Mark
"Apa yang kalian lakukan?!"
Aku hanya bisa memasang wajah tidak peduli begitu Hans mulai berbicara. Beruntunglah aku dan Neng sudah jauh dari tempat tadi dan kembali ke hotel. Tapi sialnya, kami tidak bisa menghindari kehadiran Hans Bristow dan Sera Sarasvati.
"Ini bukan urusan lo, Han," jawabku spontan. "Lo pasti nggak akan setuju soal rencana Neng. Lagipula, kita sekarang tahu kalo ada orang lain yang ikut campur urusan kita."
"Bukan itu masalahnya," ucap Sera lalu berdiri menatap kami berdua satu-satu. "Aiptu Darto dan cowok bernama Clay itu pasti akan lebih berhati-hati lagi karena kalian membuntutinya. Dan mereka akan lebih waspada lagi pada kita."
"Oh, jadi ini salah kita berdua? Begitu?" tukas Neng kasar. Wajahnya terlihat marah. "Harusnya lo berdua tahu kalo kedua orang itu sudah mencurigai kita semenjak kita datang ke sini. Terutama si Clay-apa-pun-namanya itu."
"Aku tahu itu," balas Sera. "Memangnya kaukira kenapa aku begitu jarang keluar?"
"Oh. Entahlah. Mungkin karena teman gue sendiri ternyata berlagak sok-sok rahasia?" ujar Neng sambil mendekati Sera. "Merahasiakan apa saja, bahkan pada 'teman'-nya setiap saat? Gue bahkan ragu kalo lo itu sebetulnya orang baik, Ra. Gue curiga, apa selama ini lo adalah orang dibalik semua kekacauan ini. Bermain rahasia di belakang gue, bertingkah seakan-akan gue ini orang idiot sedunia, dan merencanakan seluruh ide ini?"
Sera tidak mengeluarkan ekspresi apa-apa. "Apa maksudmu?"
"Jangan berlagak seakan lo nggak tahu apa-apa, Sera Sarasvati! Jangan!" teriak Neng.
"Jen," kata Hans memulai. "Mungkin sebaiknya kamu--"
Neng menepis uluran tangan Hans. "Shut up! Lo juga nggak ada bedanya dengan cewek penipu ini! Lo pikir gue bodoh? Cowok bernama Clay itu tahu soal lo. Dia tahu kalo gue dan Mark berteman sama lo, Hans Bristow. Darimana dia tahu soal lo?"
Hans kehilangan kata-kata. Dia hanya berdiri saja, tanpa menatap satu pun diantara kami berlima.
"Itu bukan urusan lo," ucapnya setelah diam.
Sementara itu, Neng hanya bisa tertawa miris dengan amarah yang masih membara di matanya. "Ternyata selama ini gue berteman sama pembohong dan penipu. Picik banget hidup gue."
Tanpa aba-aba, Neng pergi dari kamar Sera diiringi bantingan pintu. Pada akhirnya, aku berkata, "Oke, lo berdua jelas-jelas perlu ngasih gue penjelasan."
Hans mendesah. "Masalahnya jauh lebih rumit, Mark. Gue nggak yakin lo bakal paham."
"Masalah? Masalah yang mana? Mind?"
Sera menggeleng. "Bukan hanya Mind. Tapi ini tentang Jane."
Neng? Kenapa Neng? Memangnya apa masalahnya dengan Neng?
"Gue nggak paham."
"Mark, sejauh mana lo tahu soal masa lalu Jane saat menjelang kenaikan kelas 9?"
"Gue jarang ke rumah Neng waktu kenaikan kelas 9 karena nyokap gue dan nyokap Neng ngelarang gue menjenguk Neng. Waktu gue tanya kenapa, mereka nggak mau menjawab. Gue jadi bete sendiri." Langsung saja sebuah pemikiran muncul mendadak. "Apa mungkin dia mengalami kejadian menyeramkan?"
Sera terlihat ragu sementara Hans terlihat berpikir keras. Ah, ini dia. Mereka pasti sungkan untuk menjawab pertanyaanku.
"Oke deh. Gue nggak akan tanya soal itu," kataku akhirnya.
"Lo nggak marah?" tanya Hans.
"Oh, gue sangat marah, Hans. Tapi..."
"Tapi?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Keheningan [3]
Mystery / ThrillerThe Grudge Series #3 Dalam rangka mencari tahu si dalang berinisial "Mind", Jane dan kawan-kawan mulai melakukan pencarian tentangnya. Yang tak diduga, ternyata orang itu melakukan sebuah pertaruhan apabila mereka mau mencari tahu tentang dirinya le...
![Jejak Keheningan [3]](https://img.wattpad.com/cover/83910101-64-k944621.jpg)