Blaire tahu kesadarannya telah kembali walaupun ia tidak bisa membuka matanya. Entah ada di mana ia sekarang, atau bagaimana keadaannya sekarang. Apakah obat bius itu masih bekerja? Kalau iya, mengapa ia masih bisa tersadar? Ia tidak begitu ingat bagaimana jarum-jarum tersebut ditusukkan menembus kulitnya hingga menemui aliran darahnya di beberapa tempat; tanpa obat bius pun sebenarnya ia tidak merasa tusukan jarum suntik sebegitu menyakitkan.
Jarum tersebut ditarik keluar, meninggalkan ujung pipa kecil yang masih terasa mengganjal di tubuhnya. Mungkin pipa itu akan memasukan sesuatu ke dalam tubuhnya atau malah menariknya keluar. Ia tidak tahu apa seharusnya ia terbangun saat ini atau tidak- sedikit, ia mencoba menggerakan tangannya.
"Detak jantungnya meningkat."
Ia bisa mendengar suara salah seorang wanita yang pastinya berada di ruangan itu pula. Suaranya terdengar samar, berdengung di gendang telinganya. Ia bisa mendengar suara beberapa orang lain, cukup banyak, walaupun menurutnya jumlah asli dari mereka yang berada di sana kurang dari apa yang ia pikirkan. Setidaknya sekarang ia menemukan konklusi kalau apa yang ia pikirkan akan mempengaruhi detak jantungnya.
"Injeksi dimulai."
Degh.
Seketika terasa ada cairan yang dialirkan masuk dari nadi kirinya. Pada awalnya cairan tersebut terasa dingin namun mengalir dengan lembut mengikuti aliran darahnya, namun di detik berikutnya, rasa dingin itu seolah mencabik setiap inci tubuhnya, mengancurkannya menjadi butiran-butiran kecil.
Sakit, sangat sakit. Ia bersumpah ia tidak pernah merasakan sakit yang lebih dari pada ini.
Bisa dikatakan, rasa sakitnya mirip dengan apa yang ia rasakan dalam beberapa kali ia datang bulan; pembuluh darahnya terkonstriksi secara ekstrim sehingga terasa seolah ada sesuatu yang mencengkram kuat isi perutnya dan memerasnya. Hanya saja, kali ini, kejadian itu terjadi dalam skala yang lebih besa, yakni di seluruh titik di tubuhnya, di mulai dari di mana cairan tersebut pertama dialirkan.
Pembuluh darahnya sendiri yang mengantarkan cairan itu; cukup mengerikan untuk merasakan ketika sensasi beku itu mengalir sampai ke bagian terujung dari kapilernya. Ia tidak bisa merasakan tubuhnya sangking perihnya.
Semakin lama semakin terasa berat untuk jantungnya memompa darah dan cairan itu di dalam tubuhnya. Oksigen seolah enggan untuk mengisi relung alveolusnya, atau memang paru-parunya telah kehilangan daya. Sesak, ia tidak bisa bernapas.
Rasanya ia ingin mencengkram sesuatu begitu cairan itu mencapai jantungnya, walaupun, sensasi dingin itu tampaknya tidak mengakibatkan apa-apa pada jantungnya. Ia seolah hanya lewat begitu saja. Jantung itu pula yang kemudian memompa darahnya ke dalam paru-parunya, di mana ia kembali bisa merasakan cairan itu menghancurkan setiap inci kapiler paru-parunya; ia bahkan heran bagaimana ia bisa tetap hidup dengan keadaan demikian. Bagaimana cara paru-parunya bekerja sekarang?
Ia tidak mau mengingat-ingat lagi betapa horor rasanya ketika jantungnya juga yang mengirimkan campuran darah itu ke peredaran darah bagian atasnya Beku itu menemukan sebuah titik di otaknya, dan mulai menggerayangi sel-sel syarafnya.
Lantas, kesadarannya kembali menghilang.
Beberapa menit berselang, atau jam? Atau jangan-jangan hari? Dalam masa kekosongan itu, kesadarannya hilang timbul untuk beberapa detik. Ia sempat merasa frustasi ketika ia tersadar untuk beberapa detik, hanya untuk mendengar teriakan Noir yang menggaung di telinganya. Tidak, ia tidak pernah melihat Noir sedepresi itu untuk berteriak. Ia adalah tipe orang yang bisa menyimpan perasaannya dengan baik.
Blaire ingin segera bangun dan memeluk pemuda itu, meyakinkannya ia hanya tinggal menunggu. Ia masih sadar, ia tidak apa-apa. Sayangnya, kesadarannya kembali direnggut darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amaranthine
Fiksi IlmiahDi masa depan, percobaan pada manusia terus dilakukan demi menciptakan ras manusia yang lebih baik dari sebelumnya; lebih cerdas, lebih kuat, tahan terhadap berbagai penyakit, atau bahkan hidup abadi. Sebagai seorang Alpha, Blaire hanya menginginkan...
