Marva berlari cepat menuju rumahnya. Matahari belum mencapai puncaknya saat itu. Ia berhasil kabur dari sekolah saat gerbang terbuka sedikit. Memang sepertinya hal ini legal karena beberapa siswa juga tampak membubarkan diri, tetapi ada juga yang baru datang.
Kepala Marva penuh dengan ingatan yang tiba-tiba saja bermunculan dalam benaknya seperti proyektor menampilkan sebuah potongan-potongan film. Ia masih tak percaya dengan ingatannya, tentang gambar Rivaldo dan Bagas yang nyatanya betul-betul mirip. Bahkan sama persis.
Apa mungkin Rivaldo itu Bagas?
TIIIINN!
Marva tak dapat menghentikan langkahnya saat tersadar ia tak menoleh kanan-kiri saat menyeberang di sebuah perempatan dan tepat beberapa meter di sebelah kirinya sebuah mobil melaju kencang siap menerjangnya.
Sebuah kejadian dramatis terjadi sepersekian detik setelahnya. Marva terpental sejauh beberapa meter dan ia tak sadarkan diri. Ia tak ditolong siapapun.
Terdasar telah melakukan kesalahan fatal, pengendara mobil itu–yang berseragam SMA juga–turun dan menolong orang yang ia tabrak barusan. Ia menghampiri perempuan yang tak sadarkan diri di ujung jalan. Lelaki berperawakan tentara itu awalnya hendak mengendong perempuan itu, namun sedetik kemudian ia tercekat dan nyaris pingsan ditempat juga saat menyadari itu adalah orang yang dicintainya.
"Marva?"
...
Wangi antiseptic memenuhi ruangan sebelum akhirnya Marva membuka matanya dan tersadar ia tengah berada di sebuah rumah sakit. Ia dibaringkan di kasur putih khas rumah sakit dan sekelilingnya ditutupi gorden berwarna biru muda.
Ada suara langkah terburu-buru ke arahnya, namun berhenti di balik gorden.
"Dia gak apa-apa kan, Dok?"
"Tidak apa-apa, cuma ada beberapa luka kecil, tidak parah, tapi–"
"Tapi apa?"
"Kepalanya terbentur keras tetapi sudah kami tangani."
"Apa ia akan hilang ingatan lagi?"
"Hilang ingatan?"
"Dia hilang ingatan, Dok. Saya takut hal itu terjadi lagi."
"Dia baik-baik saja. Kalau boleh tau, Anda ini keluarga korban?"
"Iya, saya kakaknya."
Dari balik gorden Marva mengernyit, "kakak?" ia berkata nyaris tanpa suara lalu melanjutkan menguping pembicaraan orang di luar sana.
"Siapa namanya? Dan nomor teleponnya untuk dihubungi pihak rumah sakit."
"Nama saya Bastian–"
Marva menutup mulutnya, nama itu membuatnya seketika sesak. Sejak kapan ia memiliki kakak yang namanya sama dengan orang yang ia sukai? Hey, tunggu, bahkan ia tidak mempunyai seorang kakak. Lalu, Bastian?
"Saya boleh masuk ke dalam, Dok?"
"Oh boleh, tentu. Tetapi ia masih belum sadarkan diri."
"Baik terima kasih, Dok."
Dengan cepat Marva berpura-pura memejamkan mata. Terdengar suara langkah kaki masuk dan seseorang duduk di samping ranjangnya. Tangannya mengulur lembut memainkan rambut di puncak kepala Marva.
"Gue sayang lo, tolong jangan pergi lagi."
Rasanya Marva ingin sekali membuka matanya dan melihat siapa Bastian itu.
"Gue nyaris bikin lo mati lagi, Vale."
DEG. Vale?
"Vale, tolong dengerin gue, walaupun ya, lo pasti gak akan denger."
Apa manusia di depannya ini salah orang? Atau memang sebenarnya Marva itu adalah Vale? Jika benar ia adalah Vale, berarti yang disia-siakan Bagas itu–.
"Maaf gue gak bisa membalas perasaan lo. Karena lo adik gue. Dan lo belum tau itu. Tolong jangan marah. Jangan pergi kayak dulu. Gue berlaku kayak gitu bukan berarti gue benci sama lo. Gue cuma ingin lo gak punya perasaan itu sama gue. Gue gak ingin harapan lo hancur tentang perasaan itu saat suatu hari nanti gue jujur tentang ini."
Terdengar helaan panjang. "Gue terpaksa melakukan ini, karena gue gak ingin lo terluka. Tapi nyatanya, lo tetaplah lo, seorang Vale yang mencintai Bastian."
Marva tak tahan ingin membuka matanya dan menghambur dalam pelukan siapapun ia yang bernama Bastian ini.
Sedetik kemudian, sebuah langkah terdengar menjauh. Perlahan, Marva membuka matanya. Terlambat, seseorang yang bernama Bastian itu telah menghilang dibalik gorden.
"Jadi gue adalah Vale?" Marva bertanya pada dirinya sendiri dengan suara lirih, "mengapa Bagas manggil gue dengan nama Marva?"
Tak mau memikirkan lebih lama, ia memejamkan matanya lagi. Lalu tidur dengan perasaan bingung luar biasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Yang Telah Hilang
Novela Juvenil[-] Ketika lupa menjadi jalan terbaik. Ketika permintaan telah terkabul. Ketika takdir tak dapat diubah. Ketika semua tak lagi sama. Ketika luka hati tak dapat disembuhkan. Ketika serpihan hati yang telah hilang datang kembali. Ketika penggalan-pen...
