Pagi tadi, Maira menemani pasangan Fadil dan Eni—yang akan menggelar pesta pernikahan dua bulan lagi—meninjau gedung. Dilanjut diskusi alot di sebuah kafe untuk membicarakan design undangan, rekomendasi butik penyedia gaun, juga memantapkan konsep pernikahan yang mereka inginkan. Sukses mendapatkan gambaran awal mau raja dan ratunya, Maira pamit undur. Membuat kembali janji di beberapa hari kemudian, dengan beberapa lembar katalog vendor penyedia jasa photography yang akan ia tawarkan.
Siang sudah hampir habis, saat Maira menyelesaikan seluruh janji temu juga beberapa planningnya hari ini. Sekarang ia masih terjebak dengan Risma di sebuah butik yang cukup tersohor di kota ini. Sekadar fitting pun, terkadang Maira harus turut hadir. Padahal keberadaannya juga amat tidak berguna. Lihatlah, Maira hanya duduk di kursi sembari bertopang dagu, sementara Risma sedang mengepas gaun ditemani dengan Mbak Ellya—pemilik sekaligus perancang gaun cantik ini.
"Gimana Mbak Maira?"
Iya. Tugas Maira di sini hanya sebagai komentator.
"Cantik," puji Maira serius. "tapi tergantung lagi sama Mbak Risma, sudah nyaman belum pakai gaun ini?"
"Agak susah napas sih," jawab Risma sambil mengetuk-ngetuk perutnya. "Nanti dilonggarin satu senti meter lagi ya mbak El?"
"Boleh. Asal kamu janji jaga berat badan kamu. Dua hari lagi datang ke sini dengan ukuran tubuh yang sekarang. Oke?" sahut Mbak Ellya dengan senyum kecil. Padahal Maira tahu pasti wanita matang ini sedang menahan dongkol sekarang.
Pasalnya dua minggu lalu, Risma datang dengan tubuh yang kurus. Baju yang sudah diukur dengan ukuran benar, jadi tampak kedodoran. Sekarang saat gaun sudah dibenahi sesuai yang Risma mau, gaun itu berubah sesak. Wajar terjadi pada calon pengantin, sebenarnya. Ketidakstabilan emosi bisa jadi mempengaruhi berat badan mereka. dan Mbak Ellya lah yang harus bekerja sabar dengan kasus seperti ini.
Lepas dari Risma yang sedikit labil juga Ellya yang sedang mengomel, Maira terjebak seorang diri di sebuah kedai kopi. Aroma pekat dari hot chocolate tak membuat Maira antusias. Sambil bertopang dagu malas, ia sedang menunggu dua sahabatnya untuk sekadar melonggarkan benak yang sesak. Maira butuh teman cerita, Maira hampir gila memikirkan Haikal dan segala polah ambigunya.
Sekarang, Maira tidak suka sendirian tanpa ada teman berbicara. Di saat otaknya kosong seperti ini, Maira akan kembali bernostalgia dengan lembut sentuhan pria itu. Akan dengan mudah mengingat hangat nan erat genggaman yang Haikal beri. Yang paling terlihat nyata adalah, sepasang mata Maira akan selalu jatuh pada selingkar logam putih yang memenjara jari manisnya. Entah bagaimana. Logam mainan itu melekat erat. Mempercantik jarinya tanpa sebab.
Sisi hati Maira seolah terbelah jadi dua saat menemukan kilap cincin putih yang tak sama sekali mewah ini. Ada sebagian suara yang membisikkan untuk buru-buru melempar cincin ini ke laut. Sebagian lagi, tak lelah membujuk untuk membiarkan cincin ini bertahan di sana. Karena selain memang cantik, Maira masih ingat dengan ucapan pria itu beberapa malam yang lalu. Jangan pernah di lepas. Bisa kan Dek?
Ouh. Sampai kapan, Mas? hati kecil Maira berteriak...
"Cincin jelek aja dilihatin terus," sumbang suara tiba-tiba. Lalu sebuah tangan berjajar dengan tangannya. "cincin yang cantik itu kayak gini. Emas putih asli, belinya di toko perhiasan, bukan di pasar malam."
Maira tertawa lepas. Hampir saja melempari Marsya dengan kue sus warna-warni di hadapannya. Sahabat Maira yang sedikit gila itu terpingkal. Satu tangannya terjulur untuk membungkam bibirnya yang hilang kendali. Dan tanpa sengaja Maira menjatuhkan mata dengan seksama pada emas putih cantik yang Marsya maksud. Aneh, Maira tidak terpesona saat melihatnya. Berbeda dengan cincin murahan yang langsung membuatnya—jatuh hati pada kedipan pertama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta berselimut Tabu
EspiritualBeberapa part telah dihapus Maira menaruh perasaan pada 'kakaknya' sendiri. Tidak sanggup menahan, hingga akhirnya lepas pula pernyataan itu dari bibirnya. Segalanya kemudian berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu balas mencintainya. Hanya...
