13. Sahabat Si Bungsu

16.6K 1.9K 310
                                        

Jangan nyariin Kal ya? Dibagian ini, dia cuma kebagian senyum, yang begitupun hampir sukses merontokkan jantung Maira. 😆😆

Dimas muncul besok. Ima tentu saja akan muncul lagi. 😀😀

****

Ponsel Maira bergetar saat ia sedang sibuk memperhatikan Marsya yang terlampau semringah dengan gaun warna putih tulang. Berpose semacam apapun tidak akan membuat gadis bermata sipit itu terlihat jelek. Karena hari ini, Marsya adalah bintangnya. Pagi ini hingga nanti malam, Marsya adalah ratu yang akan jadi pusat seluruh pandangan.

"Assalamu'alaikum?"

"Maira, kamu ke mana?"

Teman seperjuangan Maira ini lupa menjawab salam yang ia lempar. Nada yang digunakan juga terdengar panik dan tak sabaran. Apa terjadi sesuatu di kantor? Apa ada hubungan dengan proyek yang Maira tangani.

"Eh. Temenku nikah hari ini. Kenapa memangnya Sis?"

"Boss marah-marah karena kamu nggak pernah ngantor beberapa hari ini."

Oh, "bilang saja kalau aku tetap bertanggung jawab dengan proyek itu, biarpun aku tidak pernah ngantor."

"Nggak. Kamu harus ke sini sendiri. kamu harus jelasin sendiri. Kamu harus lihat gimana seremnya boss Dimas akhir-akhir ini. kenapa sih itu orang?"

Maira mendesah. Bahunya turun, punggungnya membentur kepala ranjang milik Marsya. Ia menjanjikan pada Siska akan datang ke kantor esok. Hari ini, biarkan Maira mengantarkan temannya melewati satu jenjang kehidupan yang baru. Besok. Maira janji akan mendengarkan amukan Dimas dengan kepala tunduk. Bawahan sepertinya bisa apa selain diam.

"Ayo, Ra. Ima," Marsya meraih tangannya juga tangan Ima. "Kita butuh waktu lima belas menit untuk sampai di gereja."

Teman-teman beribadah Marsya yang dijadikan sebagai enam bridesmaid cantik sudah lebih dulu berjalan. Tertinggal Marsya dan dua sahabat berjilbabnya di belakang. Marsya ditengah-tengah, Ima dan Maira berturut-turut di sisi kanan dan kiri. Perlahan-lahan mereka meninggalkan tangga rumah Marsya yang berjumlah puluhan. Memasuki satu sedan hitam yang dikhususkan untuk sang mempelai wanita.

Maira dan Ima memang terlihat paling berbeda dengan dua lembar kerudungnya. Namun dua gadis ini yang sudah menemani Marsya sejak mereka masih tak mengerti mana tulus dan mana yang ada maunya. Jadi tidak ada yang protes tatkala Marsya lebih mengutamakan dua sahabatnya ini dibanding yang lain.

"Calon suamimu sudah ada di sana?" Maira bertanya di antara senyap suasana mobil.

Marsya mengangguk, "dia sudah ada di sana. Saat pintu gereja dibuka nanti. aku akan lihat dia di altar. Aduh, aku deg-degan Ra, Im. Gimana ini?"

"Tarik napas. Lepaskan hati-hati." Ima memandu. Menempelkan sebuah sponge berlapis butir bedak di pelipis sahabatnya. "Ingat nggak, kamu dulu pernah sesumbar pengen nikah di akhir 30, karena nggak mau dikekang dengan aturan-aturan suami istri terlalu cepat. Dan lihat sekarang, kamu yang diberi Tuhan jodoh lebih dulu di antara kita bertiga. Malu nggak kamu sekarang?"

Marsya cekikikan, merentangkan dua tangannya di bahu dua sahabatnya.

"Jodoh tidak bisa diprediksi, ternyata ya? Maira yang bermimpi ingin menikah muda, sampai sekarang pun cuma kebagian galau. Giliran aku yang pengen menikah lambat, malah dipercepat. Tuhan punya keputusannya sendiri ya, Im."

"Benar. Kita boleh bermimpi apa saja, tapi kembali lagi jadi hak Tuhan untuk mengabulkannya atau tidak."

"Hm. Jadi setelah ini siapa yang akan menyusul?"

Cinta berselimut TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang