Maira mengedarkan pandangan ke sana ke mari. Pada pekerja bagian dekorasi yang tengah bahu-membahu menyulap ballroom sebuah hotel dengan nuansa emas dan krem itu menjadi penuh dengan warna pink juga biru. Ala shabby chic favorit para kaum feminis, namun tetap pula menampilkan kesan tegas kaum pria yang tak boleh diacuhkan begitu saja.
Kain-kain panjang warna biru dengan tone gelap juga merah muda sudah bersanding serasi menutupi warna dinding yang keemasan. Dibiarkan jatuh begitu saja dari langit-langit hingga berkumpul di atas putihnya lantai. Di beberapa daerah, kain-kain itu dibentuk, digulung, bahkan sekadar dilipat untuk menghasilkan sesuatu yang lebih menarik. Misalnya saja bunga-bunga, atau sekadar pita sederhana.
Maira melangkahkan kakinya dengan pasti. Di tangan kirinya terdapat agenda kecil yang ia fungsikan sebagai planner, sebuah bolpoin cair mengisi tangan yang lain. Maira mengangkat kepala, memperhitungkan segala persiapan untuk helatan resepsi Bunga dan Fery esok malam, lalu mencatat segala kekurangan yang belum bisa ia lengkapi hari ini karena beberapa hal.
Dekorasi hampir sempurna. Pelaminan sudah berdiri kokoh, berwarna putih gading lengkap dengan sepasang singgasana raja dan ratu seharinya. Taman-taman hijau di depan pelaminan juga sudah rapi, tertata apik sesuai yang Bunga minta. Lorong cinta dan photo booth juga sudah berdiri cantik. Maira mengedarkan pandangan lagi. Mengeluh karena area luas khusus tamu bertegur sapa alih-alih belum disentuh. Kalau dihitung, mungkin masih membutuhkan 30% untuk memastikan segalanya rampung esok sore.
Ponsel Maira yang tersimpan di saku balzer hitamnya bergetar.
Bunga 210917
· Boleh ngintip pelaminanku nggak, Mbak?
Maira menarik senyum. keluar dari aplikasi berbagi pesan, lalu mencari kamera. Para pengantin memang seperti ini, tidak sabar melihat seindah apa pelaminannya. Maira memotret pelaminan yang setengah jadi, plus menambahkan bebapa bagian yang sekiranya akan membuat kliennya tenang. Sekalipun pelaminannya belum rampung disiapkan.
· Masih 70% Mbak Bunga. Karena seperti yang sy bilang ball roomnya baru luang siang tadi.
· But it's oke. Kami rela tidak tidur demi Mbak Bunga.
Bunga 210917
· Iya ya Mbak. Bunga-bunga di pelaminannya juga belum dipasang?
· Oh, kalau itu sengaja. Kan Mbak Bunga minta bunga segar, jadi kami akan memasangnya semepet mungkin dengan acara.
· Supaya tetep cantik, dan ada bau harumnya saat resepsi nanti.
Bunga 210917
· Ouh, bener juga. Hehe
· Tapi nggak ada masalah kan, Mbak Maira?
· Saya gugup ini.
· Saya usahakan semuanya sempurna sesuai yang Mbak Bunga dan Mas Fery mau.
· Masalah venue biar saya dan tim saja yang pusing.
· Sekarang, lebih baik pergi istirahat. Besok ba'da subuh, sudah harus mulai bersiap-siap untuk acara akadnya. Oke, Mbak Bunga?
Bunga 210917
· Mbak Maira besok ke sini?
· Kalau di ballroom sudah selesai, kemungkinan sy nyusul ke rumahnya Mbak Bunga.
· Ada apa ya?
Bunga 210917
· Nggk ada apa-apa sih, Mbak.
· Cuma lebih tenang aja kalau leadernya yang handle.
· Kalau mau tanya-tanya atau komplain gampang.
· Hehe
· Untuk tanya-tanya, Nina tahu segalanya kok Mbak. Atau call saya juga boleh.
· Kalau mau komplain, sy bisa undangin boss saya sekalian kalau mau.
· Hahaha
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta berselimut Tabu
SpiritüelBeberapa part telah dihapus Maira menaruh perasaan pada 'kakaknya' sendiri. Tidak sanggup menahan, hingga akhirnya lepas pula pernyataan itu dari bibirnya. Segalanya kemudian berubah seratus delapan puluh derajat. Pria itu balas mencintainya. Hanya...
