Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Episode 12 - My House

1.2K 31 1
                                        

"Kenapa kau bisa menjemputku lagi?"

"Uh... itu... Spencer mengirimkanku pesan kalau kau harus dijemput saat itu juga."

"She texted you? She really texted you?"

•••••

Flashback

Justin's POV

Aku mendapatkan pesan saat aku sudah mengantarkan Lily ke rumah Ali. Dari Spencer.

'Hi Justin this is Spencer. Can you pick Lily again? Because there's some problem in here and you need to come here as fast as you can please.'

Aku berbalik arah dengan cepat menuju rumah Alison. Terasa canggung saat aku mengantar Lily kerumah Alison. Terlebih mereka semua ada dirumah itu.

Akhirnya aku sampai dirumah Alison dan membalas pesan Spencer.

'Hi Spencer, how are you? I'm infront of Ali's house.'

Baru saja aku mengirim pesan, Lily sudah keluar dari pintu rumah Alison. Dia terlihat kebingungan dengan kehadiranku. Lalu dia masuk ke dalam mobil dan kami langsung pergi.

•••••

"Ya... dia melakukan itu." Justin terlihat salah tingkah.

Aku merasa sangat bahagia di dalam hati. Mereka berinteraksi? Ya Tuhan!

Tapi aku mencoba untuk tetap diam tanpa tersenyum. Walaupun itu terasa sulit.

"Apa yang dia bilang?"

"Dia hanya meminta untuk menjemputmu secepat mungkin. Lalu aku memutar arah dan kembali lagi kerumah Ali. Ada apa dengan kalian?"

"Nothing. Just some kind of girls problem."

"Oh, oke."

Setelah menempuh 20 menit lamanya akhirnya kami sampai di depan rumahku.

"Apa kau mau mampir sebentar? Bertemu ibuku?"

"Memangnya boleh?" Tanya Justin polos.

"Kenapa tidak boleh. Ayo masuk."

Aku dan Justin sama-sama keluar mobil dan menuju pintu rumahku. Ku lirik Justin, dan wajahnya sungguh bahagia. Aku juga sangat bahagia sekarang.

"Mom, i'm home." Aku berteriak saat pintu rumahku di buka.

Lalu ibu turun dari lantai atas.

"Hai Lily kau sudah pulang." Kami berpelukan. "Lalu siapa dia?"

"I'm Justin, Mrs. Collins." Justin menyodorkan tangan kanannya dan ibuku menjabatnya ramah. Syukurlah ibu tidak melakukan hal yang aneh.

"Dia tadi yang mengantarku dari rumah Ali," kataku sambil berjalan menuju tangga. "Aku akan menaruh tas ku dulu. Ibu, tolong jangan macam-macam dengan Justin."

Lalu aku menaiki anak tangga dengan pelan. Aku ingin menguping apa yang sedang mereka bicarakan.

"Hai Justin, kau adalah anak laki-laki pertama yang Lily bawa kerumah. Di New York pun dia tidak pernah membawa teman lelakinya."

Ibu, kau sungguh membuatku malu.

"Oh ya? Ini adalah suatu kehormatan bagiku."

Haha, apa maksudnya Justin?

"Baiklah, aku akan buatkan minuman untukmu dulu." Suara langkah ibu berpindah menuju dapur. Syukurlah.

Aku langsung berlari sampai akhirnya aku sampai di kamarku. Aku langsung menaruh tas ku, melepas sepatu ku dan aku bertelanjang kaki alias tidak memakai alas kaki apapun. Karena sudah kebiasaan dari rumah di New York. Ku ambil ponselku di tas dan aku kembali ke bawah.

Truth or DareCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang