Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Episode 08 - Intimate

2.6K 43 0
                                        

Ting...

Ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dan melihat pesan dari Spencer.

'She is super mad right now. I'll update you.'

Aku menelan ludah.

"Mengapa? Ibumu marah?" Kulirik Justin yang berjalan kearahku. Aku langsung menaruh ponselku.

"Tidak. Aku hanya terkejut saja ibuku mengijinkanku pulang larut."

"Can i ask you a question?"

"Sure. Whatever you want to ask, beautiful."

"Apa yang terjadi antara kau dengan Liars?" Wajah Justin seketika berubah. "I'm sorry you don't have to answer my silly question. Let's get back to downstair."

Aku beranjak dari kursi dan Justin langsung menahanku.

"Stay. I want to tell you."

Aku kembali duduk.

"It was all my fault. I... i...-"

Dengan cepat aku menghampirinya. "Kalau kau tidak mau cerita tidak apa-apa. Kau bisa memberitahukan ku nanti saja."

Aku coba untung menggenggam tangannya. Ini adalah tindakan yang sangat gegabah. Namun perasaanku tidak bisa tertolong lagi.

Mata kami saling beradu. Ya Tuhan. Aku benar-benar ingin merasakan bibir merahnya. (Ewh)

Kedekatan wajah kami sudah berjarak 2 cm saja. Aku menjauhkan wajahku dan keadaan benar menjadi canggung.

Aku merasa ini terlalu cepat. Baru hari ini aku dan dia 'berteman'. Aku ingin mengenalnya lebih jauh. Namun tantangan Alison seperti hantu selalu membayangiku. Aku tidak mau menyakiti Justin. Namun aku lebih tidak mau teman-temanku tersakiti karena ulah Justin.

"Let's talk about your life." Aku mengajaknya berbicara lagi agar aku bisa mengenalnya.

"Seperti yang kau lihat. Aku adalah lelaki idaman seluruh perempuan di Rosewood High."

Aku melontarkan tatapan sinis. Dia hanya tersenyum.

"I have a perfect life. I'm rich, have a big house, a divorced parents, no sibling, no girlfriend, and i'm handsome."

Aku menggigit ujung bibirku. Dia sangat menggoda saat dia bilang 'i'm handsome'.

"Aku tinggal bersama ibuku. Ayahku menikah lagi dan dia tinggal di... entah dimana aku tidak ingat."

"Why you don't have a girlfriend? So many beautiful girls in RH... beside the liars."

"Aku mengencani banyak perempuan sampai aku tidak tahu siapa saja nama mereka. Kecuali... kau tahu. Aku ingin mencari perempuan yang benar-benar melihatku apa adanya dan  mencintaiku apa adanya."

Fuck Justin. She is me. Lily Collins. She is infront of you.

"I think Matilda loves you the most."

"Apa Matilda? Dari kelas bahasa perancis? Tidak."
Justin mengerutkan dahinya dan itu membuatku tertawa. "Dia bukan mencintaiku, dia terobsesi denganku."

"Oh ya?"

"Ya. Dia pernah datang sekali kerumahku malam-malam hanya untuk memberikan sebuah gantungan tas berhuruf J."

"Wow, itu sangat tidak terbayangkan."

"What about you? Do you have a boyfriend."

Aku tertawa pelan. "Never had a boyfriend. But i had a crush when i was in New York. Similar like you, but he's so mean to every girl. I'm feeling sorry to myself because i ever liked that kind of man."

"What do you-"

Kami bertanya dengan waktu yang sama. Kami tertawa sejenak dan dia menyuruhku untuk bertanya duluan.

"Bagaimana menurutmu Alison? Jawab saja secara umum." Aku tahu dia sangat tidak nyaman dengan pertanyaanku. Tapi aku hanya ingin tau bagaimana tanggapan Justin tentang Ali.

"Dia adalah wanita yang kasar. Tapi dia sangat perhatian dengan orang terdekatnya."

"Yeah i feel the same way. She really take care of me. Even we're friends for like  1 week."

"Bagaimana dengan Spencer?" Tanya Justin. Sepertinya Spencer adalah favoritnya kedua setelah Ali. Kenapa aku jadi kesal seperti ini?

"Dia mungkin adalah teman dekatku sekarang. Dia baik dan sering memberiku materi pelajaran secara cuma-cuma. Dan dia adalah pesaing terberatmu disekolah."

Justin hanya tersenyum malu. Sepertinya dia sedang mengingat masa-masa bersama Spence. Apa mungkin dia favorit Justin?

"Apakah mereka keberatan dengan kau menjadi temanku? Kau tahu sejarah kami tidak terlalu baik."

"Kau tidak perlu khawatir. Mereka tidak peduli dengan siapa aku berteman.

Tapi bisakah kapan-kapan kau cerita tentang apa yang terjadi antara kau dan mereka? Mereka tidak mau memberitahu apa yang telah terjadi."

-

Aku dan Justin turun ke lantai bawah dan mengukuti irama musik. Kurasa mereka berlima sudah pulang.

Namun aku salah. Mereka masih setia menungguku dengan tatapan sinis. Sebenarnya hanya Ali saja yang memberiku tatapan itu.

"Justin kurasa aku akan bergabung dengan mereka." Aku berteriak ke telinga Justin karena musik yang terlalu keras. "Dan aku pamit pulang."

"Hati-hati Lily. Jaga kesehatanmu. Besok aku akan meneleponmu." Justin mencium pipiku dan aku pergi meninggalkan dia dan menghampiri liars.

Aku ikut duduk disebelah Aria.

"C'mon lets go home." Ali berdiri dan pergi duluan meninggalkan kami. Satu persatu dari kami ikut berdiri dan membuntuti Ali.

"Apa saja yang kau lakukan dengan Justin diatas? Alison hampir meledak dan ingin membunuhmu, kau tahu tidak?" Aria menggandeng tanganku saat kami berjalan ke parkiran mobil.

"Kami hanya berbincang saja. Aku tidak tahu kalau kalian menungguku."

==========

To be continue.

Semoga kalian suka ya dengan cerita ini.

Truth or DareCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang