13. Insiden Di Lapangan

2.7K 495 175
                                        

Di siang hari yang terik, gadis mungil berpipi bulat tembem itu mengomel panjang lebar, membawa gunting di tangannya sambil berjalan menuju lapangan sekolah.

Yera sebenarnya malas datang ke sekolah di hari libur begini. Mendingan nonton upin ipin daripada panas-panasan sampai pusing, karena hari ini Yera memang nggak ada mood untuk ngerjain hal kayak gini.

"Ck, ah, kenapa hari ini sih?! Gue tuh lagi malas tau gak ha? Hanif kayak guguk ya lo," kata Yera mengomel kesal menyebutkan nama ketua OSIS, walaupun sebenarnya tak ada yang peduli.

Di belakang Yera, kedua pemuda tampan itu, Mark dan Dejun diam tak mau menyahuti Yera yang mengomel sambil menggotong tangga besi.

Kalau mereka nyahut, yang ada mereka cuman kena amukannya.

"Lagian kenapa cuman kita doang yang pasangin banner? Gue juga pengen duduk di RO aja sambil siapin hadiah, huhuhu di sana adem, bisa minum es teh juga," gerutunya merengek panjang.

Mereka bertiga berhenti di sisi lapangan, Dejun menaruh tangga tersebut, membenarkan posisinya agar lebih mudah untuk memasang banner di antara pilar sekolah.

"Lo yang naik," kata Mark begitu saja saat Dejun menatap ke arahnya.

Dejun melengos panjang, baru saja akan naik. Tapi ponsel cowok itu berdering nyaring membuatnya jadi berhenti dan mengangkat telepon yang masuk.

"Halo, kenapa, Nif?" tanya Dejun tak banyak basa-basi.

"Eh, Jun. Tolong dong ke parkiran sama Mark bantuin gua bawain kardus minuman," balas Hanif menjelaskan diujung sana.

Dejun mengerutkan kening, "lah, cowok lain kemana?" tanya pemuda itu bingung.

Hanif menghela napas, "nggak ada. Yang lain lagi beli balon sama hadiah. Ada yang lagi ngurus panggung juga," katanya masih berusaha.

"Yera gimana dong? Kasian dia sendirian," sahut pemuda itu menoleh ke arah Yera.

Yera yang mendengar namanya disebut jadi melirik sesaat, kemudian sibuk lagi dengan banner yang di taruh di salah satu anak tangga.

"Pergi aja gapapa, gua tungguin kok sekalian liat anak basket latihan," kata Yera mengerling polos sambil memandangi anak basket yang sedang latihan untuk kejuaraan yang akan datang.

Mark hampir mengumpat mendengar itu, lalu pamit sambil berlari kecil dari sana diikuti oleh Dejun.

Tersisa Yera yang sudah berdiri anteng di pinggir lapangan.

Ia mendesah pelan, memandangi anak cheers yang sedang cekikikan di ujung lapangan sana. Terlihat seperti beristirahat.

Yera menghela napas panjang lagi, lalu
cewek mungil itu mulai menaiki anak tangga, kemudian berusaha untuk menempelkan satu banner diantara pilar sekolah.

"Yera, lo butuh bantuan?"

Yera memekik kaget, hampir meloncat dari tangga karena suara manis itu. Ia melihat Ghea yang mendongkak ke arahnya dengan wajah polos.

"Ah iya, pegangin ya," kata Yera sedikit gemetar, menyadari bahwa ia berdiri setinggi itu.

Ghea mengangguk kecil, memegang kursi diatas meja itu agar tak goyah. Memandangi Yera yang sibuk mengikat banner dengan tali.

Cewek dengan seragam cheers itu menunduk, kemudian menyadari tali sepatunya terlepas. Lalu jongkok dan membenarkan sepatunya.

"Tunggu ya."

Sementara itu Yera tersenyum bangga, menatap satu sisi banner yang sudah terikat rapih. Cewek mungil itu menunduk, berniat untuk mengambil gunting yang disimpan di anak tangga.

Dan Ghea yang baru saja berdiri, menegakkan tubuh jadi terkejut saat kursi di hadapannya oleng dan terjatuh, membuat Ghea refleks mendorong kursi itu ke arah lain.

Keduanya jatuh disisi lapangan.

Suara pekikan keduanya membuat anak cheers dan basket langsung menoleh, berlari kecil mengerubuni mereka.

Yera meringis, merasakan pundaknya yang terbentur dengan aspal. Apalagi cewek itu terlempar begitu saja dengan tubuh mungilnya.

Pandangan gadis itu mulai kabur, kepalanya terasa berat. Ia mengerjap kecil, berusaha untuk terus tersadar. Walaupun pandangan Yera mulai kabur, Yera bisa melihat ada Jeka.

Jeka berdiri di antara mereka, menatap Ghea yang mengerang kesakitan memegangi sikunya yang berdarah karena terpentok aspal.

Lalu menoleh pada Yera yang terlihat tak kalah kesakitkan. Cewek itu memejamkan mata dengan jidat yang berdarah karena tergores.

Waktu seolah berjalan terasa lama. Suara ramai disekitarnya mendadak tak terdengar.

Membiarkan Jeka terlarut dalam perasaan untuk memilih.

Sampai seorang pemuda tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam kerumunan, langsung berlari ke arah Yera begitu saja.

Membuyarkan lamunan Jeka seketika.

Hendery menyelipkan tangannya dibelakang lutut Yera, memeluk pinggang gadis itu yang kemudian mengangkatnya.

Para murid yang ada di lapangan jadi mengerutkan kening bingung, saling merapat satu sama lain. Padahal sudah jelas-jelas cowoknya Yera ada disini.....

Tapi kenapa?




"Gue yang bawa," kata Jeka sambil mengambil alih Ghea dari beberapa cowok yang akan mengangkatnya ke UKS.


Yera bisa mendengar suara itu sebelum kesadarannya hilang.


**

(a/n):

kalau kalian mikir knp cuman jatuh kok bisa pingsan. BISA, gue dulu pernah jatuh ggr hujan dan pingsan karena pusing banget cuy. apalagi yera dari jatuh atas dan tinggi, padahal gue kesoledat doang :(

Dua ArahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang