Dengan hati yang riang, Ninda menunggu kehadiran Raffa di depan teras rumahnya. Gadis itu mengenakan seragam putih abu-abu, lengkap dengan atributnya serta sepatu sekolah berwarna hitam. Dan jam tangan berwarna hijau tosca yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sekarang, jam 06.15" kata gadis itu yang memandangi jarum jam di pergelangan tangannya.
"Jangan sampe telat ya Raff" harap Ninda.
Lelaki yang bertubuh tinggi itu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Penampilan Raffa kali ini lebih rapih dari pada penampilan dihari sebelumnya. 10 menit berlalu, akhirnya lelaki itu berhenti di depan rumah berwarna putih tulang "Akhirnya" ucap gadis itu dengan semangat, dan langsung menghampiri Raffa.
"Ayo" ajak Ninda.
Namun, Raffa terlebih dahulu melepaskan helmnya. "Kenapa di lepas?" tanya gadis itu dengan raut wajahnya yang kebingungan.
Namun, Raffa malah terfokus dengan katung mata Ninda yang terlihat agak berwarna hitam "Itu, kenapa begitu? Semalem tidur jam berapa?" tanya Raffa yang menunjuk kantung mata Ninda sehingga membuat gadis itu mengaca di kaca spion motor Raffa "Yailah, liat aja lo. Gue tidur jam 11".
Raffa mengerutkan dahinya "Tidur nya malem banget. Emang semalem abis jadi pembantu dimana?" ledek Raffa yang diakhiri dengan tawa, sehingga membuat Raffa menunjuk giginya yang sangat rapih.
Ninda mengerucutkan bibirnya "Iya, semalem gue abis ngejar deadline nyuci piring di hotel" balasnya yang berupa gurauan.
"Wah, lo nyuci piring di hotel atau ngapain?!" balas Raffa yang mendapat pelototan dari Ninda.
Gadis itu memukul Raffa dengan pelan "Gue cuma bercanda! Jangan di bawa serius! Pagi-pagi itu seharusnya bikin orang seneng, bukan bikin orang marah" jelas Ninda yang ekspresi wajahnya terlihat begitu menggemaskan, sehingga membuat Raffa tertawa puas dan menyubit pipi Ninda "Lucu banget sih. Nih senyum nih, senyum" lanjut Raffa yang masih saja tertawa dan menarik kedua pipi Ninda, agar gadis itu tersenyum.
"Sakit!" lirih Ninda yang memukul lengan Raffa. Namun, Raffa masih saja tertawa.
Ninda terdiam ketika melihat ekspresi Raffa yang hari ini terlihat begitu bahagia "Gigi nya bagus" puji Ninda yang menunjuk gigi Raffa, sehingga membuat lelaki itu merasa bangga "Yaiyalah, emang nya gigi lo" ledek lagi Raffa dengan sombongnya dan membuat Ninda memutarkan bola matanya.
Ninda membelalakan matanya "Sumpah Raff, lo nyolot banget" ujarnya.
Raffa mengacak Rambut Ninda yang sudah di ikat dengan rapih "Rambut lo bagus" ucapnya, yang justru membuat Ninda merasa risih "Jangan di gituin! Nanti berantakan! Seneng banget sih ngeliat orang menderita!" balas Ninda yang kembali merapihkan rambutnya.
"Berangkat sekarang yuk, nanti malah telat lagi" ajak Raffa.
"Lagi, lagi! Yang sering telat kan lo bukan gue" balas Ninda yang sangat sinis.
Raffa berdecak pelan "Ck, Iya sayang. Aku yang sering telat" ucapnya yang mengalah.
"Hah?! Gak salah denger? Coba ulang, tadi ngomong apa?" pinta Ninda yang mendekatkam telinganya pada mulut Raffa.
Lelaki itu terkekeh "Iya, Aku yang sering telat" ucapnya.
"Sebelum kata 'aku' ada kata apa tadi?" tanya lagi Ninda.
"Ada kata 'iya' " jawab Raffa yang masih saja tertawa kecil.
Ninda memukul pelan bahu Raffa "Ih, tadi itu sebelumnya ada kata 'sayang'. Kok 'sayang' nya malah di ilangin sih" ujarnya.
"Kenapa sih mukul-mukul terus?! Kalo gemes tuh bilang" ledek Raffa.
Ninda kembali menatap jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 06.35 "Ih, udah ayo berangkat. Lo sih, ngomong mulu. Nanti kita telat! Gue gak mau telat! Kalo gue telat, nanti salah lo ya!" kata Ninda dengan cepat. Dan menaiki motor Raffa begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who's My Prince? He or Him?
Teen FictionBerawal dari kisah Cinta di SMA Pelita Bangsa. Menceritakan seorang gadis bernama Ninda Alifia yang tidak terlalu terkenal di sekolahnya,polos,sederhana, Ramah,Humoris,Friendly namun agak cuek pada 1 pria,dan tidak pernah berpacaran. Adnan Rifa...
