The Beaufort

574 28 0
                                        

"Ini semua tidak gratis, kau tahu." Ucapnya sambil memyeringai.
———————————————————————————
Christine POV
Aku terkejut mendengarnya mengatakan itu.
"Jangan tegang seperti itu. Kau membuatku terlihat seperti pembunuh." Ucapnya kemudian.

Membuat hatiku mencelos kaget, karena sedetik kemudian, aura mencekam berubah karena suaranya kembali seperti David yang ramah.

"Lalu apa bayaran yang harus kuberikan padamu?" Tanyaku takut-takut.

"Kami keturunan Beaufort dilarang menyakiti werewolf kau tahu. Tapi darahmu beraroma sangat manis." Katanya sambil menutup mata, dan menampakkan wajah yang aneh.

"Dan?" Mulai tidak sabar karena Ia selalu menggantung perkataannya. Tapi Ia mengatakan Beaufort? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.

"Kau hanya perlu memberikan darahmu setiap pagi. Tidak banyak. Hanya cukup membuatku kenyang saja." Ucapnya santai, seakan Ia hanya meminta sebuah permen.

"Wow, demi Jefry ubur-ubur. Kau meminta darahku sebagai ganti kau telah menolongku. Itu sama saja membunuhku perlahan tuan Pucat." Ucapku tidak terima, aku tidak peduli jika Ia seorang vampire atau zombie sekalipun. Tapi jika ini berkaitan dengan hidupku, aku harus mempertahankan hidupku kan?

"Kau kan vampire? Kenapa tidak berburu saja. Edward Cullen saja mandiri, mencari buruannya sendiri." Lanjutku dengan ketus.

"Siapa itu Edward Cullen? Lagi pula nona, aku hanya bisa keluar saat bulan mati. Dan aku terkurung ditengah-tengah teritori 4 pack terkuat para werewolf, tadinya aku bisa berburu sendiri, namun terimakasih berkat salah satu pack baru muncul dan membuat teritori di tempat dimana satu-satunya aku bisa berburu. Dan sekarang aku kelaparan. Aku tidak akan bisa bertahan sampai bulan mati berikutnya." Jelasnya panjang lebar.

"Buktinya kau masih hidup sekarang?" Tanyaku.

"Itu karena aku menunggu mahluk apapun selain werewolf yang lewat didepan kastilku. Aku tidak bisa berharap dari itu saja kan." Jelasnya lagi, mulai menampakkan wajah kesal.

"Bagaimana jika aku tidak mau? Aku kan bisa pergi dari sini kapanpun" kataku tak mau kalah.

"Nona cerewet, aku tahu kau di reject oleh mate mu, dan walaupun kau seorang manusia, kau sudah pernah masuk ke pack werewolf, sekarang kau adalah seorang rogue. Kau tidak akan bertahan di luar sana, paling tidak kau dibantai oleh warrior pack lain karena melintasi teritori mereka, kecuali..." dia mulai menggantung kata-katanya lagi.

"Kecuali apa?" Ucapku menyerah.

"Kecuali kau berada di bawah perlindunganku, jika aku bisa menutupi aroma rejected shewolf mu, kau bisa aman, sementara." Ucapnya santai.

Caranya mengatakan rejected shewolf membuat hatiku rasanya ditikam belati. Sakit.
"Hmm baiklah, kedengarannya seperti tidak ada pilihan lain. Tapi jangan sampai aku mati kehabisan darah, atau hantuku akan menggentayangimu selamanya." Ucapku sambil menghela napas.

"Itu terdengar menyeramkan nona cerewet. Thank you." Ucapnya lalu melenggang dengan kecepatan abnormal. Dan kembali dengan sepiring steak dan air.

"Aku tidak bisa menemukan apapun selain rusa yang lewat tadi malam, jadi aku memasakkannya untukmu. Kau pasti lapar." Ucapnya sambil tersenyum manis.

"Thanks." Kataku canggung sambil menerima nampan itu.

Lalu aku memakannya dengan lahap, tidak buruk. Bahkan ini sangat lezat.
Setelah menghabiskannya. Aku keluar dari kamar itu dan menuruni tangga, lalu melihat David sedang berdiri menghadap sebuah lukisan dengan bingkai rumit. Lukisan itu menampakkan seorang wanita dan pria yang sedang berdampingan saling merangkul.
Pakaian yang mereka kenakan sangat kuno, seperti era 1800an, namun aku merasa wanita di lukisan mirip dengan manajerku, Louise. Dan si pria sangat mirip dengan David.
"Oh, hey.. jadi kau sudah menghabiskan makananmu. Bagaimana rasanya?" Ucapnya, menyadari kehadiranku.

"Steaknya sangat lezat, untuk seorang vampire kau pintar memasak." Pujiku dengan tulus.

"Sayang sekali aku tidak bisa menikmati masakanku sendiri." Ucapnya terkekeh.

"Siapa itu. Kekasihmu?" Tanyaku, tanpa bisa menepis rasa penasaran.

"Siapa? Dia?" Ucapnya sambil menunjuk lukisan itu.

"Bukan, itu ibuku, dan disebelahnya adalah ayahku. Apa aku semirip dan setua ayahku, sampai kau mengatakan ibuku adalah kekasihku?" Lanjutnya sambil terkekeh.

"Tidak, aku hanya berspekulasi. Karena di tv, vampire hidup abadi, jadi kukira lukisan ini adalah dirimu dari abad yang berbeda." Jawabku sambil mengangkat bahu.

Ia mengamit tanganku dan menuntunku untuk duduk di sofa yang mengarah ke perapian. Dan mulai bercerita.

"Aku berpisah dengan ibuku 85 tahun yang lalu, saat perang berkecamuk di antara keluarga besar kami dan sebuah pack werewolf. Aku tidak tahu apa masalahnya, perang hanya terjadi begitu saja. Lalu semua hancur, kematian dimana-mana. Bodohnya aku kehilangan cincinku yang membuatku tidak kebal matahari. Jadi disinilah aku. Mendekam di dalam kastil. Dan hanya aman keluar saat bulan mati." Kata David sambil terkekeh kembali mengakhiri kisahnya.

Aku terdiam. Cerita David berkecamuk didalam pikiranku begitu pula cerita Martha. Seakan cerita mereka melengkapi versi masing-masing.
Dan seketika aku teringat.

"Kau mengatakan para Beaufort? Apa maksudnya?"
Tanyaku.
"Beaufort adalah marga keluargaku. Dan semua pengikutnya." Ucapnya pelan, namun sorot matanya berubah kelam.

"Lalu?"tanyaku lagi dengan hati-hati.

"Seluruh pengikut musnah. Ayahku, bibiku, kakakku  juga musnah. Yang kuingat hanya ibu yang tertusuk belati tepat di jantungnya. namun aku yakin ibu tidak meninggal karena tubuhnya tidak musnah. Dan aku sendiri." Ucapnya sambil mengalihkan pandangannya kepada lukisan tadi.

"Maafkan aku.. aku tidak bermaksud..." aku belum menyelesaikan kalimat penyesalanku, namun Ia memotongnya dan menggeleng.
"Bukan kau yang memicu perang itu. Jadi bukan salahmu." Aku terdiam canggung, lalu Ia bangkit dan berjalan menuju sebuah ruangan.
Aku baru menyadari Ia melepaskan jubah panjangnya. Menampakkan seorang pria bertubuh tegap atletis dilapisi dengan setelan rompi berwarna gelap.
Demi Batman yang bermain ayunan, kenapa aku sempat-sempatnya memperhatikan macam-macam.
Ia keluar dengan sebuah kotak, dan meletakkannya di meja.
Ia mengeluarkan isi kotak itu, dan menatanya didepanku. Sebuah catur.
"Aku merindukan permainan ini, kau bisa bermain kan?" Tanyanya antusias. Aku tersenyum semangat.

"Tentu saja. Ayo" sahutku dengan antusias.

Moonlight and DarknessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang