Valencia Sherina
Nama itu masih terngiang ditelinga Marva. Seseorang bernama Valencia itu menyebutkan asal kelasnya, XI IPA 8, tetapi ia tidak punya teman sekelas bernama Valencia Sherina.
KLIK! Bagas menjentikkan jarinya tepat didepan Marva, sehingga perempuan hitam manis berbadan atletis yang setinggi telinganya itu terlonjak kaget.
"Ngelamun aja, ada apa? Lo inget sesuatu?" tanya Bagas sambil menggantungkan helm pada kaca spion.
"Gas, lo inget cewek namanya Valencia Sherina? Gak tau kenapa gue tiba-tiba aja keinget suara dia gitu kemarin. Di suara itu dia nyebutin kalo dia dari kelas gue, tapi gak ada tuh nama dia dikelas. Terus dia juga bilang kalo dia anak ekskul tari. Katanya anak ekskul tari yang dari jurusan IPA cuma gue, terus, dia siapa?" cerocos Marva tanpa jeda sedetikpun.
Bukannya mendapat jawaban, yang Marva dapatkan hanya Bagas yang sibuk melipat jaket dan memasukannya kedalam bagasi motor.
"Gas, lu denger gue gak sih?" ucap Marva sedikit kesal.
"Eh apa princess, sorry gantian gue yang ngelamun."
"Gak ja-di!" Lalu Marva meninggalkan Bagas yang masih mengunci jok motor di parkiran seberang sekolah.
"Eh si kutu kupret ngambek lagi. Woy! Tungguin gue!"
Bagas mengejar Marva yang sudah berdiri trotoar jalan dan bersiap menyeberang di zebra cross. "Va, sori banget gue tadi ngelamun, lu tadi nanya apaan dah?"
"Udah lupa," jawab Marva singkat tanpa melirik Bagas yang berusaha mensejajarkan langkahnya saat menyeberang.
"Idih, galaknya kambuh."
Mereka memasuki sekolah yang bernuansa hijau muda disetiap sudutnya. Melalui gerbang kecil disamping pos satpam, mereka belok kanan, menaiki tangga ke lantai 2, lalu belok kiri. Disamping kelas X IPA 1, disitulah kelas Bagas, XI IPS 5. Sedangkan kelas Marva masih harus melewati beberapa kelas lagi.
"Ayo gue anter ke kelas."
Seperti biasa, Bagas memang selalu mengantarnya ke kelas. Jaga-jaga bila suatu saat Marva mendadak mengingat sesuatu yang tak seharusnya dia ingat.
"Gak usah, Gas. Gue udah tau kelas gue dimana kok."
"Jangan, ntar lo nyasar lagi ah." Tanpa sadar Bagas memegangi pergelangan tangan Marva yang hendak melangkah menuju kelasnya.
SRTTT. Marva meringis. Ia mengingat sesuatu lagi. Sentuhan tangan Bagas mengingatkannya tentang sesuatu. Tetapi ia tak mampu mengingatnya.
Bagas buru-buru melepaskan pegangannya. Ia tersadar telah melakukan hal yang akan mengingatkan Marva kepada apa yang dulu pernah dia alami.
"Lo gak apa-apa, Va?"
Marva mengangguk. "I'm OK, Gas. Cuma sedikit teringat sesuatu. Tapi gak tau apaan."
Senyum kecut muncul diwajah Bagas. Senyum penuh ketakutan akan segala yang sudah ia sebut masa lalu itu. "Gue anter ya, sampe depan IPS 1."
"Gak usah, Gas. Gue gak apa-apa kok," Marva tersenyum, meyakinkan Bagas.
"Sampe IPS 2 deh."
"No."
"Yaudah deh terserah lo mau sampai mana, asal gue anterin." Bagas menatap Marva dengan tatapan serius.
Marva menghela napas panjang. "Maksa. Yaudah deh."
Terlukis senyum penuh kemenangan di wajah Bagas. "Mau gue anter sampai mana?"
"Sampe depan IPS 5, gimana?"
"Elaaah, kitakan udah di depan IPS 5, Va." Senyum kemenangan Bagas tergantikan oleh senyum kemenangan Marva.
"Kalau gitu, terima kasih udah nganter gue, bye bye! See you pas istirahat, Gas." Marva melambaikan tangan sembari berjalan pelan menuju kelasnya.
"Va–" Ck. Bagas berdecak. Ia sangat takut Marva kembali mengingat kejadian itu. Tetapi semoga saja tidak. Ia juga tetap memperhatikan Marva yang tengah menyeberang ke koridor sebelah karena kelanya tepat di jajaran belakang masjid sekolah.
'Ada-ada aja tuh si Bagas. Dikira gue mau mushafir ke dunia lain aja,' batin Marva.
Sebelum kelas XI IPS 2, terdapat sebuah lorong kecil menuju tempat wudhu perempuan, dari ekor matanya ia dapat menangkap siluet Bagas dalam gelap.
Tunggu, Bagas tadi ada di depan kelasnya, ia tidak mungkin memutari masjid dengan waktu kurang dari 10detik.
Mungkin hanya halusinasi saja. Marva terus berjalan tanpa menghiraukan siluet Bagas tadi.
Setelah 5 langkah dari lorong itu, Marva mendengar langkah kaki, sedangkan ia sedang sendiri di koridor kelas XI.
"Vale."
DEG. SRRTTT.
Memori berkelebat.
SRTTTT.
'Eh, hai.' Suara perempuan menyahut panggilan itu.
SRTTTT.
Lelaki itu hanya terlihat punggungnya saja. Ia berjalan kearah kelas Bagas.
NGINGGGGGG.
Seketika telinganya berdenging. Ia menutup telinganya rapat-rapat tetapi tetap tidak berhasil menghilangkan suara dengingan itu. Kepalanya berat. Pandangannya mulai kabur.
"Ba-gas." Lalu dia ambruk ke lantai.
"MARVAAAAAAAAAA!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Telah Hilang
Teen Fiction[-] Ketika lupa menjadi jalan terbaik. Ketika permintaan telah terkabul. Ketika takdir tak dapat diubah. Ketika semua tak lagi sama. Ketika luka hati tak dapat disembuhkan. Ketika serpihan hati yang telah hilang datang kembali. Ketika penggalan-pen...
