"Jadi, sudah tidak tinggal di rumah itu lagi?"
"Hm. Aku tinggal bareng Papaku sekarang."
"Sejak kapan? Kok mendadak?"
"Seminggu yang lalu. Dan nggak mendadak kok, Memar. Aku udah sempet kepikiran hal ini sejak lama. Ya kan, Im?"
Bidadari cantik itu kalem saat mengangguk. Memberi Maira mata setelah meyakini bahwa flat shoesnya ini cukup pantas digunakan dalam acara resmi. Harusnya sudah cukup. Selain didesain menyerupai sepatu kaca, flat shoes warna gold ini terlihat makin berkelas karena tambahan kerlap-kerlip emasnya. Dan sepertinya lagi, akan matching jika dipadukan dengan seragam ala bridesmaid untuk pernikahan Marsya tiga minggu ke depan.
"Tapi menurutku juga mendadak loh, Ra. Karena seingatku kita membicarakan hal itu sudah beberapa bulan yang lalu. Kamu nggak lagi membahas, dan tiba-tiba pindah rumah gitu aja. Apa terjadi sesuatu?"
Mudah, Maira menggeleng. Meninggalkan kaca besar yang berdiri tegak, lalu bergabung bersama dua sahabatnya yang sedang duduk nyaman di atas sofa. Tentu saja lengkap dengan pandangan menyelidik mereka.
"Nggak ada apa-apa. Serius, karena aku sudah mantap mau nemenin Papaku, makanya aku pindah tanpa mengatakan apapun sama kalian dulu."
"Ah, aku nggak percaya," Marsya mengibaskan tangan, menggelengkan kepala berkali-kali. "Palingan kamu pindah dari sana, cuma karena tidak ingin dekat-dekat dengan Mas Haikal. Ya kan?"
Maira tertawa. Tidak membantah. Karena hey, itu juga benar.
"Ya bagus," Ima ikut menimpali dengan senyum. "Karena kalau kamu memang sudah mantap melupakan Mas Haikal, maka kupikir ini adalah keputusan yang tepat, Ra. Mau elak seperti apapun, kalian bukan mahram. Tidak baik rasanya kalau kamu di sana terus menerus. Terlebih dengan adanya beberapa perasaan yang kamu pun belum mengerti cara mengendalikannya. Jadi, yang betah di rumah Papamu ya? Jangan setengah-setengah kalau berniat." Imbuh gadis ayu ini panjang lebar.
Maira hanya balas mengangguk. Ia tidak berniat menceritakan beberapa planning yang berdesakan di otaknya akhir-akhir ini. Tidak berniat pula membagi kebahagiaan kecil yang datangnya serupa bintang jatuh pada genggaman. Tentang Haikal yang seolah sedang memberinya janji indah, Maira pikir kabar ini belum pantas diumbar ke mana-mana. Biar segalanya terang, baru Maira akan membagi letupan-letupan hangat yang membuat ia kian bersemangat meniti hari yang penat ini, pada seluruh orang yang ia sayang.
"Tenang Maira, bridesgroomnya calon suamiku ada yang muslim juga kok. Temen kerjanya apa lagi, banyak. kalau kamu cari model cowok yang sedikit brewokan sama pakai celana jinggrang juga ada. Jadi jangan khawatir karena sampai saat ini masih jomblo. Nanti kukenalkan deh sama mereka." Marsya berceloteh bak seorang agen biro jodoh. "Ima kalau mau juga boleh."
Mendengar tawaran Marsya yang ngawur ini Maira mendengus keras, "nggak usah repot-repot, Sya. Aku cuma lagi butuh waktu sendiri, sekarang."
Ima? Wanita itu hanya mengulum senyum tidak tertarik. Kalau ada wanita tertenang yang pernah Maira temui, maka Ima lah juaranya. Contohnya saja, saat menghadapi kepergian Mamanya beberapa tahun lalu wanita itu tidak meraung, hanya menangis dalam diamnya. Saat Mamanya sudah benar-benar tidak lagi di sekitar, wanita itu merangkap banyak peran untuk Papa dan kakaknya tanpa merasa terbebani. Bahkan saat rumah besar yang selama ini mereka tempati, terpaksa harus dijual dan ditukar dengan sebuah rumah kecil, Ima juga sama sekali tidak mengeluh. Lalu sekarang, saat seluruh sahabat hampir risau karena masih saja sendiri di umur yang seperempat abad ini, Ima juga tampak tidak khawatir.
Saat ditanya apa rahasia mendapatkan ketenangan itu, Ima cukup menjawab berprasangka baik pada Tuhan. Semua yang Dia pilihkan, pastilah terbaik yang harus dijalani. Ah, sederhana rupanya. Tapi entah mengapa Maira kesulitan untuk mempraktekkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta berselimut Tabu
SpiritualBeberapa part telah dihapus Maira menaruh perasaan pada 'kakaknya' sendiri. Tidak sanggup menahan, hingga akhirnya lepas pula pernyataan itu dari bibirnya. Segalanya kemudian berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu balas mencintainya. Hanya...
