Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Episode 13 - Conclusion

889 31 2
                                        

"Lily, why you didn't answer my text?"

Panggilan dariku disambut tidak hangat oleh Spencer. Mungkin dia masih khawatir?

"Maafkan aku. Aku tidak sempat mengecek ponselku. Aku dari tadi bersama Justin."

"Can you come to my house? No no... i'll come to your house."

Panggilan pun berhenti dan aku langsung naik menuju kamarku. Aku akan menunggu Spencer di kamar saja.

Apakah Justin akan menjauhiku? Dia tidak mengacuhkanku tadi.

Entahlah. Selagi menunggu Spencer, aku memejamkan mataku sejenak.

-

"Hey." Sebuah suara membangunkanku. Kubuka mataku dan aku melihat Spencer sudah duduk dikasurku.

"Spencer? Sudah berapa lama kau disini?" Aku langsung duduk dikasur dan merapikan rambutku yang kusut.

"About... 45 minutes?"

Aku sudah tidur selama itu? Berarti Spencer sudah menungguku selama itu?

"Maafkan aku Spence. Mataku lelah dan aku tertidur begitu saja."

"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, apa saja yang kau lakukan dengan Justin?"

Spencer terdengar menggodaku. Aku hanya tersenyum tipis. Karena keadanku baru bangun tidur, aku tidak terlalu semangat.

"Sebelum aku menjawab pertanyan kau... kau berbicara lagi dengan Justin!!!"

Aku sedikit berteriak karena aku tidak bisa menahannya lagi. Aku sangat senang ada interaksi antara Justin dan Spencer.

"Sebetulnya itu tidak termasuk berbicara karena kami tidak bertemu secara empat mata dan itu hanya sebuah pesan. Tapi... iya... kami berbicara."

Spencer tersenyum malu.

"What were you guys talking about?"

"Nothing. I just texted him to pick you at Ali's and he replied 'Hi Spencer, how are you? I'm infront of Ali's house.'" Dia menunjukkan isi pesan yang Justin kirim. "Namun aku tidak sempat membalasnya karena kau sudah keluar dari rumah Ali dan kudengar bunyi mobil."

"Apa?! Kau seharusnya membalas pesannya lagi. Kau harus bilang 'aku baik Justin, bagaimana denganmu?'"

"Kau gila? Aku tidak akan pernah bisa mengirim pesan seperti itu. Sudah tidak ada lagi yang perlu dibenahi antara kami. Sekarang, mari kita fokuskan pada kau dan Justin saja."

Wajahnya terlihat... antara kesal, sedih dan kecewa.

"Maafkan aku Spence. Tapi aku sangat senang melihat kau dengan Justin mulai berhubungan lagi. Walaupun itu hanya sekedar terpaksa. Tapi aku bahagia."

Aku langsung memeluk Spencer.

Lalu dia melepas pelukan. "Saat kau pulang dari rumah Ali tadi, dia langsung berteriak dan menangis."

"She did?" Tanyaku tak percaya.

"Ya. Dia sangat kesal kau dan Justin begitu romantis. Dia takut kalau kau akan melupakan tantangan itu dan benar-benar mengencani Justin."

"I won't," jawabku singkat.

"Sekarang jawab pertanyaanku. Apa saja yang kau lakukan bersama Justin?"

"Justin mampir kerumahku dan dia bertemu ibuku."

"What?!" Spencer sangat terkejut.

"Why?" Tanyaku heran. Memangnya itu salah?

"Tidak-tidak. Aku hanya terkejut karena selama hidupku aku tidak pernah mendengar Justin bertemu dengan orang tua perempuan manapun. Orang tua kami berlima pun tidak pernah."

Sekarang giliran aku yang terkejut. Aku pikir, dia sudah sering bertemu dengan orang tua para korbannya.

"Aku tidak sabar melihat reaksi Ali nanti. Dia pasti akan sangat marah." Spencer senyum-senyum sendiri. Aku makin heran dengan semua ini.

"Kenapa dia harus marah?"

"Kurasa dia masih menyimpan rasa pada Justin. Dan dia ingin balas dendam padanya melalui kau. Dia cemburu pada kau yang baru sebentar dekat dengan Justin, mendapat perlakuan lebih daripada Ali yang sudah hampir 1 tahun."

Wow, hampir 1 tahun? Lama sekali ternyata.

"Dan selama itu dia tidak pernah bertemu orang tua masing-masing?"

"Ali sudah pernah bertemu ibu Justin. Namun Justin tidak. Dia seperti menghindar ketika Ali mengajaknya bertemu orang tuanya."

"Lalu... Justin mencoba menciumku tadi." Akhirnya aku mengakui kejadian tadi.

"What?!" Kali ini Spencer makin terkejut.

"Tapi ponselku berbunyi dan hal itu terhenti begitu saja."

"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Pertanyaan Spencer begitu menggebu-gebu.

"Lalu dia pulang dan dia tidak mengacuhkanku."

"Ya Tuhan, Lily, kau sudah resmi dicampakkan oleh Justin."

"What the hell? How?"

"Kau masih ingat apa yang dikatakan Aria dulu mengapa dia di campakkan Justin? Karena dia tidak mau melakukan 'sesuatu', Justin tidak mengacuhkannya lagi setelah hal itu terjadi. Dan ceritaku, saat Justin ingin 'sesuatu' dan aku menolaknya, dia tidak mengacuhkanku saat aku di antar pulang oleh Justin. Hari esoknya, dia dingin seperti es. Dia bahkan tidak menoleh saat dipanggil. Dia menjauh dari kehidupan kami dan kami jadi tidak mengenal satu sama lain."

Aku terpelongo (lol sorry yah ini bukan bahasa yg baik dan benar tapi aku gatau menjelaskan orang cengo kalo dengerin sesuatu yang gapernah dia denger gitu loh... kaya melongo bengong gt...) mendengar apa yang baru saja dia ucapkan. Jadi... Justin baru saja mencampakkan ku? Yang benar saja?

"So the dare is cancelled?" Hatiku sangat sakit.

Padahal, aku belum sempat mengenalnya lebih jauh. Jadi aku tidak bisa lagi mendekatinya? Lalu bagaimana kalau aku bertemu dengannya disekah nanti? Apa dia akan seperti yang Spencer bilang?

"Kita akan bilang ke Ali besok, oke? Kau tidak perlu bersedih Lily. Kau tidak perlu repot-repot mendekati Justin lagi."

==========

To be continue.

Terima kasih yang udah mau baca😘😘 btw aku seneng banget kalo buka wattpad ada aja notif dari kalian2 yang beri vote ke story2 ku, nambahin ke reading list kalian makasih banyakyaaa😘😘😘

Kok aku pengen banget sih masukin Barry Allen ke story ini -__— (kalo gatau dia google aja kalo ga baca story aku yang i'm your lovesong... loh kok jd promo yaaa) lol

Truth or DareCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang