"Turun-turun!"
Hyungseob menepuk-nepuk punggung Justin yang sedang mengendarai motor di depannya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 15.57, namun Justin belum berniat untuk mengantarkan dirinya pulang.
"Nanti Hyung, abis makan malam aku anterin," Justin menjawab pertanyaan Hyungseob tanpa mengurangi kecepatan motornya.
"Gak!" Hyungseob berteriak, "kalo gak berhenti, aku lompat!"
Justin seketika menghentikan laju motornya.
"Tapi ini belum sampe rumah Hyung."
"Mending jalan kaki dari pada bonceng tapi gak nyampe-nyampe rumah!"
Hyungseob segera melompat turun dari motor Justin, berjalan meninggalkannya.
"Hyung, naik!" teriakan Justin dari belakang tidak diindahkan oleh Hyungseob.
"Hyung!" Kali ini, Justin sudah berada di sampingnya, mengendarai motornya.
"Kalo kamu gak pulang, aku gak bakal mau jalan sama kamu lagi!"
"Pulang bareng aku, Hyung!" Justin menarik paksa tangan Hyungseob.
"Aw, sakit!"
Pletak
Sebuah sandal jepit menghantam(?) helm Justin dari belakang.
"Woy, lepasin gak?"
Hyungseob dan Justin terdiam memandangi pelaku pelemparan-sandal-jepit-buluk itu.
"Woojin?"
"Gue bilang lepasin!" Woojin mendekat dan melepas paksa genggaman tangan Justin. Ia memakai kembali sandalnya dan membawa Hyungseob di belakangnya.
"Oh lo yang namanya Woojin?"
"Yang sopan bege," Woojin menepuk keras helm Justin.
"I don't care," Justin turun dari motornya, "gue cuma mau balik bareng Hyungseob hyung."
"Tapi aku gak mau Tin!" cicit Hyungseob di belakang Woojin.
"Hyung, kenap--"
"Dia bilang gak mau ya gak mau, pergi sana lo pulang, cuci kaki, mandi, bobo."
"Apaan sih," Justin berusaha menarik lengan Hyungseob kembali, "ayo Hyung!"
"Sans dong bro," Woojin mendorong Justin hingga terduduk di motornya, "kalo dia gak mau jangan maksa, LAKI BUKAN SIH LO?!"
"Jin, udah.." Hyungseob mencoba mendekat dan menenangkan Woojin, namun ditolak.
"Gue udah nyuruh lo balik. Hyungseob gak mau pulang bareng lo, paham?" Woojin mengangkat kerah baju Justin, "cabut sebelum gue mulai main tangan."
Woojin melepaskan cengkramannya pada kerah Justin dan bergerak mundur. Tangan kanannya menggandeng lengan kecil Hyungseob.
Justin melihatnya kesal, kemudian mulai menutup kaca helmnya dan mengendarai motornya kembali.
"Lo gapapa, kan?" Woojin setengah berdiri di hadapan Hyungseob, membiarkan tubuhnya lebih pendek dibanding tubuh lelaki di depannya.
"Gapapa."
"Tangan lo?"
"Santai," Hyungseob melepaskan gandengan tangan Woojin dan menjauhkan dirinya, "gue balik dulu ya. Btw, makasih," lanjutnya dengan tersenyum lembut dan langsung melangkahkan kaki meninggalkan Woojin.
Woojin berdiri tegak kembali di tempat yang sama, memandangi punggung Hyungseob yang dibawa pergi menjauh oleh sang empunya.
"BILANG KE GUE, SEOB, SALAH GUE APA?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Every Single Day +jinseob
Fanfiction[COMPLETED] Park Woojin, lelaki yang emosional, tidak romantis, namun memiliki rasa sayang yang besar pada satu orang. Ahn Hyungseob, tidak pernah menyangka mendapatkan hati seseorang yang bahkan terlihat membencinya di awal. [Wanna One's Park Wooji...
