01. Kembang Yang Harus Ditebas

34.9K 2.5K 92
                                        

Bersabar dulu, sama ambrul adulnya cerita saya ya. 

****

 "Jadi dia nolak kamu?"

Maira tak menyahut. Sudah ia ulangi berkali-kali tentang kediaman Mas Haikal, dan gadis berambut kemerahan itu masih saja berani bertanya lagi dan lagi. Mata Maira yang setengah bulan tak beranjak dari nyala layar laptop. Memastikan sekali lagi seluruh daftar keperluan pernikahan pasangan Fery dan Bunga yang akan digelar lusa telah terpenuhi dan siap dieksekusi kemudian.

"Kan, aku sudah bilang. Masmu itu kolot, gitu kok kamu masih nekat. Malu kan sekarang?" Marsya kembali terpingkal keras. Sahabat macam apa yang girang bukan main saat Maira rasanya hampir sesak napas tiap waktu.

Kembali Maira mengunci bibir. Entah ia mendapat keberanian dari mana, saat melajukan kaki untuk menyatakan cinta beberapa waktu lalu. Gadis itu mendesah keras, melirik satu sahabatnya lagi yang tampak tak peduli, tapi Maira yakin gadis itu juga menyimak. Maira mengembuskan napas sebal. Menyimpan lembar kerjanya, kemudian ikut bergabung dengan dua sahabat yang terlihat seperti langit dan bumi.

Marsya gadis yang bebas. Rambutnya kemerahan oleh cat. Wajahnya yang chinese masih dipadu dengan make up cukup mencolok. Lihat pakaian yang melekat pada tubuhnya, dress selutut tanpa lengan warna fuschia, juga kalung seperti seutas tali yang menurut Ima lebih pantas dilingkarkan pada—maaf—leher anjing, daripada leher manusia. Anehnya, Marsya tidak tersinggung. Hanya balas mengibaskan tangan tak acuh, sembari menyebut Ima kuper dan perlu sedikit diberi les tentang fashion.

Menggeserkan sedikit ekor mata, Ima tampak anggun dengan gamis panjang motif bunga warna biru mudanya. Meskipun jilbabnya selalu mencapai pinggang, Maira tidak pernah bisa menggolongkan Ima sebagai gadis muslimah tak mengerti fashion. Dia paham, hanya tidak berkeinginan mengikuti perkembangan satu ini. Semua warna bisa Ima terima, tapi tidak semua model masuk kriterianya. Harus yang longgar, harus yang tidak terawang. Dan harus-harus yang lainnya.

"Keputusanku salah ya, Ima?"

"Salah lah neng, kamu bikin—"

"Bukan kamu, Memar. Diam deh."

Marsya lagi tergelak keras, badannya jatuh di empuknya ranjang. Maira menipiskan bibir, berusaha tak acuh lalu memberi pandangan nelangsanya pada Ima. Kalau ingin sesuatu yang lurus dan serius, Ima adalah tempatnya bertanya. Kalau menginginkan sesuatu yang menyenangkan untuk membuang suntuk, barulah cari Marsya. Aduh, Allah. Maira benar-benar beruntung memiliki dua sahabat karib ini.

Ima menutup mushafnya, setelah mencium dengan sayang lembaran kalam itu. Maira juga kagum pada kepribadian Ima satu ini. Dia selalu memiliki target satu hari harus bisa menghabiskan satu juzz, satu bulan khatam Al-quran. Sedang Maira, khatam hanya saat ramadhan saja. Ya Allah, kapan Khumaira bisa sebaik sahabatnya ini.

"Bukan salah sih, Maira. Hanya sedikit tidak tepat."

"Tidak tepat?"

"Biar bagaimanapun, Mas Haikal kakakmu."

"Tapi agama kita tidak melarang, Ima, kamu tahu duduk masalahku kan?"

"Agamaku juga tidak. Lalu kenapa Mas Haikal nggak boleh barengan sama Maira?" Marsya mengimbuhi. Kali ini tidak menggunakan nada rese' dan mengejek. Gadis ini paling antusias jika sudah membahas soal agama masing-masing. Bukan untuk saling mempengaruhi atau mencari kelebihan dan kekurangan satu sama lain, yang ada adalah untuk saling memahami perbedaan di antara ketiganya. Itu saja.

"Terlanjur jadi kakak adik, lalu menikah. Apa kata orang? Untuk kasusmu, agama memang memperbolehkan, tapi untuk masyarakat hubungan semacam ini terlihat tabu, nyeleneh. Apalagi kalian sudah tinggal satu atap sejak kecil. Permasalahanmu dengan Mas Haikal bukan soal dosa, tapi soal bagaimana orang menganggap kalian nanti."

Cinta berselimut TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang