"Lah lo mau ikutan cheerleaders?" kata Yera ikut menoleh mendengarkan Sera yang sedang berbicara dengan Ghea di belakangnya.
Ghea mengangguk, "hm, di sekolah lama gue masuk cheers," balasnya tenang.
"Oh.... kirain cowok lo anak basket," sahut Sera menyeringai kecil. "Eh loh HAHAHAHA lupa anak basket udah punya pacar semua. Kecuali kak Jeffri sih."
Ghea meringis kecil, "bukan kak Jeffri kok," elaknya.
"Gua juga nggak sengaja liat waktu itu pacarnya si Ghea nelpon," kata Yera mendadak antusias. "Namanya Gavindra!"
Mendengar itu, Sera refleks menganga lebar menatap Yera. Cewek jangkung itu merasa terkejut mendengar nama Gavindra disebut dengan begitu santainya.
Gavindra? Bukannya itu panggilan Jeka waktu SMP?
Sera tau, karena Sera memang akrab dengan Jeka saat SMP.
"Hahahaha, lo liat, Yer?" tanya Ghea berusaha menguasai air muka walau jelas-jelas terlihat canggung dan tegang.
Yera mengangguk tanpa dosa, "maaf ya, hape lo deringnya kenceng jadi gue mute deh."
"Gapapa," Ghea tersenyum tipis.
Sera diam sejenak, mendengus kecil berusaha menguasai diri. Cewek itu menatap Ghea lurus.
"Oh iya lo udah tau, kan? Anak cheers sama anak basket jadwal latihannya sama?"
**
Sore itu anak-anak cheers sedang berdiri di pinggir lapangan, bersiap akan pemanasan. Dengan beberapa cewek yang sempat mencuri pandang pada anak basket.
Ya gimana ya, cowok basket pada tampan-tampan. Sayang.... sold out semua kecuali Jeffri si anak sholeh.
Mendengar pekikan kecil merasa gemas melihat cowok ganteng berkeringat, Ghea yang sedang merenggangkan tubuhnya jadi ikut menatap anggota basket yang latihan di lapangan.
"Gila ya, kak Jeka ganteng banget, si Yera beruntung dapetinnya," celetuk salah satu anak cheers merasa iri.
Anggota lain ikut mengangguk, "hm, kak Jeka sweet banget, emang pacar idaman. Dia gak pernah marah kecuali Yera jalan sama cowok lain," kata Mina menyahut.
Mengingat Yera pernah hampir menangis di kelas karena panik saat Jeka marah ia jalan berdua bersama teman SMP, si Evano anak sekolah depan.
Anak-anak cheers kompak berseru, merasa iri sekaligus meleleh mendengar cerita dari Mina.
"Busettt, keliatan sih. Yera cuman cewek satu-satunya buat kak Jeka," balas Juwi si primadona sekolah.
Sera mendengus mendengar itu, kemudian menghela nafas panjang sebelum ikutan berbicara, "heh, kak Jeka juga beruntung dapetin Yera. Lo pikir kenapa kak Jeka tetep mau bertahan padahal banyak cewek cakep mendekat?"
Sontak mereka diam. Lalu ikut mengangguk setuju juga.
"Hm, bener. Kak Yera tuh baik banget mana gak susah diajak temenan. Kayaknya dia gak punya musuh deh," kata adik kelas jadi antusias juga.
Teman yang duduk di sampingnya diam, membasahi bibir bawah memberanikan diri berbicara.
"Kok aku malah ngira kak Jeka itu nggak memandang kak Yera cewek satu-satunya? Cowok gitu tuh... jago banget mainnya. Sering bikin perlakuan manis sampai kita gak sadar sama kesalahan yang dia buat," kata Herin dengan polos tanpa dosa.
**
Yera membereskan beberapa berkas sebelum berjalan keluar dari ruangan OSIS, menjadi anggota terakhir yang pergi dari sini.
Cewek mungil itu bersenandung, menyanyikan lagu Indonesia Raya di kepalanya sambil mengunci pintu sebelum benar-benar pergi dari sana.
Hari sudah mulai larut, Yera terpaksa masih di sekolah habis mengerjakan beberapa proposal bersama Dejun si ketua OSIS.
Ya walaupun anggota lain sudah pulang, Yera tetap tak pulang. Lumayan, wifi sekolah kenceng. Bisa download beberapa episode drakor.
Yera memasukan berkas-berkas tersebut itu ke dalam tas, ia menunduk memperhatikan jalan, takut tersandung.
"Loh, Yer? Kamu belum pulang?"
Merasa dipanggil, Yera mengangkat kepala, menatap Jeka yang masih menggunakan seragam basket lengkap dengan jaket yang belum dipakai.
"Hn, aku belum pulang tadi habis download drakor," kata Yera jujur mengerling polos membuat Jeka terkekeh geli.
"Yaudah yuk, aku anterin," balas Jeka mendekat, merangkul punggung Yera.
Yera mendecih, memasukan tangan ke dalam saku hoodienya. "Ghea masuk cheers. Aku iri," kata Yera tiba-tiba membuka percakapan.
Jeka mengangkat alis bingung, "iri kenapa? Tinggal ikut," sahut cowok itu tak paham.
"Ck, kak!!!! Yang ikut cheers itu harus tinggi, lah aku pendek gini," balas Yera mendengus kesal, merutuki kenapa tingginya harus cuman seketek Jeka.
"Gapapa, aku suka cewek pendek kayak kamu," kata Jeka dengan tenang.
Pipi Yera memerah, cewek itu mendelik sempurna ke arah Jeka karena cowok itu bisa-bisanya bilang kalimat manis dengan wajah datar.
"Tau ah. Badan Ghea bagus banget, tinggi, mana langsing pula. Anjir lah gue bantet udah kayak doraemon," gerutu Yera berhenti di depan parkiran.
Jeka diam mendengarkan dengan seksama. Cowok itu naik ke atas motor dan menyalakan mesin.
"Eh iya, aku baru tau loh Ghea pinter! Lah saingan aku dong ya! GIMANA DONG AKU AJA BELUM BISA NYUSUL HENDERY," sambungnya masih mengoceh panjang.
Yera memajukan bibir, "tapi bangga juga sih punya temen kayak Ghea. Udah cantik, pinter, tinggi, ihhh idaman banget gak sih! Aku jodohin ah sama Hendery—"
"Kamu bisa berhenti gak?"
**
(a/n):
SUMPAH LUPA ANJRIT MAU UPDATE TP LUPA MULU
KAMU SEDANG MEMBACA
Dua Arah
Teen FictionSemua warga di sekolah tau kalau hubungan Yera sama Jeka itu definisi relationship goals. Mereka taunya kalau Yera itu adalah orang paling berharga buat Jeka. Yera itu cewek satu-satunya. Itu sih yang mereka tau. ©️ 2017, written by ssy-pie.
