One

112 9 11
                                    

Ddrrtt... ddrrtt...

Dering ponsel di atas nakas membuat gadis yang tengah berada di alam mimpinya itu menggeliat karena merasa terganggu. Ara mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha untuk mengembalikan kesadarannya yang masih setengah sadar itu.

"Siapa sih? Ganggu orang saja." Ucapnya malas sambil melihat kearah layar ponsel. Ia memilih untuk mendiamkannya dan kembali tertidur daripada harus mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.

Tning!

Mendengus, lalu membuka lockscreen. Eh? Pesan dari siapa ini?

Unknown number : Selamat malam, semoga kau mimpi indah :) jangan merindukanku ya, aku tak ingin kau sedih.

H+1001

Hm? Apa maksudnya?

Berdecak kembali, Ara pun memilih untuk tidak begitu memikirkan tentang siapa yang mengirimi pesan tersebut. Lagipula, jam segini sangat tidak wajar sekali.


-


"Pagi, Margarin." Sapa teman sebangkunya, Olive.

"Pagi, Oil."

"Tumben sekali datang cepat, biasanya kau selalu datang disaat sudah memulai jam pelajaran pertama." Ejek temannya sambil terkekeh. "Aku ingin cerita."

Olive mengangguk dan memposisikan tubuhnya senyaman mungkin untuk mendengarkan Ara bercerita, "tentang apa?"

"Nomor telepon yang dengan sangat tidak sopannya mengganggu tidurku semalam."

"... Lalu? Dibagian mana yang penting?" Tanya Olive, Ara terdiam beberapa saat mencerna pertanyaan dari Olive. "Yah... Tidak ada yang penting sih."

"Kalau begitu tidak perlu kau angkat, apa susahnya?" Ucap Olive sambilmengedikkan bahunya, perkataan dari Olive memang ada benarnya. Namun, entah kenapa perasaan Ara tidak enak sesaat ia melihat pesan yang dikirim dari nomor yang tak dikenal. "Tapi ia memberiku sebuah pesan."

"Pesan apa?" Tanya temannya, Ara pun dengan sigap langsung memberikan ponselnya pada Olive. "Sungguh? Apa maksud dari 'H+1001'? Banyak sekali."

Ara mengedikkan bahu sebagai jawaban, "mungkin hanya orang tak ada kerjaan yang ingin berkenalan, jadi tidak perlu dipikirkan."

Olive mengerutkan dahinya, "tunggu, tetapi aku sering melihat seperti ini di novel-novel. Coba saja kau angkat sesekali atau kau balas. Siapa tau itu adalah pria tampan yang sengaja menjadi pengagum rahasiamu." Tutur kata Olive membuat Ara seketika tercengang, bagaimana bisa ia berpikiran seperti itu disaat situasinya sedang tidak memungkinkan. Dan satu lagi, hei! Ara memiliki kekasih, ya, Dion namanya.

Seketika Ara menatapnya sinis. "Bisa tidak sehari saja untuk tidak menyamakan dunia nyata dengan dunia novel, kau tahu dunia novel sungguh berbeda dengan kehidupan kita yang asli dan pahit ini."

"Masa bodoh dengan hal itu, kau harus mencari satu pacar fiksimu di dunia novel, itu akan menjadi hal yang seru!"

Ara memutarkan bolamatanya jengah, "cukup, Oil. Aku sudah punya Dion."

"Dasar bucin."

"Omong-omong, aku jadi merindukan Dion. Apa kabar ia disana ya?" Tanya Ara sambil melamun.

【✔️】 No Caller IDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang