VKook.22

2K 163 2
                                        

Jika ada typo yang bertebaran mohon dimaklumi, coment aja ya ntar saya periksa. Dan juga kalo ada yang ngeganjel, call me beybeihh yaa😍😍

So, happy reading👀

*******

"Eomma (ibu) mari aku bantu." Jungkook langsung mengambil alih baskom yang penuh dengan pakaiannya dan juga ibunya.

Jungkook menunduk untuk mengambil cucian itu kemudian ia angkat dan ia peras.

"Nampaknya pria itu (Ji Won) sudah bisa membuatmu melupakan Taehyung, Kook." Jin tersenyum dikala ia menyadari kedekatan Jungkook dengan Ji Won.

Bukannya membalas dengan senyuman malu, Jungkook hanya membalasnya dengan senyuman masam, ia pun menghentikan aktivitas memeras pakaiannya.

Jin mengernyitkan dahinya bingung, kenapa Jungkook tersenyum seperti itu? Apa Jin telah salah bicara hingga menyebabkan mood anaknya menjadi masam?

Jungkook menghembuskan nafasnya pelan.

"Sampai kapanpun aku tidak bisa melupakan Taehyung, eomma." Jungkook tersenyum sekilas, ia pun langsung melanjutkan acaranya yang sempat tertunda tadi.

"Aishh, Kookie-ya. Kau ini masih muda, masih banyak yang menginginkanmu untuk menjadi kekasih mereka. Sampai kapan kau akan terus memikirkan namja yang jelas-jelas sudah meninggalkamu begitu saja dan-."

Jungkook memejamkan matanya dan mengigit bibir bawahnya.

"Cukup eomma, cukup. Aku sudah muak dengan ucapan itu, apa eomma tidak bosan mengatakan kata-kata itu? Bahkan aku saja yang mendengarnya merasa bosan, eomma. Aku bosan hikss." tubuh Jungkook merosot kebawah tepat menghadap lutut ibunya. Bahunya bergetar hebat, bahkan suara sesegukkannya pun terdengar diteling Jin, ibunya.

Jin rasa ada yang tidak beres disini, kenapa Jungkook sangat sensitif sekali mengenai pembicaraan tentang Taehyung?

Jin duduk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anak semata wayangnya itu, dielusnya punggung Jungkook dari samping. Puncak kepala Jungkook juga ia kecup, guna menenangkan mood anaknya yang sedang sensitif ini.

"Menangislah hmm menangislah. Kadang hati seseorang akan merasa lega jika ia menangis." Jin menepuk-nepuk pelan punggung Jungkook, ia sangat tau jika Jungkook menangis berarti hatinya sedang sangat sakit sekarang.

Jungkook akan menangis jika itu menurutnya penting didalam hidupnya saja, selebih itu ia akan mencoba memendam segala rasa sakitnya tanpa ditemani oleh air mata.

"Maafkan aku eomma (ibu), maafkan aku hikss." tangisan Jungkook semakin menjadi, ia meremas pakaian yang sekarang sedang Jin kenakan.

Sebegitu sakitkah diri Jungkook hingga ia menangis sangat kencang di pelukan ibunya?

Jin menopang dagunya dipucuk kepala Jungkook, Jin menitikan setetes air matanya melihat anaknya begini. Ia tau bagaimana rasanya disakiti, ia tau bagaimana rasanya dikhianati, dan Jin juga tau bagaimana rasanya ditinggalkan.

Jin tau semua itu karena kejadian 15 tahun yang lalu, kebahagiaan yang seharusnya ia miliki diambil alih oleh wanita lain. Jin sengaja merahasiakan semuanya dari Jungkook, tunggu waktu yang tepat ia akan memberitahukan alasan yang sebenarnya kenapa ayah Jungkook pergi meninggalkan mereka.

Jin tersenyum lega karena tangisan Jungkook telah reda, hanya menyisahkan segukan yang dialaminya sewaktu menangis tadi.

"Baiklah jika nanti kau sudah benar-benar tenang. Katakan pada eomma ya, apa masalahmu?." Jin mengecup singkat puncak kepala Jungkook setelah itu ia langsung berdiri dan melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda, yaitu menjemur pakaian.

Jungkook menyeka halus air matanya, ia juga heran kenapa akhir-akhir ini ia menjadi cengeng sekali. Apa ini ada hubungannya dengan Taehyung? Wah hebat, namja itu bisa-bisanya membuat Jungkook menjadi seperti ini sekarang.

***

Ting!

Aplikasi pesan di handphone milik Jungkook berdenting, itu artinya ada pesan dari seseorang.

Di jam segini, siapa yang rela mengiriminya pesan? Ya kecuali, si Ji Won. Namja itu gemar sekali mengirimi Jungkook pesan diwaktu tidur ini.

Ting!
Handphone Jungkook berdenting kembali.

Awalnya Jungkook mengendikkan bahunya tanda acuh akan pesan yang masuk di handphonenya. Pasti itu kerjaan si Ji Won, gerutu Jungkook.

Namun, kenapa hanya dua pesan? Jika benar itu Ji Won pasti ia sudah menyepam Jungkook melalui kata-katanya yang membuat Jungkook kehilangan kata-kata.

Jungkook mengambil benda pipih itu diatas nakas samping tempat tidurnya, acara membaca bukunya lantas terganggu. Baiklah, jika pesan itu tidak penting. Jungkook akan mematikan handphonenya.
Jungkook membuka aplikasi pesan kemudian membuka chat dan membaca pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.

07342010***
Emh haii, apa kabar?

Itu pesan pertama dari seseorang yang asing bagi Jungkook.

Kemudian ia membuka pesan yang kedua, betapa shock nya dia ketika membaca nama si pengirim pesan asing tersebut.

07342010***
Ini aku, Yoongi.

Bagai terkena serangan api dari Aang, Jungkook ragu untuk membalasnya.

Disatu sisi ia merindukan Yoongi, tapi disisi lain ia kecewa akan perbuatan Yoongi tempo hari.

Balas,

Tidak,

Balas,

Tidak,

Balas,

Tidak,

Balas,

Jungkook menghembuskan nafas pelan dan,

07342010***
Kabarku baik,

Jungkook menaruh kasar handphonenya diatas nakas, ia menelentangkan tubuhnya diatas ranjang. Dilihatnya langit-langit kamarnya, ia menghembuskan nafas dan bergumam, sahabat yang berkedok pengkhianat.

My EX is a GHOST [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang