"Yah?"
"Ya?"
"Boleh Maira masuk?"
Tidak menunggu lama, pintu kamar Ayah dan Bunda sudah tersingkap. Pria paruh baya yang sudah merawat Maira dengan sangat baik ini, sudah bersiap dengan busana tidurnya. Bukan piyama sutra, alih-alih sarung juga selembar kaos dalam. Bunda juga ada di dalam. Sibuk membereskan tumpukan baju yang kembali berantakan karena ulah Ayah yang tidak bisa berhati-hati.
Ayah Ramdhan bergumam mempersilakan. Pria itu mengambil duduk di atas ranjang, sementara Maira bergabung dengan Bundanya di karpet plastik yang sengaja di gelar untuk acara membereskan kekacauan yang Ayah timbulkan.
"Ada yang penting yang mau adek bicarain ya?"
Pandai sekali pria bertubuh tegap—namun sayang sudah membuncit—ini menebak isi otaknya. Maira cengengesan. Kepalanya mengangguk, dengan dua belah pipinya tak kuasa ditahan kemerahannya. Bunda cukup bertanya, dengan memicingkan mata. Aduh, jantung Maira berlari kian kencang.
"Maira mau minta izin—"
"Izin apa?" Bunda yang responsif lebih dahulu. " Izin nikah ya, Dek? Ibu kok seneng dengernya?"
Tak pelak Maira hampir tersedak karena pekikan Bunda yang memang sudah cerewet sejak dahulu kala. Dan apa tadi? Izin menikah? Maira mengerang hebat dalam hati. Sudah mulai membayangkan bagaimana reaksi Bunda saat ia benar-benar datang untuk mengharapkan sebuah restunya.
Pasti tidak akan seriang ini. Pasti tidak akan seberbinar ini menyambut. Yang Maira takutkan, sudah barang tentu adalah kecewanya Ayah dan Bunda. Yang paling mengerikan, bagaimana jika kemudian Ayah dan Bunda membencinya. Tidak boleh. Maira tidak bisa jadi anak durhaka karena menyakiti hati dua malaikat ini.
Lalu bagaimana?
Entahlah. Maira tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Seperti kata Haikal, bersabar sebentar lagi sampai pria itu memiliki kesanggupan untuk memikirkannya dengan serius. Maka saat itu pula, Maira harus benar-benar mempersiapkan hatinya atas beberapa kemungkinan. Untuk saat ini, biarlah Maira tenggelam bersama rutinitasnya. Hati yang bersambut itu jangan melulu dijadikan ambisi. Karena seperti kata Haikal, tidak patut membicarakan cinta, bahkan jika mereka belum melangkah ke manapun.
"Bukan, Bun," bantah Maira halus. Tersenyum kecil, saat Bunda bersorak kecewa. "Maira mau minta izinnya Ayah dan Bunda untuk tinggal sama Papa."
Sejenak, Ayah dan Bunda bertukar pandangan. Melemparkan berbagai spekulasi yang berkecambah dalam benak hanya lewat tatapan mata. Maira jadi gugup, butiran keringat dingin meluncur di sekitar pelipisnya. Memori Maira jatuh pada belasan tahun lalu, ia ingat bahwa Ayah pernah menolak dengan tegas saat Papa berani memintanya kembali.
"Maksudmu, nginep di rumah Papa kamu, Dek?" teliti Ayah.
Maira menggangguk.
"Boleh lah."
Sungguh? "Ayah yakin?"
Pria dengan taburan uban itu mengangguk, "Kapan Ayah dan Bunda pernah ngelarang kamu untuk nginep di rumah Papamu itu?"
Ouh. Salah paham rupanya. Maira spontan mengusap kening. Duduk bersimpuh, entah sedang memohon atau sedang meminta pengampunan.
"Bukan menginap yang seperti sudah-sudah, Yah. Maksud Maira, Maira benar-benar pengen tinggal sama Papa. Berangkat kerja dari sana, pulang kerja juga ke sana. Maira akan sesekali nginep di sini."
"Nggak boleh," kembali Bunda yang responsif. "Papamu itu pernah ninggalin kamu dan Mamamu. Kamu lupa?"
Tidak mungkin Maira melupakan luka yang pernah Papa torehkan untuk masa kecilnya yang tidak sempurna. Tapi semua sudah berlalu. Maira sudah mengikhlaskan kepergian Mamanya yang begitu cepat, Maira sudah bisa memaafkan kekhilafan Papanya di masa lalu. Maira pikir, tidak akan ada kebahagiaan yang bisa ia sesap dengan manis, jika masih saja menyimpan kecewa dan dendam. Luka itu, sekarang biarlah jadi bekas. Tidak perlu diingat rasa apalagi asal muasalnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta berselimut Tabu
SpiritualBeberapa part telah dihapus Maira menaruh perasaan pada 'kakaknya' sendiri. Tidak sanggup menahan, hingga akhirnya lepas pula pernyataan itu dari bibirnya. Segalanya kemudian berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu balas mencintainya. Hanya...
