#8

1.2K 54 0
                                        

Pagi yang kelewat cerah untuk ukuran musim hujan. Semburat biru keunguan bersaing dengan terangnya sinar matahari masuk lewat jendela menerangi dapur Marva.

"Eh, jadi kemaren tuh si Malika salah nyebut nama?"

Bagas nyaris saja tersedak roti selai cokelat yang tengah dimakannya, "Malika?"

"Iya itu, siapa sih yang kemarin tiba-tiba nyamperin lo di kantin."

"Oh itu, Faza. Kenapa jadi Malika?"

"Karena mirip kedelai hitam berkualitas yang dibesarkan seperti anak sendiri," disusul dengan Marva yang nyengir kuda.

Bagas mendengus sebal, ia sudah mati-matian mencari jawaban, takutnya Marva mengingat nama seseorang lagi namun ia tak tahu itu siapa. Seperti yang sudah-sudah. "Pagi-pagi otak lo udah gak sinkron ya."

"Emang pernah sinkron?" Dan berakhir dengan ledakan tawa Marva yang Bagas bilang terdengar seperti Mak Lampir ketawa pakai toa masjid.

Beginilah rutinitas Marva dan Bagas, duduk di meja makan rumah Marva sambil bicara ngalor-ngidul gak jelas khas Marva. Jangan salah sangka, mereka tidak tinggal satu rumah. Bagas setiap hari datang pukul lima pagi dan pulang setelah makan malam hanya untuk menjaga Marva dari ingatan yang tidak-tidak. Ia mendapat akses khusus dengan memegang duplikat kunci rumah Marva.

Tiba-tiba saja Bagas terdiam, mendadak wajahnya pucat. "Gas?"

Bagas masih diam sambil menggigit bibir bawahnya.

"Gas? Lo gak kemasukan si Piyama kan?"

Si Piyama yang Marva maksud adalah hantu penghuni tangga rumahnya. Marva menamainya si Piyama karena hantu itu hanya berupa piyama melayang.

Lalu Bagas berlari lebih cepat dari Flash, sedetik kemudian terdengar bantingan keras pintu kamar mandi.

"Oh, ada panggilan alam," gumam Marva.

Pandangan Marva jatuh pada jam dinding putih yang terlihat menyatu dengan warna dinding yang senada, pukul enam tepat. Lalu pandangannya beralih ke roti selai coklat Bagas yang belum habis. Cowok kurus yang satu itu tentu akan memilih meninggalkan roti selai coklatnya dengan dalih takut terlambat.

Tanpa disuruh, Marva mengambil salah satu wadah bekal dalam lemari untuk mewadahi roti Bagas. Setelah memasukan roti ke dalam wadah bekal, ia langsung beranjak menuju tas Bagas yang Bagas simpan di sofa ruang tamu.

Marva dibuat mendengus ketika melihat tas Bagas begitu berantakan dengan jersey merah yang tidak terlipat dan sepatu futsal merah berpalet oranye yang dibiarkan menyatu dengan buku dan lain sebagainya.

Daripada mati menunggu Bagas selesai bertapa di kamar mandi, Marva memutuskan untuk merapikan seisi tas Bagas. Ia mengeluarkan jersey merah dan sepatu futsalnya terlebih dahulu, kelihatannya buku-bukunya sudah rapi, mungkin karena Bagas hanya membawa dua buku tulis tanpa nama dan satu LKS Geografi.

Marva duduk sila di lantai dan mulai melipat jersey. Baru saja ia membuka buntalan jersey itu, dahinya langsung berkerut begitu melihat nama dan nomor punggung yang terbordir disitu.

"Ri-val-do?" matanya turun ke nomor punggung dibawahnya, delapan.

Mendadak mata Marva terbelalak, teringat sesuatu. "Rivaldo."

SRTTT

Riuh suara pendukung tim futsal kelas masing-masing memenuhi lapang dan sekitarnya begitu sebuah bola melesat ke gawang disusul dengan seorang laki-laki dengan jersey merah bernomor punggung 8 dan nama Rivaldo berlarian menuju kawan-kawannya di gawang seberang.

"GOOOL, RIVALDO MENAMBAH KEUNGGULAN UNTUK KELAS SEBELAS IPS LIMA!"

Lelaki itu tampak melambai-lambaikan tangannya ke arah teman-teman kelasnya yang berada di lantai dua. Tubuhnya kurus, potongan rambutnya yang mirip dengan Bagas.

SRTTT

Gambar itu.

SRTTT

Jersey itu milik Rivaldo. Lelaki yang Marva gambar. Untuk apa Bagas membawa jersey milik Rivaldo?

"Marva?"

Marva dapat merasakan Bagas yang tengah berjongkok di sebelahnya sambil menatap heran ke arahnya, namun ia malah diam tertunduk dengan tangan masih melipat jersey tadi. Bagas sendiri dapat dengan cepat menyadari bahwa Marva sedang merapikan tasnya dan akan memasukan sisa rotinya yang sudah berada di kotak bekal warna merah. "Udah, Va. Rotinya buat nanti sore aja, pake repot-repot dibekelin sampe beresin tas segala, tapi by the way, makasih, lumayam buat jam kosong."

Marva masih tidak bergeming, membuat Bagas mulai was-was. "Va?"

"Lo bawa jersey Rivaldo buat apa?"

"Buat futsal lah."

Marva mengangkat kepalanya, mata coklat Marva beradu dengan mata Bagas yang tidak kalah coklat. "Katanya lo gak tau siapa Rivaldo, terus kenapa jersey dia ada di lo?"

Dan sekarang Bagas paham siapa Rivaldo yang Marva maksud. Namun ia tetap tidak bisa mengungkap kebenaran sekarang, ini ada sangkut-pautnya dengan masa lalu yang kelam.

"Gue pinjem karena gue gantiin posisi dia di tim kelas, dia gak ikut futsal hari ini," dusta Bagas.

Marva ber-oh ria lalu berdiri meninggalkan Bagas, ia berjalan ke kamarnya. Tak sampai satu menit, ia menghampiri Bagas lagi sambil membawa sketch book ukuran A4 lalu duduk di sebelah Bagas. Ia membuka halaman demi halaman dan berhenti tepat pada gambar seorang Rivaldo yang sedang futsal.

Mata Bagas membulat. Dadanya seperti disengat listrik jutaan volt. Ia tercekat seketika saat melihat gambaran Rivaldo itu. Ia tak mampu berkata-kata lagi.

Rasanya ia ingin mati detik itu juga.

Yang Telah HilangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang