Bab 9

1.1K 114 12
                                        

Hans

"Lo cuma bilang sama Jane saja alasan kenapa kita berdua main rahasia. Dia bakal paham kok."

Sera menghela napas. "Kamu tahu apa katanya. Kita tidak boleh memberitahu apa pun mengenai tugas kita kepada Jane Olivia sebelum tuntas. Lagipula, kamu itu terkadang terlalu lunak. Kalau kebiasaanmu itu tidak berubah, posisimu sebagai anggota penting akan kacau."

"Jangan ingatkan gue soal itu," jawabku bete. "Tahun ini umur gue bakal beranjak 17 tahun. Gue bisa menanganinya."

"Terserah." Gadis itu berjalan mendekati laci meja dan mengeluarkan beberapa halaman koran lama desa. "Baiklah. Mari coba kita fokuskan pada kasus ini. Mungkin saja kita mendapat petunjuk dari kasus ini."

Beginilah Sera. Selalu to the point dan serius. "Oke. Berdasarkan informasi yang Mark dan Jane dapatkan, Pak Vicen pernah berselingkuh dengan Bu Susani yang sudah bertunangan dengan Kades Marda semenjak SMP. Ini jelas-jelas bukan hal sepele. Skandal semacam itu bisa-bisa membuat seisi desa gempar sekali. Aib semacam itu bukanlah hal yang mau lo bawa-bawa kan?

"Dan lagi, keempat kejadian itu."

"Perampokan rumah Kades Marda yang merengut nyawa istrinya; pembunuhan sang anak, Reza; bunuh dirinya Bu Farman, sang pelayan, di hutan; kecelakaan mobil Pak Louis, suami Bu Farman," guman Sera sambil berpikir. "Kita perlu menanyai pihak keluarga terlebih dahulu."

"Sayangnya itu tidak mungkin," ujarku. "Orangtua Kades Marda sudah lama meninggal karena kecelakaan di sungai. Keluarga Bu Susani sudah pindah 4 tahun lalu. Sementara keluarga Pak Loius dan Bu Farman saling membenci satu sama lain, mendorong kedua orang itu untuk kawin lari. Tapi--"

"Tapi?"

"Tapi... aku tahu darimana kita mendapatkan informasi."

"Oh ya? Dari siapa?"

Aku tersenyum kecil sambil mengetik di ponsel. "Irga Damanusa, kakak Marda Damanusa."

***

Irga Damanusa jelas-jelas berbeda jauh dengan adiknya. Kepalanya botak penuh, (bukannya berlagak tidak sopan tapi kenyataannya begitu), wajahnya terlihat suram, sementara matanya terus menerus menyelidik kami berdua, bertanya-tanya apakah kami pantas mengunjunginya.

"Jadi... kalian mau bertanya soal adikku dan adik iparku?" tanyanya dengan suara bariton serak.

Sera mengangguk. "Ya. Anda tak keberatan?"

"Tidak. Aku sudah sering berbuat begini. Silahkan masuk."

Rumat Pak Irga terlihat nyaman dan sederhana. Ada dua sofa besar terletak di ujung ruangan sebelah kiri dengan meja sebagai penengah. Berbagai rak-rak buku berjajaran rapi dengan variasi.

"Mau teh? Kopi? Susu?"

"Kopi," ujarku sementara Sera berujar, "Teh."

Begitu Pak Irga menyerahkan minuman kami, beliau duduk di sofa sebelahku. Punggungnya bersandar penuh dengan sofa di belakangnya.

"Jadi... silahkan bertanyalah."

Sera memutar cangkir tehnya dengan pelan-pelan. "Seberapa Anda mengenal Bu Susani?"

Alis pria tersebut menaik. "Seberapa kenal? Kurasa tidak terlalu banyak. Susani adalah wanita baik-baik. Kami dulu bertetangga sebelum Ayah menjadi Kades. Susani lebih sering bermain bersama Marda daripada aku sendiri."

"Bagaimana dengan keluarganya?"

"Ibunya tunawisma sementara ayahnya pemabuk bodoh." Ketika mengatakannya, ada nada meremehkan dan menyebalkan yang dipakai bersamaan.

Jejak Keheningan [3]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang