Bab 6

1.2K 132 3
                                        

Dedication for DF_Rost. Thx for helping me learning more about the 10 Knox rule.

Jane

"Jadi? Bagaimana isinya?"

Sera menatap ketiga buku itu dengan lesu. "Antara bagus dan kelelahan."

Wajar bila dia lelah. Memangnya siapa yang tidak lelah setelah membaca tiga buku tebal? Aku justru akan terkejut bila dia tidak lelah sama sekali.

"Isinya cukup bagus. Dia mungkin sengaja membuat ending-nya lebih greget dan mengejutkan. Tapi aku sedikit tidak suka kalau dia tidak diberi banyak petunjuk kepada pembaca maupun tokoh-tokoh lainnya. Kurang sportif."

Aku sama sekali tidak paham maksud Sera. Setahuku buku dengan tipe semacam itu sudah ada di berbagai toko. Jadi buat apa dipermasalahkan? Sungguh, sebetulnya bagaimana bisa Hans mampu bertahan dengan keberadaan Sera Sarasvati?0

"Lalu?" tanya Mark lelah, sepertinya kurang tidur. Bukan hal baru buatku.

"Kau dan Hans sudah memberitahuku soal apa saja yang masih ada di TKP. Kudengar, kau menemukan catatan yang bertuliskan kematian 13 tahun lalu, bukan?"

"Iya, kenapa?"

"Sudah selidiki?"

Aku mengangguk pelan. "Sekitar tahun 2003, gue menemukan adanya empat kejadian berbeda di sini. Yah, daerah sini memang daerah yang rawan kecelakaan sih jadi wajar kalo jarang ada kejadian mengemparkan. Tapi tahun itu cukup nggak menyenangkan.

"Pertama, perampokkan di rumah kepala desa yang memakan korban yakni istri kepala desa, Susani. Mereka hendak mencuri Hera Diamond, berlian milik Susani yang merupakan hadiah pernikahan. Tapi di tengah-tengah kejadian, Kades Marda terbangun dan nggak sengaja mempergoki kawanan perampok tersebut. Salah satu diantara mereka menyerang Kades Marda dengan pisau tapi berakhir dengan Susani yang kena lukanya. Dia mati seketika. Pak Kades mengatakan bahwa ada sekitar 5 perampok yang datang saat itu. Hingga kini keberadaan kawanan perampok itu masih diselidiki."

"Bagaimana dengan Pak Marda?"

Aku menghela napas panjang. "Gue baru mau bahas soal itu."

Hans menegakkan tubuhnya. "Jangan bilang kalo dia mati terbunuh."

"Bukan dia, tapi anaknya."

Ketiganya mengeluarkan reaksi yang berbeda. Hans melototku seakan aku baru saja memenangkan lotre menguntungkan; Mark nyaris terjungkal ke belakang; Sera menatap lantai dengan pandangan keraguan.

"Anaknya? Kenapa bisa?"

"Nggak tahu. Tapi sekitar satu bulan setelah kejadian perampokkan, salah seorang teman tetangga Pak Marda sadar kalo Reza, anak Pak Marda, menghilang tanpa kabar. Sehari kemudian, mereka menemukan mayat Reza di kamar kost dekat rumahnya. Mayatnya tersimpan di dalam koper pribadinya."

"Aku jadi teringat pada cerita Death On The Nile," ujar Sera. "Poirot dan Kolonel Race menemukan mayat kedua dalam koper di kabin kapal."

Mengabaikan ucapan Sera, aku meneruskan. "Penyebab kematiannya berupa puluhan tusukan di sekujur tubuh. Kasus itu terpaksa ditutup dengan hasil yang kurang memuaskan."

"Lalu yang ketiga?"

Aku kembali memeriksa ponsel sembari mengecek situs internet (ya, aku mengecek lewat internet. Ini kan sudah zaman modern). "Ketiga, kasus bunuh diri Bu Farman."

Hans menatapku lagi. "Bunuh diri?"

"Ya. Tidak lama setelah kematian istri dan anak Pak Marda, Bu Farman, pembantu rumah tangga keluarga Pak Marda, bunuh diri. Dia ditemukan meninggal karena tusukan dalam di perutnya di tengah hutan desa. Oh ya, sebelum ditemukan di hutan, dia dikabarkan menghilang selama seminggu."

Jejak Keheningan [3]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang