Senin. Hari mengantuk sedunia. Hari malas sedunia. Hari pengen pulang sedunia. Hari Sabtu masih lama ya?
Marva menenggelamkan kepalanya dalam diantara kedua tangannya yang disilangkan, lalu mencoba untuk tidur. Kepalanya masih terasa sakit gara-gara kejadian di cafe tempo hari. Entah mengapa rasanya kejadian itu dibuat-buat. Tetapi atas dasar apa si pelaku melakukan semua itu?
"Si kunyuk tidur lagi?" tanya Natasha yang baru saja menghampiri bangku Marva dan Aiza.
"Au tuh anak, diem mulu kek batu nisan."
Natasha beralih ke sebelah Marva, "woy, batu nisan, bangun, ini masih pagi!"
"Berisik ketombe avatar!" Marva masih enggan memunculkan kepalanya, sehingga ia harus setengah berteriak agar suaranya terdengar.
Terdengar helaan napas Natasha, "Gara-gara kejadian di cafe?"
Pertanyaan Natasha menohok Marva dalam-dalam hingga Marva otomatis mengangkat kepala dan menatap sendu Natasha yang kini duduk di depannya.
Ya memang kejadian di cafe itu mendadak viral. Bahkan hingga televisi swasta pun turut memberitakan kejadian yang nyaris membunuhnya jika saja ia memilih duduk di teras cafe atau di dekat kaca. Rata-rata, berita itu membicarakan tentang pelaku yang begitu mahir membuat jebakan batman semacam itu. Jika Marva boleh menebak, pelakunya telah melakukan itu lebih dari hitungan jari.
Marva membuang napas lalu kembali ke posisi semula. Sedetik kemudian Marva merasakan tangan Aiza yang melingkari bahunya, begitu juga Natasha.
"Pengumuman, panggilan untuk Audindra Rama kelas sebelas ipa delapan ditunggu kehadirannya di ruang BK, terima kasih."
Marva menarik napas panjang lalu membuangnya, ini kesekian kalinya Audindra dipanggil ke ruang BK. Yang Marva dengar, pihak sekolah sedang menyelesaikan masalah ini bersama dengan kepolisian. Marva harap pelakunya cepat tertangkap dan dihukum setimpal dengan kejadian yang tidak bisa dimaafkan itu.
Lima menit kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat kearah Marva yang masih tertunduk.
"Marva, lihat ini!" suara heboh Audindra membuat Marva mengangkat kepala seketika. "Gue dapet rekaman cctv cafe dan beberapa foto barang bukti dari polisi."
Audindra yang tiba-tiba saja sudah di depannya, menyodorkan ponselnya yang memutar sebuah rekaman cctv di area parkiran cafe. Hanya ada tiga motor disana, salah satunya motor Audindra. Marva memperhatikan setiap sudutnya dengan saksama.
Satu menit pertama. Tidak ada gerak-gerik apapun.
Lima menit. Masih tidak ada tanda-tanda.
Sepuluh menit. Tetapi masih saja tidak ada tanda-tanda pelaku melakukan aksinya.
DUAR! Ledakan itu terjadi. Kening Marva berkerut, tidak ada angin tidak ada hujan, motor itu tiba-tiba saja meledak. Rasanya tidak mungkin motor yang diam terjadi korsleting. Lalu bagaimana cara pelaku itu melakukannya tanpa muncul dan menyentuh motor itu?
"Psikopat yang handal, bukan?" ucap Audindra dengan amarah yang terselubung. Sekarang video tengah menampilkan Marva, Audindra, dan orang-orang sekitar yang mengerubungi lokasi. Dan dibelakang kerumunan, muncul seseorang dengan hoodie hitam menutupi kepalanya, orang itu pergi tanpa seorang pun menyadarinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Telah Hilang
Teen Fiction[-] Ketika lupa menjadi jalan terbaik. Ketika permintaan telah terkabul. Ketika takdir tak dapat diubah. Ketika semua tak lagi sama. Ketika luka hati tak dapat disembuhkan. Ketika serpihan hati yang telah hilang datang kembali. Ketika penggalan-pen...
