Happy reading! Sorry typo everywhere!
Biasakan klik ⭐ di pojok itu ya sebelum membaca. Lebih mudah daripada menulis cerita kok😊
***
"Kamila! Kamila tunggu!"
Seorang pemuda dengan seragam putih abu-abunya berusaha mengejar Kamila dan berhasil menangkap lengan gadis itu.
"Lepasin!" Kamila memberontak ketika ia sudah berada dalam kukungan pemuda yang memanggilnya tadi.
"Sssh, Kamila, maaf. Dengerin aku dulu, please," pintanya.
"Mau kamu apa sih, kak?"
Pemuda itu mendengus. Ia tidak suka ketika gadis itu memanggilnya dengan menggunakan 'kak'. Terdengar seperti orang asing yang memanggil dan seolah jarak di antara mereka jauh sekali, padahal hanya berbeda umur setahun.
"Jangan panggil aku 'kak' lagi. Kamu tau, kan, aku paling nggak suka kamu panggil 'kak'. Kita hanya berbeda setahun, bahkan hanya beberapa bulan saja, Kamila." Ia melepaskan kukungan tubuh Kamila serta pergelangan tangan gadisnya.
"Please, balikan sama aku ya, Mil."
"..."
"Kamila."
"Diego, aku nggak bisa. Sorry." Kamila mempercepat langkahnya, namun kali ini berhasil dicegat Diego.
"Kenapa?"
"Diego, kamu tau sendiri, kan, kita udah nggak bisa backstreet lagi. Hubungan kita udah ketahuan dan keluargaku nggak ngebolehin aku pacaran. Jadi, please, biarin aku pulang ke rumah."
"Aku janji, Mil, nggak akan ada pegangan tangan atau sentuhan lain di antara kita. Kita pacaran sehat."
"Hah?"
Kamila tertawa mendengar penuturan Diego. Pacaran sehat katanya?
"Nggak ada pegangan tangan dan sebagainya, tapi kita tetap kencan seperti biasa. Bagiku itu nggak masalah sama sekali asal bisa sama kamu, Mil."
"Maaf, Di, aku tetep nggak bisa. Aku nggak mau dinikahin tiba-tiba kalau ketahuan pacaran."
"Kamila."
"Dek."
Sebuah suara menginterupsi pembicaraan mereka berdua, membuat keduanya menoleh. Kamila bahkan membelalakkan matanya terkejut mendapati Rio yang kini berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu mengkode Kamila supaya menghampirinya.
"Aku duluan, ya, Di. Udah dijemput." Kamila tersenyum dan membalikkan badan."DIEGO!" Ia memekik kaget saat tiba-tiba Diego sudah meninju bagian pipi sahabat dari kakaknya.
"Jadi om tua ini yang sekarang jadi pilihan kamu, Mil? Kamu mau sama dia karena kalau kalian ketahuan dan dinikahin tiba-tiba kamu nggak perlu takut karena dia udah mapan?" tanya Diego sinis saat Kamila malah membantu Rio untuk berdiri.
"Kalau iya, emang kenapa? Kalau nggak, apa yang mau kamu lakuin? Om Rio ini sahabat mas Akmal dan kami nggak ada hubungan lebih! Om Rio bahkan jauh lebih baik dari kamu, Di!"
Diego terhenyak.
Jadi om-om itu bukan–aih, sial!
"Kalau kamu masih mau ngomong sama aku, dinginin dulu kepalamu," ujarnya sebelum mengikuti Rio masuk ke dalam mobil, meninggalkan Diego dalam kesendirian.
***
Hari ini Rio sengaja menjemput Kamila karena ia sudah diberi titah oleh sahabatnya, Akmal. Pria tampan beranak satu itu bilang ada hal yang perlu dibicarakan dengan adiknya namun ia tidak bisa menjemput Kamila karena kerjaannya sedang menumpuk saat ini.
Siapa sangka, kehadirannya di sekolah Kamila justru malah disambut oleh bogem mentah dari orang tak dikenal, yang ia yakini orang tersebut menyukai adik dari Akmal.
"Om Rio maafin dia, ya," sesalnya.
"Hmmm."
"Gara-gara gue, om jadi kena tinjunya Diego."
Oh, jadi itu yang namanya Diego?
"Kayaknya dia masih belum bisa nerima untuk putus sama kamu. Seharusnya tadi kamu langsung balikan aja, biar saya nggak kena getahnya."
Kamila mendelik tidak suka. "Kok bicaranya mendadak formal, sih, om?"
"Loh, sepertinya kamu tidak protes saat di rumah kamu saya pakai 'saya-kamu'."
"Iih, gue kan nggak ngeh, om."
"Lagipula saya ini memang lebih tua dari kamu, kan? Harusnya kamu juga ngomongnya sekarang lebih sopan ke saya. Pakai bahasa formal."
"Terserah."
Gadis itu benar-benar malas meladeni sikap Rio yang mendadak aneh, membuat moodnya yang sedang buruk kini bertambah.
Menyadari hal tersebut, Rio hanya menghela nafas pasrah dan menghidupkan radio, memecah keheningan di antara mereka.
***
"Mas Akmaaal." Kamila segera menghambur pada pelukan kakaknya.
Karena Akmal sudah memiliki rumah sendiri, tentu saja ia kangen walaupun ia masih bisa sering main ke perusahaan. Padahal sebelum menikah—tepatnya ketika masih kuliah pun Akmal juga sudah sering tinggal di rumah hasil jerih payahnya sendiri.
"Mulai deh manjanya keluar. Nggak ingat udah punya keponakan? Hmmm?" Akmal menjawil hidung adiknya gemas.
"Huuu." Kamila mengerucutkan bibir kesal. Ia melepas paksa pelukannya yang ditahan oleh Akmal.
Akmal terkekeh dan hanya mengusap-usap pelan rambut panjang sang adik.
"Ada apa sih, mas, kok dikumpulin gini?" tanya Kamila.
"Mas mau kasih tau kalau kamu juga ikut nanti saat peresmian resor mas yang ada di Lombok. Mungkin Ghea udah tau dari bini gue, Di, jadi lo nggak usah ngasih tau dia lagi."
"Gratis, kan, bro? Kita kan juga ikut ngawasin pembangunan resor lo yang di Lombok."
"Sama aja lo kayak tunangan lo, Di. Sukanya yang gratisan!" cibir Akmal membuat Dio, Rio, dan Kamila terkekeh.
Sifat Ghea yang satu itu memang sudah diketahui oleh sahabat-sahabat Akmal, bahkan Kamila, adiknya Akmal. Karena antara sahabat Akmal, Kamila, maupun sahabat Aliya sudah sangat dekat.
"Iya dong, Mal. Meskipun sama-sama pengusaha, perusahaan lo masih yang paling gede di antara kita bertiga. Dan emang alamiah itu kalau manusia suka yang namanya 'gratisan'," jawab Dio.
"Tiket dan yang lainnya gratis. Tapi kalian jadi babysitter dadakan anak gue. Gimana?" tawar Akmal. "Gue sama bini gue butuh quality time berdua, nih," kekehnya pelan.
"Beres," jawab Rio.
"Yang penting gratis," tambah Dio.
Bibir Kamila mengerucut mengingat bahwa sahabat kakaknya pasti membawa pasangan masing-masing. Tidak mungkin juga ia mengajak Diego kan?
"Kalau yang lain sama pasangannya, Kamila sama siapa, mas? Jadi obat nyamuk lagi, deh!" kesalnya.
Rio terkekeh. "Sama saya aja, neng. Tenang aja, saya juga jomblo."
"Enak aja adek gue lo embat. Tasya lo kemanain Yo?" tanya Akmal yang digubris kekehan kecil Rio, yang masih menyembunyikan status barunya dari Akmal.
Sementara Kamila yang masih kesal dengan Rio mendelik geli.
Mana sudi ia dengan Rio. Benar kata Diego, Rio terlalu tua untuknya. Mungkin ia bisa mempertimbangkan permintaan Diego kembali walaupun nama Diego di hatinya sebenarnya sudah terkikis secara perlahan.
***
Terima kasih bagi yang sudah mampir untuk baca dan menyempatkan vote-komen serta memberi kritik-sarannya. Laff ❤
Follow ig : im.hyera 😊
14 Juni 2017
Revised : 1 April 2018
Republish : 9 Mei 2019
KAMU SEDANG MEMBACA
On the Way to Halal
Spiritual"Kamila, aku serius akan menjadikanmu halal untukku." -Arion Arshad Pradipta- • ARDICANDRA'S FAMILY SERIES MY 3RD STORY • Dilarang men-copy paste cerita ini karena ini murni hasil pikiran dan imajinasi saya. Allah Maha Melihat, Maha Meng...
