"Ada satu hal yang pasti dan telah dibuktikan oleh sejarah, bahwa manusia adalah makhluk yang sampai kapan pun tidak akan bisa saling memahami." -Pain
"Jangan lagi jatuhkan hati pada si pembuat patah hati."
***
Setelah malam itu, aku dan Kak Ganjar semakin dekat. Kami semakin sering mengobrol dan bertukar kabar. Ini semacam perjodohan yang terpaksa, namun kami berjanji akan belajar memahami satu sama lain. Seperti biasa kami berangkat bersama ke sekolah.
Setibanya, Kak Ganjar dikejutkan dengan kehadiran Kak Adinda. "Jar, aku mau ngomong sebentar."
"Gue gak punya waktu,"
"Aku mohon Jar," pinta Kak Dinda dengan memelas. Ia menggenggam tangan Kak Ganjar namun seketika ditepis oleh Kak Ganjar.
"Aku duluan Kak, sepertinya ada sesuatu yang perlu kalian selesain." potongku kepada Kak Ganjar. Aku tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka. Kak Ganjar menahan lenganku. "Maaf," ucapnya.
"Aku gak papa Kak," aku segera meninggalkan mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Kak Ganjar.
"Sebaiknya jangan di sini, ikut aku." titah Kak Dinda. Mereka berdua pun pergi ke belakang sekolah. Mereka saling menatap satu sama lain. "Cepet langsung intinya aja," ucap Kak Ganjar.
"Jar, aku yakin kamu gak suka kan sama Abirah?"
"Masih belum, tapi akan."
"Jar, aku mohon jangan. Aku yakin hati kamu masih buat aku kan? Kamu jangan nyerah gini dong, kita bisa sama-sama perjuangin cinta kita. Biarin aku ketemu Papa kamu Jar, biar perlahan juga aku bisa ngambil hati Papa kamu." Kak Dinda mulai mendekati Kak Ganjar. Ia memeluknya erat. Kak Ganjar juga tak menolak, ini mungkin akan menjadi terakhir kalinya ia dapat memeluk wanita yang selama ini ia cintai.
Kak Ganjar perlahan melepas pelukannya, "Maaf Din, lo tahu kan gue gak bisa nolak apa yang Papa mau?"
"Iya aku tahu Jar, maka dari itu aku bakal berusaha ambil hati Papa kamu. Tolong Jar, aku cinta kamu." Kak Ganjar memeluk Kak Dinda kembali. Ia mengusap pipi Kak Dinda yang berlinang air mata. "Din, gue paling gak suka lo nangis," ucapnya.
"Kalo gak suka jangan buat aku nangis dan tetep jadi pacar aku," pinta Kak Dinda. "Gue gak bisa," kata Kak Ganjar.
"Emangnya setelah kita putus, kamu harus ngomong sama aku pake gue-lo ya?"
"Ya sepertinya gak enak kalo aku-kamu, maaf. Lo juga tahukan kalo Papa gue punya penyakit jantung jadi gue gak bisa buat dia marah atau sakit. Gue emang masih suka sama lo, tapi bukan berarti gue harus buta sama cinta dan jadi anak durhaka. Lagipula gue udah ngerasa cocok sama Abirah."
Adinda menangis kembali. Ia tak dapat lagi menampung seluruh kesedihannya. Kak Ganjar percaya Adinda adalah wanita yang kuat. Ia juga tak mungkin dendam kepada Abirah. Kecuali ada noda hitam atau kicauan pedas orang lain yang merasukinya. Ia bak kertas putih, akan sangat gampang ternodai namun aslinya ia sangat suci.
"Jar kalo gitu, aku do'ain kalian bahagia. Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu. Aku ikut seneng kalo kamu seneng. Tapi jangan larang aku buat khawatir sama kamu. Aku sayang kamu." ucap Adinda dengan wajah yang dipaksa-paksakan berseri.
"Din?"
"Hm?"
"Gue minta lo jauh-jauh dari Abin," Adinda memasang wajah penasaran. Lalu ia tersenyum, ia menganggukkan kepalanya tanda bersedia. "Lo gak nanya kenapa?"
Adinda hanya tersenyum, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Gue percaya sama lo, apa yang lo minta buat kebaikan gue kan?"
Kak Ganjar kembali tersenyum, sekarang ia merasa lega. Ia sangat jarang tersenyum tulus, tapi bila bersama Adinda ia sangat nyaman dan bahkan selalu ingin tersenyum. Sebenarnya ia tak ingin melepaskan wanita yang sangat ia cintai itu.
Kak Ganjar merangkul tubuh wanita yang ada di hadapannya itu. Ini bisa menjadi yang terakhir kalinya. Tapi siapa yang tahu takdir antara mereka. Setelahnya Kak Ganjar pergi meninggalkan Adinda sendirian. Ia berjalan dengan segenap perasaan bersalahnya.
***
Aku dan Rahma tengah asyik menikmati bakso di kantin. Tiba-tiba Abin duduk di sampingku. Aku segera bergeser. "Lo ngapain di sini?" tanyaku. "Lo boleh benci sama gue, tapi tempat ini bukan milik lo jadi terserah gue mau duduk di mana,"
Dan setelah itu, Arghi tiba-tiba duduk di hadapanku. Tapi tatapannya tertuju kepada Abin. "Bin makan bareng gue aja di sana," ucapnya sembari menunjuk ke arah pojok kantin. Abin segera membawa mangkuk baksonya dan segera berpindah ke tempat yang tadi ditunjuk Arghi.
"Maafin Abin ya," kata Arghi dengan senyuman tipisnya seraya pergi meninggalkanku. Hatiku sedikit sakit. Rasanya peluru telah mengoyak habis dadaku. Aku segera menghabiskan makananku.
"Gue ke kelas duluan ya Rah," ucapku sembari bangkit. Rahma menarik lenganku. "Lo harus bersikap wajar Rah, jangan tunjukin kecemburuan lo." ucap Rahma.
"Gue gak cemburu!" ucapku seraya pergi ke kelas. Aku berlari sekencang mungkin ke kelas. "Kenapa?" tanya seseorang di sampingku.
"Enggak kenapa-kenapa kok Kak," ucapku meyakinkan. Bel pulang sekolah pun terdengar. Aku segera mengajak Kak Ganjar untuk pulang. Hanya saja, kali ini aku merindukan kehangatan kamarku.
Langkahku terhenti ketika Arghi tiba-tiba ada di depan pintu kelas. Dia mencekal tanganku dengan paksa lalu menarikku ke parkiran. Kak Ganjar mencoba melepaskan namun ia mengalah dan membiarkan aku pergi dengan Arghi.
"Lo pulang bareng gue ya, gak nerima penolakan." Aku hanya membelalakkan mataku. Aku segera melepas tangannya yang sedari tadi menggenggam tanganku. "Maksud lo apa?! Gue gak mau pulang sama lo, emang lo siapanya gue? Gue minta lo jangan ganggu gue lagi dan berhenti buat gue berharap!" ucapku dengan nada tinggi.
"Berharap? Maaf Rah gue gak maksud begitu," ucapnya murung. "Tapi, lo masih ngarepin gue?" tanya Arghi.
"Buat apa gue ngarepin lo, buang-buang waktu aja." ucapku seraya pergi. Arghi tersenyum kecewa. Ia sudah tahu sekarang, siapa yang pantas ia perjuangkan. Meskipun hatinya berbeda pendapat, namun ia sudah memutuskan hal yang tak akan tergoyahkan oleh apapun.
"Ternyata gue emang salah berfikir buat merjuangin lo lagi Abirah," batin Arghi.
Aku segera mencari Kak Ganjar, dan hasilnya nihil. Kemungkinan besar Kak Ganjar sudah pulang duluan. Lalu aku berjalan mengendap-ngendap melewati parkiran. Aku tak mau bertatap muka lagi dengan Arghi. Aku segera bergegas ke halte.
Rasanya sesak ini masih terukir di dada. Suara bariton itu masih terngiang di telinga. Ini saatnya aku berhenti mengharapkannya. Aku tak sadar, tadi di kantin aku berharap ia menghampiriku dan berbicara lama denganku. Tapi ternyata ia malah berbicara dengan Abin. Ini di luar dugaanku. Aku masih mengharapkannya.
***
Tbc
Terimakasih sudah membaca
Play music in mulmed.
Kuhanya bisa berharap kau bahagia disana
Dengan dia pilihanmu
Walau dia sahabatku
Biar aku yang pergi
Biar aku yang tersakiti
Biar aku yang berhenti
Berhenti mengharapkanmu
(Aldi Maldini - Biar Aku Yang Pergi)
Follow ig : salwa.mld
Id line : salwamlda15
KAMU SEDANG MEMBACA
ABIRAH [Completed]
Teen FictionAda gadis dungu yang kebingungan. Ia bersedih akan sesuatu yang ingin sekali ia miliki. Terenta membisu, tertatih meronta, pada kenyataan yang tak mau mendengar. Gadis ini terus bermimpi, hal-hal yang tak pernah ia miliki. Gadis ini terus berkhayal...
![ABIRAH [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/99042558-64-k802773.jpg)