03. (Bukan) Mahram

20.4K 2.3K 84
                                        

Bekerja untuk sebuah wedding organizer itu bisa dibilang menyenangkan bisa dibilang menyebalkan. Karena para calon pengantin memiliki hak mutlak untuk menentukan tanggal dan hari pernikahan mereka, maka karyawan seperti Maira hanya berkewajiban untuk menyesuaikan tanpa memiliki hak untuk sedikit bernegosiasi--apalagi mengalihkan tanggal ke angka yang lain.

Calon pengantin boleh memilih hari senin, selasa, sampai minggu, sekeinginan mereka sendiri. Artinya Maira harus siap bekerja di hari minggu, dan libur di hari senin. Artinya Maira harus siap bekerja sementara seluruh keluarganya berlibur ke suatu tempat yang sejuk, dan rela hanya tidur di rumah sementara seluruh anggota keluarganya sibuk bekerja.

Situasi yang di atas yang menyebalkan. Maira jadi kehilangan banyak waktu untuk belajar memasak dengan Bunda. Kehilangan waktu untuk nongkrong berdua dengan Mbak Diana. Kehilangan pula waktu untuk sekadar ketawa-ketiwi bersama Marsya dan Ima. Sesekali rutinitas ini hampir membuat Maira menyerah. Terlebih saat badannya remuk redam seperti sekarang. Maira rasa-rasanya ingin jadi pengangguran saja.

Namun, bekerja sebagai karyawan dari boss Dimas cukup menyenangkan. Selain dianggap sebagai partner bukan sekadar bawahan, Boss Dimas juga cukup santai dalam bekerja. Ia membebaskan setiap karyawannya untuk memilih hari libur, tentu saja dengan catatan hanya satu hari dalam seminggu pun seluruh proyeknya tidak terbengkalai. Boss Dimas juga memberikan sehari pasca hari H untuk beristirahat di rumah tanpa terkecuali. Pria berambut ikal itu tahu pasti bahwa project manajer dan seluruh tim supportnya begitu kelelahan setelah bekerja rodi.

Maira menukar posisi tidur. Rintik hujan di luar sana cukup untuk mengganggu waktu istirahat Maira yang baru dimulai beberapa jam yang lalu. Belum lagi sahut-sahutan bunyi kokok ayam jantan peliharaan ayah. Seolah-seolah alarm ciptaan Tuhan untuk membangunkan manusia dari tidurnya yang lelap.

Iya. Andai saja bisa semudah itu. Saat mendengarkan kokok ayam artinya matahari sudah terbit, meskipun belum tinggi. Artinya sudah masuk waktu—

"Astaga—" Maira memekik setelah sadar dengan narasi dan keluhan yang terjadi di alam bawah sadarnya. Matanya berkeliaran mencari jam weaker. 05.30, "Sudah sesiang ini."

Teriakan Maira teredam oleh rintikan hujan yang deras mengguyur bumi. Ia berlari ke kamar mandi, menggosok gigi, lalu membersihkan dirinya dari hadas. Masih dengan berlari, Maira mencari sandal dan memasang mukenanya. Sekarang dengan berjalan cepat, Maira bergerak menuju kamar yang Ayah fungsikan sebagai mushola.

Saat melewati kamar Ayah dan Bundanya, Maira menoleh. Mungkin saja Ayah dan Bunda juga tidur terlalu lelap hingga terlupa untuk bangun subuh. Pelan, Maira mengetuk pintu dari kayu jati itu.

"Bunda...?"

Tidak ada sahutan. Jadi benarkan kalau Bunda belum sempat bangun, apalagi menunaikan dua rakaatnya. Pikir Maira percaya diri.

"Ayah, Bunda. Sudah pagi," Maira memanggil dengan lebih keras. Saat pintu itu tersingkap dan menampilkan Bunda dengan wajah mengantuk, Maira tersenyum makin lebar. "Bunda, belum sholat kan? ayo sholat, sudah jam 05.30."

"Bunda sama Ayah sudah sholat, Dek," Ujar Bunda diselingi menguap. "sana sholat sendiri."

"Tapi Bunda baru bangun. Gimana mung—"

"Bunda sudah sholat tadi, lalu tidur lagi. Mumpung hujan. Nyaman untuk pelukan sama Ayah." Sekarang Bunda tidak punya malu. "kamu sih gangguin aja." Lalu berakhir menyalahkan Maira.

Bibir Maira memberengut, "kenapa Maira nggak dibangunin? Kan Maira pengen jamaah?"

"Kapan Bunda pernah bangunin kamu untuk sholat, huh?" ujar Bunda santai, "kamu selalu tahu waktu untuk tidur dan untuk bangun. Kalau kamu tidak bangun tepat waktu, Bunda pikir kamu kelelahan dan sengaja menunda 10-15 menit lagi. Udah ah. dari pada ngerengek kayak anak kecil di sini, mending sana pergi sholat. Keburu siang, gosong nanti kamu," tambah Bunda panjang lebar lalu menutup pintu.

Cinta berselimut TabuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang