau gimana? Kok bawa tas sih? Minggat lo?"
"Hehe.. Gue udah nyiapin buat tinggal di rumah lo beberapa hari, boleh ya?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Heartache
Teen FictionSebenarnya, kita tak pernah benar-benar saling meninggalkan. selalu ada satu, yang kembali tetap tinggal, dan yang menunggu. -