Hari ini adalah hari pernikahan Ersa, si gadis congkak yang menyebalkan. Halaman belakang villa yang yang berpunggungkan bukit tak seberapa tinggi itu sudah disulap seperti taman penuh cinta. Hijau dari rumput berpadu hangat dengan kayu-kayuan dari material dekorasi juga lembutnya bunga lily. Semakin sempurna dengan hadirnya semburat kuning dari matahari yang mulai bersembunyi di balik bukit.
Sebuah gazebo tanpa atap dengan empat tiang penuh sulur dan bunga lily, sudah berdiri tegap di tengah-tengah halaman. Setidaknya ada seratus kursi tiffany berwarna coklat yang dijajar rapi sebagai tempat duduk para undangan. Tidak lupa diciptakan pohon-pohon buatan di berbagai sudut. Material dinding kayu lengkap dengan puluhan foto mempelai jadi latar belakang photo booth mereka. Sampai dengan sangkar burung berwarna putih yang bergelantungan di dahan-dahan pohon yang kian menyulap taman ini agar tampak mengagumkan. Biar bagaimanapun, taman ini akan jadi saksi bisu hidup baru yang akan Ersa jalani. Jadi meskipun tidak megah, taman ini tetap harus memesona.
Pagi tadi si gadis congkak yang cantik dengan kebaya sundanya itu bahkan sudah melontarkan terima kasih. Berkata bahwa pesta kebun ini cukup untuk menutupi sesuatu yang tidak sempurna. Ersa memang tidak mengatakan secara gamblang. Tapi Maira tahu ada hal pedih soal cinta yang sedang coba gadis itu tutupi.
"Ra?"
Nina menyenggol sikunya. Memaksa Maira mengalihkan mata dari Ersa dan calon suaminya yang sudah bersiap dengan akad.
"Sudah dengar belum?"
"Dengar apa?"
"Katanya si Ersa ini cuma istri kedua. Mereka nikah pun secara siri. Makanya tidak membuat resepsi yang besar-besaran. Kasihan ya? Padahal dia cantik."
Maira terdiam, tak berusaha memberi tanggapan pada ghibah yang baru saja Nina sebar. Sepasang manik hitamnya ia kembalikan pada Ersa dan calon suaminya. Dalam hal fisik mereka tampak serasi. Di waktu yang bersamaan mereka tampak tidak bahagia dengan pernikahan ini. Ada sedikit sedih yang mengganggu wajah cantik Ersa. Bergeser sedikit, garis bibir dan mata calon suaminya seolah meneriakkan bahwa ia hanya terpaksa duduk gagah di kursi itu.
Maira tidak ingin melakukan ghibah, meski itu hanya dalam hati. namun nyatanya Maira kalah. Tanpa bisa ditahan, ia kembali memutar banyak sekali bisikan orang tentang Ersa, calon suami, juga pernikahan yang mendadak ini.
Ada yang mengatakan bahwa ini tidak lebih dari pernikahan bisnis. Ada yang mengatakan bahwa istri pertama calon suami Ersa tidak bisa mengandung. Dan keadaan itu tentulah mengusik orang tua Elang yang menginginkan hadirnya seorang penerus. Elang dan istrinya tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang tua Elang dengan cara mencari istri kedua. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Ersa dan Elang melakukan kesalahan satu malam, hingga akhirnya tak memberi mereka pilihan kecuali menikah diam-diam.
Entahlah. Semua bisikan itu terdengar seperti tuduhan. Bisa jadi itu hanya sebatas fitnah. Karena Maira menyaksikan sendiri bagaimana dua belah pihak keluarga menebar senyum syukur saat Elang selesai mengucapkan Qobul. Maira menyaksikan sendiri, Ersa menitikkan air mata yang terlihat sebagai ungkapan lega. Meski air wajah Elang tetap datar.
"Serius sekali ngelihatin mereka. Pengen ya, Ra?"
Nina entah sudah hengkang ke mana, karena rupanya seseorang yang berdiri di samping Maira adalah Dimas. Maira mengulas senyum kecut. Berkali-kalipun ia mencoba menghindari pria ini, ada saja kesempatan untuk membiarkan mereka berbicara berdua.
"Kenapa Mas Dimas berdiri di sini?"
"Kenapa memangnya?"
"Setahu saya, keluarga diberikan tempat di barisan paling depan. Jadi saya pikir, lebih baik Mas Dimas bergabung dengan keluarga besarnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta berselimut Tabu
SpiritualBeberapa part telah dihapus Maira menaruh perasaan pada 'kakaknya' sendiri. Tidak sanggup menahan, hingga akhirnya lepas pula pernyataan itu dari bibirnya. Segalanya kemudian berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu balas mencintainya. Hanya...
