Ruangan yang seharusnya merupakan sebuah laboratorium itu telah beralih fungsi menjadi sebuah ruangan pertemuan; setidaknya, di sanalah perbincangan mereka malam itu akan bertempat. Sang 'Chiquita' tentunya berada di sana bersama dengan tokoh-tokoh penting lainnya, sekaligus mewakili sahabatnya yang masih harus merawat Camellia di ruangan lainnya di dalam gedung itu. Di sebelah kiri sang wanita, berdiri seorang pemuda berambut perak dengan tubuh kekar bertato, sementara di seberangnya adalah sang ilmuwan bersurai pirang yang kali ini memilih mengenakan coat panjang berwarna gelap. Secara berurutan, mereka adalah Ravi Fitzgerald dan Kenneth Davis. Dominik dan Grace tentunya juga berada di sana sebagai pemimpin dari kawanan Beta. Hubert Alforf juga berada di sana, tak jauh dari pintu. Dengan begini, lengkap sudah.
"Semua yang berkumpul di sini pasti sudah bisa menebak apa yang kira-kira akan kita bahas, bukan begitu?" kekeh Kenneth dengan senyuman di wajahnya- walaupun untuk malam ini, senyuman itu tampak lebih kaku. Ia terlihat cukup serius ketimbang gelagatnya yang ugal-ugalan biasanya.
"Kita sudah merencanakan kudeta ini begitu matang. Rasanya sayang kalau rencana kita gagal karena eksekusi penutupan yang salah," ujar Blaire dengan intonasi yang cenderung tenang.
Dominik mendengus. "Intinya, kita harus membeberkan tujuan masing-masing untuk mencegah 'ekesekusi penutupan yang salah' itu, kan?" Untuk menghindari kesalahpahaman, tentunya.
"Kasarnya begitu. Sebenarnya, tidak masalah jika malam ini kau mau berbohong."
"Siapa yang akan mulai?"
Hubertlah yang pertama kali mengemukakan tujuannya. "Awalnya, aku hanya ingin menghentikan semua proyek mutasi ini namun sekarang, aku menyadari bahwa aku hanya bisa melakukannya apabila aku bisa menggantikan posisi ayahku."
Mendengar ucapan pemuda itu, sang pemimpin Beta berdehem. Ya; ia juga mengincar posisi itu- namun tujuannya sekarang, lebih mengarah pada balas dendam. Tadinya, ia begitu menginkan kekuasaan, sampai wanita yang kini menggenggam tangannya erat menyadarkannya bahwa itu bukanlah keinginannya yang sesungguhnya. "Aku akan mengambil kekuasaan itu aku ada kesempatan- walaupun, aku lebih menginginkan menyingkirkan 'orang itu' selama-lamanya."
Grace menggelengkan kepalanya ketika Blaire menanyakannya apa yang ia inginkan. Apa yang ia inginkan sudah disebutkan oleh yang lainnya,dan ia tidak punya kepentingan pribadi dalam hal ini. Maka, kesempatan bicara selanjutnya jatuh pada sang ilmuwan.
"Teknologi dan riset milik Alpha; aku tidak peduli pada kekuasaan. Aku menginginkan kekuasaan."
Nada bicara Kenneth begitu dingin, dengan manik yang menatap lurus dan tajam; entah kebetulan atau apa tertuju pada sosok sang 'Chiquita'.
"Aku hanya menginginkan Noir kembali," ujar Blaire selanjutnya. Persetan dengan keinginan orang banyak. Ia hanya ingin menyelamatkan orang yang ia cintai, meskipun alasan ini terdengar sangat klise dan sederhana untuk rencana sebesar ini. 'Jangankan perang; untukmu, aku akan menciptakan revolusi.' Noir pernah mengatakan itu padanya dan sekarang Blaire tahu ialah yang akan menciptakan revolusi pria yang ia cintai.
Perubahan raut di wajah Ravi cukup kentara ketika sang wanita mengatakan hal itu. Tanpa sadar, tangannya menggenggam erat sebuah tiang besi di sisinya dan membuatnya penyok. Decit besi tentunya dengan mudah terdengar oleh mereka yang berada di ruangan itu sangking heningnya, namun mereka memilih untuk pura-pura tidak menyadarinya.
Bahkan Blaire sendiri. Ia bahkan tidak berani untuk menoleh pada pemuda yang berdiri kurang dari dua meter di sisinya. Lantas, wanita itu melajutkan kalimatnya, kali ini untuk mewakili sahabatnya. "Leonel hampir sama denganku. Tujuannya hanyalah menyelamatkan 'Camellia' yang sekarat saat ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Amaranthine
Ciencia FicciónDi masa depan, percobaan pada manusia terus dilakukan demi menciptakan ras manusia yang lebih baik dari sebelumnya; lebih cerdas, lebih kuat, tahan terhadap berbagai penyakit, atau bahkan hidup abadi. Sebagai seorang Alpha, Blaire hanya menginginkan...
