Dimas benar-benar datang. Seorang diri, dengan membawa ketenangan yang luar biasa. Padahal pria itu harusnya sedikit shock. Harusnya sedikit mengklarifikasi mengapa Maira memiliki sepasang orang tua yang lain. Tapi Dimas memilih jadi pria yang bisa menempatkan diri. Berbekal hobi di bidang otomotifnya, sekarang ia sudah bisa mengambil sedikit perhatian Papa. Berbicara ngalor ngidul soal mesin, tentu saja membuat keduanya akan mengahabiskan menit demi menit dengan suasana penuh akrab.
Aduh. Semoga Papa tetap ingat aturan main. Jangan sampai Papa terpesona dengan Dimas, lalu melupakan semua yang sudah terjadi sebelumnya.
"Di minum, Nak Dimas."
Papa yang terpaksa mempersilakan Dimas untuk secangkir teh yang Maira hidangkan, karena anak gadisnya ini memilih bungkam tanpa hasrat.
Dimas kaku mengangguk. Menyesap teh hati-hati, kemudian menghela napas. Maira mendapatkan tatapan itu lagi. Tatapan seperti kekaguman yang bercampur dengan lontaran harapan. Buru-buru Maira memilih ubin putih untuk jadi pelarian matanya.
"Begini, Om. Maksud kedatangan saya sebenarnya untuk melamar Maira."
Detik berdetak hati-hati. Memberi waktu bagi Papa untuk menelaah situasi. Namun anehnya, Papa tidak terkejut. Entah. Mungkin Haikal sudah menghubungi Papa sebelumnya. Atau mungkin memang sudah ada kongkalikong yang disepakati oleh Papa bersama Haikal sejak beberapa minggu yang lalu.
"Melamar ya?"
Dimas mengangguk, "saya sudah mengenal putri Om bertahun-tahun. Selama itu saya menaruh kagum pada putri Om. Karena putri Om tidak suka dengan tahap pacaran. Maka saya memberanikan diri untuk melamar."
Di telinga Maira, ucapan Dimas seperti sedang menjelaskan bahwa sesungguhnya, Dimas ini belum seutuhnya siap menjalani tahap seserius ini. Karena memang tidak memiliki pilihan, lamaran juga bukan sesuatu yang absolut. Mungkin Dimas pikir, setelah lamarannya diterima, bentuk hubungan yang akan mereka jalani tak ubahnya dua orang yang berpacaran. Bisa ke sana ke mari berdua. Bisa bermesraan dengan kalimat dan tindakan. Jika ternyata tidak cocok, lamaran masih bisa dibatalkan lalu mencari wanita lain.
Oh dari sini saja, Maira tahu bahwa ia dan Dimas berbeda prinsip. Berbeda visi dan misi. Dua orang dengan perbedaan seperti ini tidak baik juga bila dipaksakan mencoba. Karena bisa saja akan bermuara seperti pernikahan Mama dan Papanya.
"Maaf ya, Nak Dimas," Papa memulai. Kalimat pertama saja sudah membuat Dimas berantisipasi. "Nak Dimas sedikit terlambat. Karena sebelum ini sudah ada pria yang datang meminta Maira dari saya. Dan maaf sekali, saya sudah berjanji akan menyerahkan putri saya kepada pria itu kelak jika waktunya sudah tepat. Saya benar-benar menyesal karena mengecewakan Nak Dimas."
Maira juga menyesal karena harus menempatkan Dimas pada kekecewaan sejenis ini. Bertahun-tahun bekerja sebagai bawahan Dimas, tidak tebersit niat secuil pun untuk menarik perhatian pria ini. Maira bekerja sesuai dengan pekerjaannya. Profesional namun tetap sopan. Maira tidak pernah menghampiri Dimas, jika bukan pria itu yang memulai. Maira tidak pernah mengajak bercanda, jika bukan pria itu yang mendahului. Maira tidak pernah mencoba memamerkan pesonanya pada Dimas. Sungguh. Ia tidak seperti beberapa teman seperjuangannya yang memang gencar ingin dilirik oleh boss tampannya ini.
Jadi benar-benar tidak terbayangkan bahwa malam ini Maira sukses membuat pria tampan berkaca mata ini memamerkan senyum kecutnya. Rasanya tentu saja tidak enak. Ada perasaan canggung, was-was, juga merasa bersalah. Tidak ada yang bisa Maira lakukan untuk menghindarkan Dimas dari bentuk kecewa itu. Karena kalaupun Papa belum menerima Haikal, Maira akan tetep mengatakan tidak.
Entah mengapa, Maira tahu ia dan Dimas tidak berada pada satu jalan yang sama. Maira tidak suka dipaksa melakukan apapun yang tidak masuk dalam hatinya, karena itu akan membuatnya setengah-setengah saat menjalani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta berselimut Tabu
EspiritualBeberapa part telah dihapus Maira menaruh perasaan pada 'kakaknya' sendiri. Tidak sanggup menahan, hingga akhirnya lepas pula pernyataan itu dari bibirnya. Segalanya kemudian berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu balas mencintainya. Hanya...
