Entah kenapa mau balas komen kok gagal mulu. 😥😥😥
Jadi ya sudahlah. Saya sedang sebel sekaligus sedang baik, makanya saya kasih yang ada Kal nya dikit2.
Tapi please komen di sini dan komen di part 9 juga loh ya. Siapa tahu besok2 saya jadi lebih berbaik hati lagi... 😀😀😀
****
Ini akan jadi kunjungan pertama Maira, setelah resmi boyongan dari rumah Ramdhan. Maira tentu saja berdebar hebat. Seperti ada beberapa peraasaan—yang tak terdefinisikan—yang sedang mengantre untuk segera dilepaskan.
Semangat, Maira mengetukkan jarinya pada lembaran pintu. Tidak kalah semangat, suaranya menggema keras tatkala menyerukan salam. Di dalam sana, Bunda pasti juga tengah bersemangat untuk mencapai pintu berpelitur halus ini. Aduh, jangan tanyakan lagi keadaan jantung Maira. Tidak terkendali, akibat kuatnya segumpal rindu yang mendesak untuk dituntaskan.
"Dek??"
Nah, Maira pun merindukan panggilan ini dengan sangat. Sepuluh hari tinggal bersama Papa, ia tidak pernah mendengar panggilan khusus—yang disematkan sebagai pengganti namanya—ini di umbar berulang kali. Jujur saja, Maira rindu diperlakukan sebagai si bungsu kesayangan semua orang. Menjadi anak tunggal tidak semenyenangkan seperti yang sering Marsya pamerkan.
"Maira kangen peluk Bunda."
Bunda tertawa, merentangkan dua tangan, "sini. Bunda juga kangen sama kamu."
Dan dekapan hangat itu kembali membungkus Maira dengan erat. Hangatnya hampir menyerupai pelukan Mama yang harus hilang karena terpisahkan alam. Usapan lembut itu juga memercikkan rasa bernama nyaman. Maira bahkan tidak menyangka, bisa sebigini dicintai oleh wanita yang seharusnya cukup ia panggil dengan sebutan Tante. Tidak salah, jika Maira selalu memuji Bunda selayaknya malaikat tak bersayap—hadiah dari Tuhan untuknya yang pernah jadi gadis kecil nan malang.
"Kamu kurusan," komentar Bunda Ratna sembari melepas pelukan keduanya. "Bilang sama Bunda, Mama tirimu nggak pernah masak? Kamu nggak pernah dikasih makan sama Papamu? Kenapa anak Bunda kurus begini."
Maira memutar mata, "Bunda apa deh? Maira nggak kurus, dari dulu juga segini aja."
"Enggak. Bunda tahu, kalau kamu kurusan," susah memang berbicara dengan tipikal ngeyel dan tidak bisa dibantah seperti Bunda dari Maira ini. "Kenapa, hm? Kamu nggak kerasan ya tinggal di sana. Kamarmu gelap? Kamar mandinya kecil? Atau rumah Papamu banyak nyamuk dan kecoanya? Pindah ke sini lagi ya, Dek. Kamu pasti akan gemukan lagi kalau tinggal di sini sama Bunda dan Ayah."
Semua tuduhan Bunda ini bisa jadi adalah bentuk kekhawatirannya. Maira jadi terharu sekaligus menggeleng takjub pada tingkah Bundanya kali ini. Apa ya? Seperti masih tidak rela jika kenyataan mengatakan bahwa Maira sudah hidup dengan keluarga yang lain.
"Bunda...?"
"Ya Dek? Mau pindah ke sini lagi, kan? Ayo—"
Maira menggeleng sedih karena harus menolak permintaan Bundanya. Sekarang plastik putih yang ia jinjing diangkat tinggi-tinggi, "Maira punya nanas, bengkoang, sama mangga. Kita bikin rujak yuk, Bunda?"
"Kebiasaan merusak suasana."
Pantas jika Maira mendapat hadiah toyoran gemas dari Bundanya. Tapi itu hanya sekali, karena berikutnya dua wanita cantik ini sudah kembali berbagi pelukan, juga berbagi tawa. Tak lupa, mereka menuntaskan rindu yang bertahta.
Rumah sepi saat Maira datang. Hanya ada Bunda, tanpa Ayah, Diana, juga Haikal. Setelah Maira konfirmasi rupanya Ayah sedang bermain golf bersama beberapa teman seletingnya. Diana mengajar hingga sore. Dan Haikal tentu saja masih duduk tenang di ruangannya yang tak seberapa megah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta berselimut Tabu
SpirituellesBeberapa part telah dihapus Maira menaruh perasaan pada 'kakaknya' sendiri. Tidak sanggup menahan, hingga akhirnya lepas pula pernyataan itu dari bibirnya. Segalanya kemudian berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu balas mencintainya. Hanya...
