Saya nggak janji kalau bikin kuatnya Maira tanpa nangis ya? Ini berat loh, saya baca novel aja nangis, palagi Maira yang mikirin masalah di sana-sini.
****
Sudah seminggu sejak pagi di mana Maira hampir meletakkan cintanya. Sudah seminggu pula tidak ada komunikasi dalam bentuk apapun antara ia dan Haikal. Pria itu kecewa bukan main, hingga sekarang tidak sudi mengiriminya pesan-pesan.
Maira juga tidak memaksakan diri kembali untuk berkunjung ke rumah Ayah. Ia takut pada murkanya Haikal yang belum pernah ia temui selama ini. Ia memilih membiarkan lagi keadaan menggantung tanpa kepastian ini berlarut-larut. Kapan-kapan ia akan mencoba lagi. Jangan risau, Maira akan membuat semua ini terputuskan dengan cepat.
Maira berjanji tidak akan membuat Ayah dan Bunda terlampau lama terkungkung dalam ruang bernama gelisah. Maira akan memutuskan akhir hubungan ini dengan cepat. Sekalipun harus membunuh hatinya, pun mencabik-cabik perasaan Haikal.
Semua penolakan Ayah yang terasa terlampau keras itu membuat Maira merasa menemukan jalan buntu. Mencoba berulang-ulang rasanya tidak akan sanggup membuat Ayah mengasihaninya dan Haikal. Maira dipaksa berhenti. Dan Maira kehilangan semangat untuk memperjuangkan apa yang sudah ia mulai dengan Haikal.
Sebut saja Maira pengecut. Sebut saja Maira sudah mempermainkan perasaan Haikal. Maira tidak akan marah, tidak akan tersinggung. Itu lebih baik dibanding harus melihat Bunda murung. Lebih baik pula dibanding harus melihat Ayah membenci Haikal setengah mati.
"Ngelamunin siapa, neng? Boss mu ya?"
Si cantik Marsya sudah memamerkan senyumnya, enam puluh senti di depan mata Maira. Bibirnya yang berkedut, juga alisnya yang menukik-nukik benar-benar serasi untuk menggoda Maira. Dengusan kecil lolos dari bibir Maira. Ia lemparkan daftar menu agar fokus wanita ini segera teralih.
"Kamu pesen apa, Ra?"
"Rahasia."
"Isssh. Gitu aja pelit."
Maira tertawa kecil. Ia hapal kebiasaan Marsya. Selalu kebingungan menentukan menu tiap kali mereka menyambangi kafe dan restoran untuk kali pertama. Jika sudah begitu, Marsya akan memilih menu yang sama dengan yang Maira pesan. Sahabat Maira ini tidak kreatif memang.
Butuh lima menit untuk Marsya membolak-balikkan daftar menu hingga akhirnya menjatuhkan pilihan pada spageti dan segelas mocktail. Setelah pramusaji berseragam hitam itu berlalu, mata Marsya tertuju seluruhnya pada Maira.
"Kenapa?" tanya Maira sinis.
"Wajahmu tirus, Ra. kamu kurusan ya? Kenapa?"
Seketika Maira tercekat. Ia memang kehilangan berat badannya hampir empat kilo dalam rentang waktu kurang dari satu bulan. Mama Sari juga mengeluhkan nafsu makannya yang anjlok. Dan Marsya yang sudah lama tidak ia ketemui pun menyimpulkan sama.
Maira memaksakan senyum, "Nggak kok, Sya. Itu efek karena kita udah lama tidak ketemu saja."
"Iya sih. Hampir sebulan nggak ketemu ya?"
Untuk melepaskan diri dari cercaan Marsya, ia angguki saja jawaban itu. Ia bawa sahabatnya ini pada topik yang lain. Berikut dengan Marsya yang harus mengikuti suaminya pindah tugas ke Balikpapan. Saat bercerita, wanita itu tampak antusias sekaligus sesekali muram. Senang karena memiliki kesempatan untuk merasakan tempat baru, muram karena harus meninggalkan orang tuanya di sini.
"Nggak ketemu kamu sama Ima nanti," keluh Marsya sembari memberengut.
Maira mengulum senyum, "nanti dapat yang baru di sana. Model kamu mah sukanya nimbrung ke mana-mana kan? Pasti gampang dapat tetangga. Dan kalau mau ketemu kita kamu tinggal pulang sih. Apa susahnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta berselimut Tabu
EspiritualBeberapa part telah dihapus Maira menaruh perasaan pada 'kakaknya' sendiri. Tidak sanggup menahan, hingga akhirnya lepas pula pernyataan itu dari bibirnya. Segalanya kemudian berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu balas mencintainya. Hanya...
