18. Dipikul Berdua

15.5K 2K 279
                                        


"Semua ini salahmu !!!"

Mata Maira terbuka cepat karena suara jeritan itu. Meskipun berasal dari luar kamarnya, tetap saja suara keras Mama Sari berlari masuk melewati celah pintu yang tidak tertutup rapat.

Tidak biasanya mereka bertengkar. Sekarang, mereka saling meninggikan suara untuk hal segenting apa?

"Salahku???" Papa membeo singkat, seolah kehilang seluruh kosa katanya. Tentu saja masih menggunakan nada tinggi.

"Iya. Aku sudah mengatakan untuk menolak lamaran Haikal. Kenapa harus kamu terima? Sekarang, lihat. Anakmu mengalami sakit yang pernah kualami."

Teriakan demi teriakan yang berkumpul diudara itu berduyun-duyun melempar Maira pada kenangan masa kecilnya. Kelebat bayangan saat ia pulang sekolah, lalu menemukan Papa dan Mamanya saling melempar suara keras membuat Maira jadi enggan mengetuk pintu. Gadis kecil itu memilih memeluk lutut di lantai. Sembari mendengar Papa dan Mama yang masih saja asyik bertengkar, Maira menyibukkan diri dengan membuka simpul tali sepatunya. Lantas, melempar sepasang sepatu hadiah dari Papa dengan sebal.

Berbicara soal hadiah. Siang itu Maira juga punya hadiah untuk Mama dan Papa. Ia simpan di dalam tas sekolah warna merahnya. Tidak mahal. Tapi ia dapatkan dengan memeras otaknya sendiri. Hanya nilai sempurna untuk ulangan matematikanya, juga nilai sembilan puluh ke atas untuk mata pelajaran lain.

Namun hadiah itu tak lagi penting. Karena Papa dan Mama sudah lebih dulu bertengkar, pastilah mereka tidak akan bahagia meski Maira memamerkan semua nilai ulangannya yang serba tinggi itu. Maka Maira putuskan untuk mengambil beberapa lembar kertas yang tersimpan di dalam tasnya. Ia pandangi sekilas, lantas ia robek jadi kecil-kecil bersamaan dengan bunyi pecahan suatu benda. Bibir kecil Maira memberengut. Menumpukan dagunya pada lutut. Menunggu waktu, sekiranya Papa dan Mama akan berhenti bertengkar.

"Apa salahnya, huh?" Papa masih berteriak. "Aku hanya mengabulkan apa yang putriku mau. Kalau ternyata putriku hanya mencintai Kal, kenapa aku harus melarang mereka????"

Ah, sedang bertengkar karena ia rupanya.

Maira menghela napas. Mengusap sekitaran kening dan bawah hidungnya yang terasa terbakar oleh minyak angin. Perlahan Maira membawa tubuhnya duduk tegak, seketika saja kepalanya seperti dipukul sebuah godam.

"Kamu bukan sedang mengabulkan kemauan anakmu, Mas. Kamu sedang mengirim dia ke neraka."

"SARI—"

"Apa??" Mama Sari balas membentak. "Kamu punya kesempatan untuk menyelamatkan anakmu. Kamu tinggal menolak lamaran Haikal, dan aku yakin pria itu akan mundur. Haikal akan mengatur ulang perasaannya. Begitu pun Maira yang akan mulai sembuh dari rasa tertolaknya. Mereka hanya butuh waktu untuk menemukan seseorang yang lebih tepat. Seseorang yang bisa diajak pulang ke rumah, tanpa harus ada adegan tidak direstui. Tapi kamu memilih menjadikan anakmu sebagai pion. Jadi ayo kita lihat. Kisah Maira akan berakhir sama dengan kisahku atau tidak?"

Maira menjatuhkan kakinya tepat di atas sepasang sandal jepit butut. Bumi Maira terasa berputar hebat saat Maira mengambil langkah. Ia terbiasa dengan semua ini. Pertengkaran dan kemelut keluarga sudah jadi makanan hari-harinya sejak kecil. Maira harus kuat seperti sebelumnya.

Lemah Maira menarik daun pintu kamarnya. Rumah kayu milik Papa sudah gelap, menyisakan kamar Papa yang temaram, juga dapur yang tak dibiarkan padam. Tidak ada lagi getar suara, kecuali detik jam dinding yang tak lelah mengayuh langkah. Sepasang suami istri yang bertengkar itu mungkin sudah kelelahan, lalu jatuh tidur. Berusaha tidak meninggalkan suara, Maira mencapai kamar mandi. Hendak mengambil wudhu, lantas menunaikan empat rakaat yang belum ia kerjakan.

Cinta berselimut TabuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang