19. Si Madya Yang Bertingkah

15.8K 2K 330
                                        

Kal datang...

Komen yang rame gitu, supaya maknya Kal semangat. 😀😀😀

Enjoy,
Semoga terhibur ya.

****

Haikal sudah bersiap dengan celana bahan warna warna khaki dan kaos polo warna indigo saat pintu kamarnya tetiba di ungkit. Kepala Diana yang melongok ragu, lalu diikuti cengiran lebar gadis itu, tak pelak membuat Haikal mengerutkan kening.

Tak membutuhkan permisi dari si empunya kamar, Diana melenggang saja memasuki teritorial Haikal. Rupanya gadis itu tidak datang dengan tangan kosong. Ada mangkok berisi bongkahan es juga sebuah kotak p3k. Masih tidak permisi, Diana sudah duduk sombong di ranjang Haikal. Mengedarkan pandangan dengan saksama pada seluruh kamar kakak lelakinya.

"Nyari apa?" Haikal bertanya.

"Kali aja ada fotonya Maira di sini."

Haikal mendengus, dan Diana terkekeh menyebalkan. Gadis itu menepuk-nepuk sisi ranjang yang kosong-memerintah Haikal mendekat tanpa suara. Mengangguk ringan, Haikal meletakkan sisir. Meninggalkan cermin bulat yang memantulkan bayangan wajahnya yang mengerikan. Banyak sekali memar. Hal ini pula yang membuat Haikal ragu-ragu untuk pergi ke kafe. Ia malas mengundang perhatian semua karyawan. Lebih malas saat harus bertahan di rumah ini dengan pikiran suntuk.

"Ini sudah dikompres?" tanya Diana seraya menekan bongkahan es di sekitar bawah mata sang kakak.

Haikal mengangguk. Meringis tatkala rasa dingin itu menembus kulit lalu bertarung dengan darahnya yang membeku.

"Semalam, aku lihat perut Mas dipukul sama Ayah. Memar?"

Haikal menggeleng. Ia tidak pernah menyangka bahwa Ayah akan sampai hati menyarangkan pukulan kuat pada perutnya. Tapi rasa nyeri yang tertinggal sudah menjelaskan semua kemurkaan Ayah. Haikal hampir tidak bisa tidur. Otaknya penuh dengan Maira, Ayah, Bunda, lalu sakit di sekujur tubuh.

"Meskipun begitu, Mas Kal harus ke dokter hari ini. periksa. Jangan sampai ada luka dalam yang terjadi."

Apa itu perlu? Maira juga mengingatkannya semalam. Rasanya Haikal baik-baik saja meskipun hampir terlampau sering mendesis menahan nyeri. Yang paling ia butuhkan saat ini adalah menenangkan diri. Ia tidak bisa berlama-lama di rumah ini, di mana semua orang kompak mengabaikan keberadaannya. Ia tidak bisa berlama-lama memamerkan wajah keungu-unguan ini pada wajah kecewa juga mata sendu Bunda. Rasanya itu makin melengkapi sakit yang menyerang.

"Untuk semua yang terjadi semalam, masih sulit dipercaya, Mas. Mas Yakin dengan keputusan Mas?"

Mantap Haikal mengangguk. "Tidak pernah seyakin ini pada seorang wanita, Di. Maafin Mas."

"Fix. Mas Kal gila."

Untuk tuduhan itu, Haikal hanya mampu tersenyum kecil. Ia mengakui bahwa dirinya memang tidak waras. Sudah sejak dulu ia tidak waras, hanya sekarang saja kegilaan ini baru tercium. Dari sekian banyak kaum hawa yang ia temui, entah kenapa harus pada Maira ia menjatuhkan hati.

Haikal sudah berusaha menyembuhkan kegilaannya. Mulai dari mencoba memperhatikan teman-teman wanitanya, sampai dengan berdoa tanpa henti agar Tuhan segera menyadarkan otaknya yang miring. Namun percuma saja. Diam-diam, dan bertahun-tahun, otak Haikal terus tertuju pada Maira. Si bungsu yang selalu Bunda puji cantik. Si bungsu yang selalu Ayah banggakan kepandaiannya. Si bungsu yang murah hati pada Diana. Juga si bungsu yang makin menawan saat tak mengijinkan ia melihat surai hitamnya yang panjang.

Sejak SMA gadis itu memutuskan terus berkerudung meskipun itu di dalam rumahnya. Sejak saat itu pula, Haikal yakin bahwa Maira benar-benar bukan adiknya.

Cinta berselimut TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang