05• Progress ya Vin!

5.8K 459 29
                                        

'KAMU; Manis tapi dingin.
Gak tau kenapa aku bisa suka.'

---

Dipagi hari yang cerah ini, tidak biasanya Alvin terlambat datang ke sekolah. Memang di akui jika Alvin adalah anak yang dingin, cuek, ga pedulian, bandel dan 'nakal' mengingat semua teman-teman dan pergaulannya dari kalangan yang bebas. tetapi Alvin selalu tepat untuk datang kesekolah.

"Sial" ujar Alvin melihat pagar SMA Adidarma sedang digembok oleh Pak Indra -satpam sekolah-

"Pak, bukain dong," seru Alvin menge-gas motornya menabrak gerbang.

"Kali ini ga bisa den, maaf ya." Jawab pak Indra menatap kanan-kiri.

"Makan siang gue yang bayar" ucap Alvin berniat membujuk pak Indra.

"MAAF DEN, Gerbang udah tutup. Ga bisa di buka!!" Seru pak Indra memekakan telinga, melihat ke arah pak Hatta yang sedang membaca koran, padahal beliau yang berjaga piket hari ini. Sambil membuka kembali gerbang untuk mempersilahkan Alvin masuk.

"Sip" ucap Alvin,

Memarkirkan motor di bawah pohon yang berada di taman belakang sekolah. Menjadi tempat rahasia Alvin dan teman-temannya bila datang terlambat atau hendak bolos sekolah.

Sambil melihat kanan-kiri, waspada bila ada guru piket yang berkeliling. Alvin berjalan menuju kelasnya di lantai 3, X IPS 3.

Dengan santai ia berjalan masih dengan tas di punggung. Ketika sampai, ia mengintip lewat jendela kelas X IPS 3.

'Sial' gumamnya lagi. Ia lupa jika saat ini adalah jam pelajaran bu Inna, sang guru sosiologi yang selalu main hukum.

Langsung saja ia membuka pintu kelas, untuk masuk kedalam tanpa permisi.

"Hai bu," ujarnya santai, berjalan menuju tempat duduknya; dipojok belakang kelas. Tempat yang teman-temannya idamkan karena 'nyaman-able' pikir mereka.

"ALVIN DAMILO FABIAN!! Siapa yang menyuruh kamu duduk, kesini kamu!"
Ucap bu Inna meletup-letup. Beliau yang tadinya senang karena tidak ada Alvin didalam kelas. Berfikir, jika Alvin tidak masuk sekolah. Terkaget begitu mendengar suara siswa yang merupakan musuh sebagian besar guru di SMA Adidarma tersebut.

"Cape, duduk bentar bu." Lancang Alvin, mengambil buku tulis Julian yang duduk di sampingnya, untuk di kipaskan nya karena merasa panas.

"Lancang ya kamu!! Ibu ga mau tau, sini dulu!!" Ujar bu Inna geram.

"Bawel" gumam Alvin yang mendapat pelototan dari bu Inna.

Begitu Alvin sampai di hadapan bu Inna. Ia langsung mendapat jeweran mantap bin hot dari beliau. Masih dengan tampang biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Alvin menganggap lalu jeweran beliau yang sudah menjadi langganannya. Seolah jeweran bu Inna khusus di ciptakan untuknya.

"Ibu tu bingung ya Vin sama kamu. Ga ada kapok-kapoknya. Semua hukuman udah ibu coba berikan kepada kamu, kamu tetap saja bertingkah seperti ini. Ibu cape Vin cape!!" Curhat bu Inna panjang lebar.

"Duduk bu kalo capek" jawab Alvin santai.

"Tidak ada gunanya ngomong baik-baik sama kamu! Sekarang, kamu ke perpustakaan. Kerjakan 50 soal yang terdapat di buku paket halaman 71. SEKARANG! Cepat menjauh dari pandangan ibu!!" Ujar bu Inna muak, karena selalu memberi Alvin hukuman yang tidak ada kapoknya.

"Sip, bisa ngadem gue!" Seru Alvin merasa senang mendapatkan hukuman tersebut.

---

"Bapak.."
"Bapak ganteng dehh!"
"Kumis bapak tuh yang bikin klepek-klepek"
"Ga usah UH ya pak!"
"Bapak kan baik!" Rayu Keira dibantu teman-teman sekelasnya untuk membujuk Pak Wijaya. Guru sejarah yang memiliki karakteristik seperti pak Raden, lengkap dengan kumis panjang yang menawan baginya.

KeiraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang